Antang dan Orkestra Kemacetan di Pinggiran Kota Makassar

oleh -250 kali dilihat
Antang dan Orkestra Kemacetan di Pinggiran Kota Makassar
Suasana di wilayah Antang Makassar di siang hari - Foto/Ist
Wahyuddin Junus

Klikhijau.com Antang di pagi hari, laju kendaraan bergerak seperti seorang Lelaki: selalu waspada, tapi sesekali perilaku jantan tampil menonjolkan dirinya.

Belum lagi parade klakson saling bersahutan dan menyebar acak. Pagi yang seharusnya penuh optimisme bisa saja membuyarkan rencana yang disematkan sejak tadi malam.

Demi menanti jadwal pulang anak sekolah, saya menepi dan singgah di salah satu warkop dalam deretan ruko jalan antang raya pagi itu. Setelah memesan secangkir kopi, saya berkesempatan ngobrol ringan dengan seorang juru parkir yang setia di tempat tersebut.

Nama Antang dan jejak kenangan yang menyertainya

“Dulu Antang belum ramai seperti sekarang ini, boscu,” ucap Daeng Jafar. “Kalo dulu orang takut-takut lewat sini. Kalo jam 10 malam, tidak adami yang berani lewat,” urainya.

Menurutnya, beberapa  lokasi menjadi area pekuburan dan areanya lebih banyak hutan dan dipenuhi semak belukar, menjadi alasan ‘keangkeran wilayah ini.  Belum lagi wilayah pemukiman bagi penduduk yang menetap di sini masih terbilang minim.

Cerita ini sejalan dengan apa yang dituliskan Daeng Ipul lewat blognya DaengGassing.com saat mulai menetap tahun 1982 di sini. “EROKNA TONG ANTU NYAWANU AMMANTANG ANRINNI,” menjadi kisah pengingat memorinya, saat salah seorang keluarga berkunjung ke rumah kami di malam hari.

KLIK INI:  Makassar Zona Merah Bencana Ekologis

Dalam bahasa Makassar, kalimat itu kira-kira berarti: kenapa kalian sampai hati tinggal di tempat seperti ini. Kenangan itu dituliskan lewat “Antang dan Kenangan yang Menggenang”.

Kurang lebih sejak tahun 90-an, beberapa lokasi pemukiman mulai dibangun. Termasuk Kawasan pemukiman yang bernama Perumnas Antang. Di atas lahan dulunya ditumbuhi nipah-nipah menjadi kawasan area pemukiman Aspol, bersebelahan dengan Bukit Baruga yang dulunya menjadi lokasi pemotongan hewan di daerah Antang.

Lebih jauh saya coba menelusuhi asal nama Antang. Dalam beberapa artikel diartikan sebagai tempat tinggal atau yang dalam. Asal muasal Antang yang dulunya bernama Kampung Antang, didapati sungai atau semacam danau yang dikenal dengan nama “Balang Tonjong” dan juga terdapat persawahan.

Balang Tonjong hingga saat ini masih teramati, dengan tujuan area pemancingan meski mengalami pendangkalan dari waktu ke waktu.

Jika saja area ini dilakukan normalisasi, maka laju debit air ketika musim hujan tiba, Balang Tonjong bisa dipenuhi air yang cukup dalam. Sebagaimana tercipta kedalaman dalam memaknai Antang.

Dan kedalamamnya itu orang Makassar menyebutnya “Lantang atau Dalam”. Dari cikal bakal nama Lantang kemudian diabadikan menjadi penamaan Kampung Antang, dalam rentang waktu kemudian menjadi nama kelurahan Antang.

KLIK INI:  Prolog Fest, Festival Musik Pertama di Kota Daeng Semenjak Pandemi Covid-19

Jejak Makam Lo’mo Riantang menjadi penanda lain dari nama Antang. Nama Kelurahan Antang diambil dari nama seorang Tokoh Agama Islam (ulama) yang di gelar Lo’mo. Tempat tinggal beliau dikenal dengan nama”Pammantanganna Lo’mo ka yang di singkat Lo’mo ka Riantang”.

Dari tempat tersebut juga didapati Makam atau Pekuburan Lo’mo Riantang yang dijadikan situs atau tempat yang bersejarah. Dari rangkaian sejarah di atas, maka masyarakat setempat mengenal nama Kampung Antang yang sekarang ini di sebut Kelurahan Antang.

Kini wilayah Antang perlahan mulai disesaki sejumlah masalah. Dari pengelolaan sampah, banjir yang menjadi langganan, hingga kemacetan, menjadi potret keseharian bagi warga Antang. Sejak akhir tahun 2019, saya bersama keluarga menetap di wilayah ini.

Setiap hari dalam rutinitas antar jemput anak sekolah, mau tidak mau saya harus melalui jalan ini. Jalan Antang Raya. Drama kemacetan adalah drama kesempitan ruang  bagi laju kendaraan telah menjadi menu harian.

Drama kemacetan dalam 3 fase waktu

Derap laju dan lalu kendaraan yang menyemut di sini dapat dibagi dalam 3 fase waktu. Pertama, pukul 7 pagi hingga pukul 10. Jelang pukul 10, lajur arah kota padat. Sementara lajur ke arah perumnas perlahan mulai lengang.

Kedua, antara pukul 11.00 hingga pukul 14.00 kembali laju kendaraan merayap. Kondisi siang hari, mobilitas anak pulang dari sekolah ditambah truk-truk pengangkut batu dan pasir menambah sesak jalan.

KLIK INI:  Mengintip Penerapan Jalur Hijau Sepeda di Makassar

Ketiga, waktu pukul 16.00 sampai pukul 19.00 wita. Waktu ini menjadi biang kemacetan saat pulang dari kerja di kantor. Pemandangan truk-truk kembali mewarnai jalan. Ditambah keberadaan truk pengangkut sampah menuju TPAS Tamangapa, untuk aktivitas pembongkaran.

Meski beberapa kendaraan kerap  memutuskan balik arah, demi menghindari kemacetan dan kesempitan waktu. Namun jelajah kesempitan ruang dengan nanar mengungkap apa yang hilang oleh waktu.

Potret kemacetan juga terganbar di depan pasar Antang. Setiap melewati jalan ini, saya harus mengatur ritme tekanan gas dan menginjak rem. Meski kadang tersendat oleh kubangan yang rusak. Seringkali menjadi kubangan air saat hujan.

Jalanan yang sempit dan volume kendaraan yang padat menjadi antrean panjang. Ditambah kemacetan terjadi akibat Jalan Antang Raya rusak parah di beberapa titik. Sesuatu yang khas dan sulit dihindarkan saat menemui jalan ini.

Orang-orang hanya bisa mengadu pada angin untuk selalu membalun saat pikiran membeku. Ia bisa saja menghela nafas panjang, saat melalui makam yang ditemui sepanjang Jalan Antang Raya.

Perlintasan jalan sepanjang satu kilometer sewaktu-waktu menjadi jebakan antrean kendaraan yang mengular sekitar 700 meter.  Drama yang tercipta seolah mengeja aksara dan tenung hidup. Ada nasib dipertaruhkan, yang diam-diam menjelma dalam secangkir kopi pagi untuk penguasa.

KLIK INI:  Walhi Sulsel Beri ‘PR’ 6 Catatan Perbaikan Lingkungan Untuk Walikota Makassar