Kantong Plastik Bukan Tempat Sampah, Maka Gunakan dengan Bijak

oleh -1,147 kali dilihat
Hari Ini, DKI Jakarta Resmi Larang Kantong Plastik, Ini 7 Fakta di Baliknya!
Ilustrasi kantong plastik - Foto/Tokopedia
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Banyak orang menjadikanmu tempat sampah. Kau dianggap simpel dan bisa menyimpan sampah sebelum digeletakkan di pinggir jalan atau tempat sampah.

Hargamu yang  murah, membuat orang menyukaimu. Kamu juga menawarkan kemudahan bagi penggunamu. Hal itu cukup memikat dan memukau.

Namun, di balik tawaran murah meriah dan mudah itu. Kau menyimpan banyak masalah bagi lingkungan.  Awal lahirmu memang  solusi. Iya, solusi agar pohon tidak ludes ditebangi untuk membuat kertas.

Kau disambut suka cita saat pertama lahir. Serupa seorang musisi yang baru saja menyanyikan lagu pamungkasnya. Kau disambut tepuk tangan dan decak kagum.

KLIK INI:  7 Negara dengan Predikat Terbaik Pendaur Ulang Sampah

Namun, waktu bergerak sangat gesit. Kau digemari semua orang, karenanya kau sangat laku terjual. Maka mulailah kau dibenci, dianggap biang kerok kerusakan lingkungan.

Apalagi kau cukup bandel, tak mudah takluk oleh tanah, air dan bahkan api hanya membuatmu meleleh lalu kembali mengeras batu.

Semua negara resah akan hadirmu. Orang-orang menamaimu kantong plastik. Kau hanyalah salah satu bagian dari plastik. Banyak daerah di Indoseia telah melarangmu beredar. Sebab sangat membahayakan lingkungan—tempatmu berasal.

Meski dilarang kau tetap dicari, tetap dibutuhkan oleh mereka yang terlanjur kau buat nyaman dan jatuh cinta.

Manfaatmu cukup banyak sebenarnya, kau bisa jadi pembungkus dan pelindung apa saja dari hujan. Kau bisa jadi pembungkus makanan, baju hingga dijadikan tempat sampah.

Padahal kau bukan tempat sampah, bukan. Dan seharusnya hadirmu tidak perlu meresahkan jika saja di manfaatkan dengan bijak.

Begini saja, masyarakat harusnya mendengan wejangan dari Tiza Mafira. Ia  dari Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik.

KLIK INI:  Tanpa Disadari, Pakaian Kita Mencemari Lautan

Tiza memberi kiat cara memanfaatkanmu, khususnya yang ada di rumah-rumah warga agar kau dimanfaatkan untuk memberikan dampak baik bagi lingkungan.

Pakai berulang-ulang

“Pakai ulang sebanyak mungkin, tapi jangan untuk kantong sampah karena itu hanya dipakai dua kali, saat membeli, lalu ketika membuang barang,” kata Tiza dalam webinar “Zero Waste! Cara Asyik Kelola Sampah di Rumah pada Masa Pandemi”, Sabtu, 31 Oktober 2020 seperti dikutip dari Antara.

Tiza, seperti kebanyakan orang yang menganggapmu ancaman. Dan itu memang  benar,  kau  bandel, sulit terturai dan awet. Sifatmu itu pula yang membuka peluang  bagimu untuk digunakan berulang-ulang.

Oya, orang-orang di kampung saya, Kindang telah memanfaatkanmu seperti saran Tiza. Kau menjadi barang yang harus disimpan untuk digunakan berulang-ulang kali sebelum jatuh ke lingkungan dan mencemarinya.

Kau  bisanya dibawa untuk berbelanja ke warung terdekat, atau memanfaatkanmu sebagai pembungkus barang atau makanan jika warga ke kebun.

KLIK INI:  Daerah Pendukung Konservasi akan Dapat Insentif Fiskal?

“Untuk menampung sampah (dengan plastik) itu tidak tepat, jadi tidak usah pakai kemasan.” Saran Tiza.

Agar kau tetap bisa digunakan berulang –ulang. Tidak terbuang hanya sekali pakai saja lalu tergeletak sepi di lingkungan dan jadi bahan yang mencemari. Maka menurut Tiza  sampah harus dibagi  menjadi dua bagian, termasuk kamu di dalamnya, yakni sampah basah (organik) dan sampah kering seperti plastik, kaleng, hingga kaca.

“Sampah basah dan sampah kering itu tidak jodoh, jangan sampai mereka tercampur, kalau sempat tercampur sebentar saja sudah saling mencemari satu sama lain.”

Langkah penting lainnya adalah mengurangi produksi sampah, khususnya memproduksimu. Sebab jika kau tidak berhenti diproduksi, lingkungan ini bisa saja dipenuhi olehmu.

Dan itu sangat membahayakn kesehatan manusia, tanah bahkan air. Karena itu, masyarakat harus bijak menggunakanmu.  Setidaknya tidak lagi menjadikanmu tempat sampah untuk menampung sampah yang lain di dalam rahimmu.

KLIK INI:  Polusi Udara Tingkatkan Risiko Dimensia, Begini Penjelasannya!