Monolog Sebatang Pohon

Rahim Bumi   Sajak-sajak berjatuhan ke dalam jiwa. Merimbun bagai semak yang senantiasa menghidu embun. Semak yang mencintaiku dan mencintaimu juga, konon katanya. Lewat pagi, ia ingin me...

Monolog Sebatang Pohon
Bacakan Artikel

Rahim Bumi


 

Sajak-sajak berjatuhan ke dalam jiwa. Merimbun bagai semak yang senantiasa menghidu embun.
Semak yang mencintaiku dan mencintaimu juga, konon katanya.

Lewat pagi, ia ingin merengkuh kita di kedua lengannya
Lima puluh sajak dalam buku mahar lebih mendekat kepada bumi kita

Seakan-akan untuk pertama kalinya di jantung musim panas, kesunyian bergemuruh di antara pepohonan
Selaras dengan bahasa yang mengumandangakan perang dan nyanyian.

Dan ya, tentu saja di sana, aku mengenal dan mengekalkanmu sebagaimana pengembara tersesat di tanah tandus

Lalu aku ingin dirimu seluruhnya untukku, menerobos pohon kehidupan.
Rahim bumi atau tunas apapun yang tumbuhkan cinta, berkali-kali

Rumah mungil, Agustus 2024

Monolog Sebatang Pohon


Kepada: Ang

Berkali-kali penolakan tidak lantas membuat akarku melemah, Ang.
Kau harus tahu seberapa keras getir tubuhku menahan angin kencang, kemarau panjang yang kian jadi, maupun derasnya hujan, telah menjadi saksi kunci.

Aku ingin memberimu pisau kecil, Ang. Kau bisa memakainya untuk menyayatku, menuliskan namamu biar abadi sepanjang hayatku, atau memotong tubuh keringku agar tangan usilku tak lagi melempari orang yang berlalu-lalang di bawah sana.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2