Monolog Sebatang Pohon

Rahim Bumi   Sajak-sajak berjatuhan ke dalam jiwa. Merimbun bagai semak yang senantiasa menghidu embun. Semak yang mencintaiku dan mencintaimu juga, konon katanya. Lewat pagi, ia ingin me...

Monolog Sebatang Pohon
Bacakan Artikel

Sejujurnya, Ang, aku pecinta senjata klasik. Dan kutahu kau pasti tak tertarik dengan semua itu. Ada satu hal yang senantiasa ingin kulakukan padamu. Kejahatan kecil semisal mengecup keningmu atau meremas tangan mungilmu.

Aku pun ingin menyembunyikan segala jenis gergaji dari tubuhmu dan tubuhku.
Sebab beberapa peristiwa masa lampau jika kuceritakan sekarang akan membuatmu merinding.

Pernah suatu hari, Ang. Ada gadis seusiaku, memainkan gergaji listrik dan memotong lengan temannya sendiri di depan mataku.

Temannya tak selamat, namun aku selamat dan menjadi satu-satunya saksi. Bukankah perih untuk bertahan hidup tanpa bisa berkata dan bercakap-cakap kepada siapapun? Bahkan sekedar untuk mengadu(h) nasib.

Kelak pisau kecil pemberianku pun akan kusembunyikan dari tanganmu.

Kau jangan tanya kenapa dan mengapa.
Aku mencintaimu, dalam garis-garis tangan dan gurat kehidupan 7 generasi jika memang ada, betapa besar rasa yang tak mungkin kuungkap, namun adakah penerimaan utuh bagiku yang hanya sebatang pohon?

Rumah mungil, Agustus 2024


Gemericik Air Mata


 

Senyummu desau angin, padaku yang selembar daun di musim dingin.

Berhembus kamu
Gemetar aku

Memelukmu ingin;
menggigil jatuh, jauh ke dunia yang lain.

2.
Gemericik air mata jadi mata air mengalir di wajah batu-batu pualam
Cericit burung bercengkerama, suara binatang bersahutan gemanya menjadi nyanyian alam.

Seorang kelana di atas kayu terduduk muram
Nyala api meredup dari matanya. Segenggam harapan ditabur sepanjang perjalanan.

Entah siapa dapat mencari dari kehilangan jejak (le)luhur, yang lebur dalam pergantian musim.

Agustus 2024

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2