Mewaspadai Dampak Buruk dari Rasa Kesepian

oleh -24 kali dilihat
Ilustrasi kesepian/foto-IDNtimes

Klikhijau.com – Kesepian telah diprediksi bakal meningkat, bahkan sebelum pandemi Covid-19 datang melanda dunia.

Peningkatan kesepian itu telah diperingatkan jauh hari oleh banyak pemimpin dunia. Sialnya, kesepian itu diprediksi bakal melanda semua kategori umur. Dan hal tersebut dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat yang utama.

Pernah ada penelitian yang menunjukkan jika kesepian lebih dari sekadar perasaan. Namun, hal tersebut  benar-benar dapat memiliki dampak kesehatan yang signifikan.

Lebih mengkhawatirkan lagi, karena telah dikaitkan dengan risiko demensia, penyakit Alzheimer, penyakit jantung, atau stroke yang lebih tinggi.

KLIK INI:  Memotret, Cara Tak Biasa Menjaga Kesehatan Mental

Beberapa ilmuwan bahkan mengklaim bahwa efeknya sebanding dengan efek merokok atau obesitas.

Sekarang, tim peneliti yang dipimpin oleh King’s College London (KCL) telah menjelaskan mengapa orang merasa kesepian, terutama di usia lanjut, dan apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasinya.

Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Perspectives on Psychological Science. Samia Akhter-Khan, penulis utama studi tersebut mengatakan, kesendirian dihasilkan dari perbedaan antara hubungan sosial yang diharapkan dan yang sebenarnya.

“Masalah yang kami identifikasi dalam penelitian saat ini adalah bahwa kami belum benar-benar memikirkan. Apa yang orang harapkan dari hubungan mereka? Kami bekerja dengan definisi ekspektasi ini. Tetapi kami tidak benar-benar mengidentifikasi apa ekspektasi itu dan bagaimana ekspektasi tersebut berubah lintas budaya atau selama masa hidup,” ungkap mahasiswa pascasarjana di Layanan Kesehatan dan Penelitian Kependudukan di KCL itu.

KLIK INI:  Masker Mencegah Anda Tertular Virus Flu, Benarkah?
Perlu penelitian lanjutan

Menurut Akhter-Khan dan rekan-rekannya, orang yang lebih tua mungkin memiliki ekspektasi hubungan tertentu yang sebagian besar diabaikan. Misalnya, mereka ingin dihormati, dan mengharapkan orang untuk mendengarkan mereka, menaruh minat pada pengalaman mereka, belajar dari kesalahan mereka, dan menghargai apa yang telah mereka lalui dan banyak kendala yang perlu mereka atasi.

Selain itu, mereka juga ingin berkontribusi dengan memberikan kembali kepada orang lain dan komunitas mereka dan mewariskan tradisi atau keterampilan melalui pengajaran dan pendampingan, pengasuhan, kerelawanan, atau kegiatan bermakna lainnya.

KLIK INI:  Tidur Siang dapat Meningkatkan Kesehatan Mental, Ini Alasannya!

Dengan demikian, menemukan cara untuk memenuhi harapan ini bisa sangat membantu dalam memerangi kesepian di kemudian hari. Sayangnya, skala reguler untuk mengukur kesepian sebagian besar telah mengabaikannya, terutama karena tenaga kerja dan kontribusi orang tua tidak diperhitungkan dalam indeks ekonomi tipikal.

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengklarifikasi mengapa orang merasa kesepian pada waktu yang berbeda dalam hidup mereka. Demi mengatasi pandemi kesepian yang dihadapi umat manusia saat ini.

KLIK INI:  Terus Diusut, Penyakit Misterius di Jeneponto Masih Serba Dugaan

Sumber: Earth