Meneguk Puisi Harijadi S Hartowardojo “Lereng Senja” yang Disesaki Diksi Alam

Klikhijau.com – Lereng Senja, puisi itu dimuat dalam buku Gema Tanah Air, Prosa dan Puisi 2 yang disusun oleh H.B. Jassin. Buku itu terbit pertama kali pada tahun 1948. Buku tersebut memuat banyak...

Meneguk Puisi Harijadi S Hartowardojo “Lereng Senja” yang Disesaki Diksi Alam
Bacakan Artikel

Datang malam purnama
Segala bisa indah mengada
Dan di atas batu tengah teratai Lelaki menanti kail ditelan ikan lupa bahaya

Semalam suntuk ikan dan manusia asyik berbalasan
Dan teratai membuka diri
Pagi-pagi burung telah terkurung
Dalam sangkar lebar berkisi-kisi
Terpatah-patah sayap dipukul jerajak
Melihat tangan mengulur cumbu
Dan secubit gula dan segenggam padi
Penjinak burung liar ke tangan memberi

Dan bila nanti pintu dibiarkan membuka
Tiada ia tahu lagi
Matahari, mega dan langit biru
Pelepasan: gelisah dan maut juga menanti
Cumbu ini sesederhana lagu kehilangan nada
Naik suara, naik mendaki dari taraf ke taraf
Laki dan perempuan yang tinggal di pinggir telaga
Menuju ke laut, ke laut lepas.

[irp]

IV

Seorang ibu sudah kembali dari
Perantauannya yang panjang, menjejak malam
Di pangkuanku anak bayi gila menangis
Tergila-gila menetek jarinya
Kelembutan yang datang dari kelembutan
Hati dengan hati dipadu mengerti
Tumbuh dalam kekuasaan
Dibakar api tungku yang menyala
Untuk damai, damai di dada!

Rumah kini dihidupi jerit, tawa dan nyanyi
di balik tabir, hati selalu dibasahi –
Bayi melonjak mau nyandar pada pipi bapa
Tangan halus mungil
Memeluk leher sekuat bisa
Didekap ke dada Kekosongan merajalela
Kapas ditiup angin hilang tuju

- Bapa, ibu mana, bapa?
Nak ingin lalai di dada yang panas sayang
Pulang bercanda dengan kereta dan gerobak
Boneka dan kuda Lena, bapa, untuk lena.
- Sayang, kecilku, sayang Lenakan payahmu dicekung pipiku
Kudukung lela memeluk leherku
Esok hari ombak gila menantimu
Membuka layar, menyeberang.

- Turunkan aku, lepaskan
Kudengar suara ibu menyusup memanggilku
Bapa, di mana ibu kasihku, bapa,
Sudah kubuka daun pintu dan jendela
Aku menyuruk ke kolong meja dan tempat tidur kita
Suara itu tinggal menggema
Hilang dan tiba
Hilang dan tiba
Ibu tiada dengan panas kasih dadanya madu mengalir dari bibirnya.
Bapa!
-Kecil, ayam berkokok tidak kau dengar
Kuncup-kuncup mulai mekar
Matahari berkaca embun di ujung daun
Sebentar turun, kecil
Kupu-kupu bercumbu bunga
Lebah mendengung meramaikan hari
Serta burung-burung menyanyikan lagu untukmu
Lena, lena kecilku!

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: