Mata Kunang-kunang

oleh -97 kali dilihat
Kunang-kunang
Kunang-kunang/foto-fireflyexperience.org
Irhyl R Makkatutu

Malam tiba. Kamu terbaring di sampingnya. Lagu Bugis terus mengalun. Terus mengalun. Menampar-nampar sepi. Meramu malam lebih eksotis.

Di luar gerimis sedang menyusun rencana mengantar gigil. Daun cengkeh menari-nari riang diterpa sepoi. Jendela dibiarkan saja terbuka. Ia ingin mengajakmu melihat kunang-kunang lewat jendela. Namun, pancaran  cahaya lampu dari teras meredupkan cahaya makhluk berkelap-kelip itu.

“Padamkan saja lampu!” pintamu.

“Kenapa?” tanyanya sambil menatap keluar setelah berpindah dari menatap matamu.

“Astaga, cahaya lampu merampas cahaya kunang-kunang,”

KLIK INI:  Mencicipi Eksotisme Puisi-Puisi Pablo Neruda yang Bernuansa Alam

“Dari mana kamu tahu?”

“Dari artikel,” jawabmu.

Ia ingin matamu saja

Ia bergerak ke dekat tiang tengah rumah, di mana saklar lampu bertengger manja. Tapi ia urung menekannya. Ia terpaku saat melihat gerimis tampak aduhai dalam terpaan cahaya lampu. Dan daun cengkeh menari-nari riang. Tatapannya lalu beralih ke matamu.

Ia lupa perihal kunang-kunang ketika menatap matamu, Asalna.

Padahal waktu kecil, sebelum lampu menyusup masuk ke kampung. Ketika malam masih diterangi pelita dengan bahan bakar minyak tanah. Kunang-kunang sangat mudah terlihat dari jendela rumahnya. Beterbangan indah di celah-celah daun cengkeh.

Jika malam tiba dan hujan tidak bertamu. Ia bersama tiga saudaranya senang beternak kunang-kunang. Menangkapnya, lalu memasukkannya ke buli-buli ‘botol kecil’.

Kunang-kunang itu akan diletakkan di dekat kepalanya ketika tidur. Menjadi penerangnya dalam kelambu kain yang tebal. Menjadi teman tidurnya yang setia.

Lalu, tahun bergerak liar, seliar usianya yang ditemukan puber pertama. Lampu PLN masuk. Keriangan membuncah di matanya dan mata-anak seusianya.

KLIK INI:  Bercocok Cinta di Gelombang

Sebab ada hiburan lain yang kini menanti. Sebuah kotak segi empat yang akan menampilkan gambar-gambar bergerak.

Dan itu terbukti, tidak lama setelah PLN masuk, dan panen cengkeh usia. Orang-orang di kampungnya berlomba membeli TV dan parabola. Jadilah hiburan menangkap kunang-kunang berpindah ke ruang tamu. Berpindah ke dalam kotak segi empat itu.

Mata orang mati

Ritus menangkap kunang-kunang pun tiada. Kunang-kunang, adalah makhluk kecil yang mistis. Ia selalu dianggap sebagai mata orang mati.

Hingga ia beranjak ke usia nikah, ritus menangkap kunang-kunang tidak pernah lagi dilakukannya. Meski kerap rindu menusuk-nusuk.

Hingga suatu hari yang basah, saat hujan lupa tiris. Kamu datang ke kampungnya. Tinggal di rumahnya, dan mata warga membusur curiga—seorang gadis datang ke rumah lelaki bujang yang tinggal sendiri.

Kedatanganmu hanya satu tujuan, ingin melihat kunang-kunang. Maka mulailah ia kembali memerhatikan makhluk kecil indah itu. Namun, tidak lagi mudah menemukannya.

Kunang-kunang menyukai tempat gelap dan sepi. Sekarang sekitaran rumahnya riuh kendaraan bermotor dan suara musik.

Apalagi pohon-pohon yang dulunya rindang, tempat kunang-kunang biasa menari telah berubah jadi kursi, rumah panggung, lemari, sofa, spring bed hingga rak buku. Jadinya, tempat berumah kunang-kunang dirampas dengan lembut dan kejam.

“Lahadi, kenapa tidak dipadamkan lampunya?” tegurmu.

KLIK INI:  Menyesap 7 Puisi Beraroma Kopi dari M Yulanmar

Ia hanya terpaku menatap matamu yang membelalak kepadanya. Ia membayangkan kunang-kunang berumah di sana—pada matamu.

“Ayo padamkan, aku ingin lihat kunang-kunang,” teriakmu. Suaramu sedikit meninggi.

Ia hanya tetap terpaku. Tidak juga menekan saklar lampu itu. Tatapannya kembali beralih dari matamu ke gerimis yang mengagumkan di luar rumah dari jendela.

“Kemarilah!” ajaknya.

“Untuk?” Tanyamu

“Ke sini saja, kita menatapi gerimis,”

“Aku tidak suka gerimis, aku tidak ingin melihatnya. Aku hanya ingin melihat kunang-kunang,” katamu tegas.

Ia terlihat geram karena tidak kamu hiraukan. Ia melangkah ke ruang dapur. Mengambil pisau dapur yang sore tadi diasah tajam.

Lalu, ia mencungkil matanya. Kamu berteriak histeris. Tetangga berhamburan datang. Ia melempar matanya ke padamu. “Di sana kunang-kunang telah berumah. Di mataku. Simpanlah!” pintanya.

Orang-orang yang datang terdiam—menutup mulutnya. Mata curiga menerkam ke arahmu. Matamu melotot, gerimis berhamburan keluar bercampur darah dari matanya.

KLIK INI:  Memeluk Bumi di Sebatang Porang