Lelaki Pinisi dan Sepotong Senja

oleh -134 kali dilihat
Meneguk Puisi Harijadi S Hartowardojo “Lereng Senja” yang Disesaki Diksi Alam
Ilustrasi senja-foto/Pixabay
Ilham Aidil
Latest posts by Ilham Aidil (see all)

Klikhijau.com -Sudah menjadi ritual di pagi hari Sula ketika bangun tidur adalah menuju dapur dan membuat secangkir kopi Arabica dan duduk menikmatinya sesapan demi sesapan di meja mini bar yang baru dipasang beberapa hari yang lalu. Ia sangat menyukai suasana rumah bernuansa modern dengan sentuhan desain interior kekinian. Rumahnya minimalis.

Beberapa hari ini Sula sangat disibukkan dengan pekerjaan kantor dan kuliah. Akhir pekan baiknya di rumah saja, kata Sula. Lelaki yang kini genap berusia tiga puluh dua tahun itu. Tidak lagi khawatir tentang wanita seperti apa yang ingin mendampinginya. Menikah baginya bukan lagi prioritas untuk saat ini. Bukan karena tidak ingin menikah hanya saja ia belum siap dan belum menemukan orang yang tepat meskipun usianya sudah matang, berkecukupan dan mapan. Rasio perceraian begitu tinggi dan ia mengingat pengalaman teman sebayanya, bahtera pernikahannya banyak yang kandas di tengah jalan menjadi alasan mengapa Sula masih sendiri.  Bukan karena tidak laku atau kaku. Hanya saja ia menjalaninya sebagai pandangan hidup. Tidak ingin terburu-buru.

Sebagai lulusan Sastra Inggris, ia senang membaca buku-buku berbahasa Inggris. Bukan berarti tidak menyukai buku Bahasa Indonesia. Hanya saja membaca buku berbahasa Inggris akan menambah perbendaharaan katanya. Selain membaca Ia lebih suka menyendiri di kafe; membaca buku dan menulis, sebuah upaya mengalihkan pikirannya dari pekerjaan kantor yang bejibun dan hal-hal lain dalam hidup yang dirasanya rumit dan tidak menentu.

KLIK INI:  Hutan Senja
***

Ia membuka jendela dan melihat suasana di luar. Udara begitu lembab dan dingin. Dihirupnya aroma tanah yang basah dan dipandanginya bunga-bunga yang mekar. Udara membawa kesegaran dan keharuman khas pedesaan. Pohon-pohon berkembang dan menghijau disentuh oleh hujan semalam. Titik-titik air bergantungan pada pucuk-pucuk daun. Angin bertiup menerobos pepohonan jati dan kelapa, daun-daunnya berayun-ayun membuat titik-titik air berjatuhan. Sula menyukai duduk di teras rumah dan meneguk kopi hitam sambil memandangi hijau daun.  

Libur lebaran memberikan kesempatan bagi Sula untuk mudik ke kampung halamannya di Tanah Beru, mengenali akar, asal muasal dimana ia memulai segalanya, bertumbuh dan memulai masa kecilnya sebelum masa dewasa banyak mengubah pikirannya. Lebih kompleks dan rumit.  Tetapi bagaimanapun, sejauh apapun, dan selama apapun kampung halaman tetaplah rumah untuknya kembali pulang.

Sula bersemangat mengikuti ritme hidup yang baru terlepas dari pikiran pekerjaan. Tidak perlu tergesa-gesa seperti hidup di kota besar. Pagi-pagi ia memilih mengunjungi pantai Lemo-Lemo, pantai yang tersembunyi dan sunyi. Tidak banyak pengunjung. Ia dirikan tenda di tepi pantai. Lalu berenang di pantai bergradasi biru hijau dan menikmati pasir putih di sana. Ia rayakan masa kecilnya yang telah lama pergi.

Berjam-jam lamanya ia di pantai. Tiada yang hilang, tiada yang pergi, Sulalah yang telah lama membelakangi laut dan menjauh.  Ketika puas menyelami laut, ia  hendak memanggang ikan di tempat pembakaran dari bebatuan. Kayu bakar diambil dari ranting pohon kering yang berserakan di tanah. Ia tumpuk kayu bakar dan memanggang ikan. Secangkir kopi menambah suasana meriah bagi Sula.

KLIK INI:  Wanita dalam Cangkang

Di tepi Pantai itu, ia memulai sebuah catatan yang ditandainya dengan aroma pantai dan seorang wanita yang memeluk senja. Pandangannya terpaku pada wanita yang memakai kacamata photocromic. Ia mengenakan baju kaos putih yang tipis dan memakai topi pantai duduk memandangi sepotong senja.  Sula sebagai lelaki pada umumnya mengukur wanita dengan jenaka dan nakal.

Diam-diam Sula memotret gambar wanita itu dari belakang dengan pencahayaan sempurna dengan latar senja. Sula tidak ingin menumbuhkan harapan hanya sebatas mengagumi ciptaan Tuhan yang Maha Esa. Sula tidak ingin menafsirkan cinta sebagai sebuah pandangan sufistik secara berlebihan, sebagaimana penyair-penyair yang lahir dari pengalaman cinta yang terluka. Menikmati khayalan sebagai ekstase cinta yang semu. Tanpa memiliki dan merayakan kehilangan sebagai sebuah kebahagiaan. Dan lahirlah puisi-puisi sunyi. Ia tidak ingin berakhir seperti itu.

***

Di suatu kafe pinggiran pantai seorang kawan masa kecil mengajaknya bertemu. Sula datang lebih dulu. Sembari menunggu, ia pandangi dua tiga kapal nelayan melintas di tengah laut yang tengah berombak di bawah sapuan gerimis. Mereka hendak mencari ikan di laut. Akhirnya kawan masa kecilnya datang, Luka. Ia datang tetapi tidak sendirian. Ia datang bersama seorang perempuan, mungkin kekasihnya.

Mereka bersalaman. Maksudnya Sula dan Luka. Luka memperkenalkan kekasihnya.

“Rianti.” Rianti mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan ke Sula sambil tersenyum. Kulitnya putih. Sula terperangah sebab wanita yang ada di depannya adalah ia yang dapati di pantai lemo-lemo yang lalu. Meski begitu Sula tidak ingin bersalaman lagi kepada mereka yang bukan mahram. Entah karena alasan pribadi atau pertimbangan agama.

“Sula.” Sambil menyatukan kedua tangannya sebagai tanda perkenalan.

KLIK INI:  Kepada Pohon Pinus Itu

Sula dan Luka sudah lama berteman dari SD hingga SMA, mereka bercakap-cakap tentang masa kecil, masa sekolah dan apa saja setelah lama tidak bertemu. Sebagai seorang aktivis lingkungan Luka banyak bercerita tentang pengalamannya selama berorganisasi, tahun lalu ia masuk dalam tim pemenangan salah satu paslon calon Bupati.

Menurutnya daerah ini dengan segala potensi yang dimilikinya mesti dipimpin oleh orang yang tepat. Kepemimpinan kali ini lebih banyak membangun usaha pribadi dan tidak berdampak ke masyarakat. Hanya saja paslon yang ia dukung gagal. Andai menang ia bisa mendapat posisi strategis dalam kepemimpinan sang paslon.

Rianti lebih banyak diam memandangi HP dan tidak diikutkan dalam perbincangan. Kelihatan bosan sekali. Tampak sekali ia tidak senang dengan Luka yang mengacuhkannya dan tidak melibatkannya dalam perbincangan. Tetapi di lain kesempatan Sula dan Rianti mencuri pandang satu sama lain.  Rianti seperti terkesima dengan pemikiran Sula yang cemerlang.

Setelah hampir sejam bercerita, Luka dan Rianti pamit.

KLIK INI:  Pohon Ludah
***

Beberapa hari setelahnya Sula datang kembali di kafe yang sama dan di sana ia dapati perempuan muda yang duduk sendirian menyeruput jus apel sembari menikmati laut yang membentang luas, Rianti.

“Hei,” sapa Sula mengagetkan.

“Rianti kan?”

Rianti menoleh dan tersenyum.

“Iya,”

“Sendirian?”

“Iya”

“Luka dimana?”

“Sedang ada urusan.” Jawabnya seperti menyembunyikan sesuatu. Udara dari luar terasa begitu liar. Angin kencang bertiup dari pantai. Kalau dilihat dari dekat wajah Rianti mirip seperti orang Jepang. Mata sipitnya tersembunyi di balik kacamata. Mereka berbincang seperti orang yang sudah lama saling kenal. Mereka berbincang seperti mengisyaratkan sebuah perasaan. Keduanya merasa memiliki kesamaan. Saling memahami dengan kata-kata yang tidak terucap. Rianti sementara menyusun tesis untuk penyelesaian S2 nya di bidang linguistik. Sama seperti Sula hanya beda kampus saja. Tidak butuh waktu yang lama bagi Sula untuk menyelami perasaannya kepada Rianti dan begitupun sebaliknya.  Ilmu semiotika dan pragmatik bekerja dengan baik. Mereka sama-sama memahaminya dan tidak perlu menunggu lama. Semoga ini tidak mengganggumu, tetapi…

“Maukah kamu hidup bersamaku?”

KLIK INI:  Mengenang Ajip Rosidi dalam 9 Puisinya yang Bercerita tentang Alam

Rianti seperti terenyuh dan tidak kuasa menolak perasaannya yang telah membadai. Perasaannya begitu kuat. Layarnya sudah terkembang dan ia harap kemudi itu dijalankan oleh lelaki yang kini ada di hadapannya, lelaki pinisi, Sula.

“Iya.” Rianti meneteskan air mata bahagia.

“Bagaimana dengan Luka?” lanjut Rianti.

Rianti tidak tahu bagaimana perasaan Luka jika mengetahui ini. Ia lebih menaruh kepercayaan kepada Sula yang lebih mengerti tentang laut dan kapal dibanding Luka yang hanya pandai berputar-putar di pinggiran laut. Luka tidak pandai mengembangkan layar dan menarik kemudi.  Bersama Luka tidak pernah ia benar-benar bahagia. Ia merasa kesepian. Seperti tidak dianggap. Hadirnya Sula mengubah segalanya. Sula tanamkan keyakinan yang tidak ia temukan pada sosok Luka.

“Kita arungi sama-sama.” Sula menggenggam tangan Rianti erat-erat, sementara Rianti melihat kesiapan menghadapi apa pun di wajah Sula. Hatinya bergetar seperti riak air dan mulai saat ini ia mempercayakan segalanya pada Sula.

“Bawa saya berlayar ke mana pun kamu akan pergi, Sula!”

KLIK INI:  Mata Sulida