Lelaki Pinisi dan Sepotong Senja

Klikhijau.com -Sudah menjadi ritual di pagi hari Sula ketika bangun tidur adalah menuju dapur dan membuat secangkir kopi Arabica dan duduk menikmatinya sesapan demi sesapan di meja mini bar yang baru...

Lelaki Pinisi dan Sepotong Senja
Bacakan Artikel
Ilham Aidil

Pengajar PIBA UIN Alauddin Makassar

Ilham Aidil

Artikel terbaru dari Ilham Aidil (lihat semua)

Klikhijau.com -Sudah menjadi ritual di pagi hari Sula ketika bangun tidur adalah menuju dapur dan membuat secangkir kopi Arabica dan duduk menikmatinya sesapan demi sesapan di meja mini bar yang baru dipasang beberapa hari yang lalu. Ia sangat menyukai suasana rumah bernuansa modern dengan sentuhan desain interior kekinian. Rumahnya minimalis.

Beberapa hari ini Sula sangat disibukkan dengan pekerjaan kantor dan kuliah. Akhir pekan baiknya di rumah saja, kata Sula. Lelaki yang kini genap berusia tiga puluh dua tahun itu. Tidak lagi khawatir tentang wanita seperti apa yang ingin mendampinginya. Menikah baginya bukan lagi prioritas untuk saat ini. Bukan karena tidak ingin menikah hanya saja ia belum siap dan belum menemukan orang yang tepat meskipun usianya sudah matang, berkecukupan dan mapan. Rasio perceraian begitu tinggi dan ia mengingat pengalaman teman sebayanya, bahtera pernikahannya banyak yang kandas di tengah jalan menjadi alasan mengapa Sula masih sendiri.  Bukan karena tidak laku atau kaku. Hanya saja ia menjalaninya sebagai pandangan hidup. Tidak ingin terburu-buru.

Sebagai lulusan Sastra Inggris, ia senang membaca buku-buku berbahasa Inggris. Bukan berarti tidak menyukai buku Bahasa Indonesia. Hanya saja membaca buku berbahasa Inggris akan menambah perbendaharaan katanya. Selain membaca Ia lebih suka menyendiri di kafe; membaca buku dan menulis, sebuah upaya mengalihkan pikirannya dari pekerjaan kantor yang bejibun dan hal-hal lain dalam hidup yang dirasanya rumit dan tidak menentu.

***

Ia membuka jendela dan melihat suasana di luar. Udara begitu lembab dan dingin. Dihirupnya aroma tanah yang basah dan dipandanginya bunga-bunga yang mekar. Udara membawa kesegaran dan keharuman khas pedesaan. Pohon-pohon berkembang dan menghijau disentuh oleh hujan semalam. Titik-titik air bergantungan pada pucuk-pucuk daun. Angin bertiup menerobos pepohonan jati dan kelapa, daun-daunnya berayun-ayun membuat titik-titik air berjatuhan. Sula menyukai duduk di teras rumah dan meneguk kopi hitam sambil memandangi hijau daun.  

Libur lebaran memberikan kesempatan bagi Sula untuk mudik ke kampung halamannya di Tanah Beru, mengenali akar, asal muasal dimana ia memulai segalanya, bertumbuh dan memulai masa kecilnya sebelum masa dewasa banyak mengubah pikirannya. Lebih kompleks dan rumit.  Tetapi bagaimanapun, sejauh apapun, dan selama apapun kampung halaman tetaplah rumah untuknya kembali pulang.

Sula bersemangat mengikuti ritme hidup yang baru terlepas dari pikiran pekerjaan. Tidak perlu tergesa-gesa seperti hidup di kota besar. Pagi-pagi ia memilih mengunjungi pantai Lemo-Lemo, pantai yang tersembunyi dan sunyi. Tidak banyak pengunjung. Ia dirikan tenda di tepi pantai. Lalu berenang di pantai bergradasi biru hijau dan menikmati pasir putih di sana. Ia rayakan masa kecilnya yang telah lama pergi.

Berjam-jam lamanya ia di pantai. Tiada yang hilang, tiada yang pergi, Sulalah yang telah lama membelakangi laut dan menjauh.  Ketika puas menyelami laut, ia  hendak memanggang ikan di tempat pembakaran dari bebatuan. Kayu bakar diambil dari ranting pohon kering yang berserakan di tanah. Ia tumpuk kayu bakar dan memanggang ikan. Secangkir kopi menambah suasana meriah bagi Sula.

Di tepi Pantai itu, ia memulai sebuah catatan yang ditandainya dengan aroma pantai dan seorang wanita yang memeluk senja. Pandangannya terpaku pada wanita yang memakai kacamata photocromic. Ia mengenakan baju kaos putih yang tipis dan memakai topi pantai duduk memandangi sepotong senja.  Sula sebagai lelaki pada umumnya mengukur wanita dengan jenaka dan nakal.

Diam-diam Sula memotret gambar wanita itu dari belakang dengan pencahayaan sempurna dengan latar senja. Sula tidak ingin menumbuhkan harapan hanya sebatas mengagumi ciptaan Tuhan yang Maha Esa. Sula tidak ingin menafsirkan cinta sebagai sebuah pandangan sufistik secara berlebihan, sebagaimana penyair-penyair yang lahir dari pengalaman cinta yang terluka. Menikmati khayalan sebagai ekstase cinta yang semu. Tanpa memiliki dan merayakan kehilangan sebagai sebuah kebahagiaan. Dan lahirlah puisi-puisi sunyi. Ia tidak ingin berakhir seperti itu.

***

Di suatu kafe pinggiran pantai seorang kawan masa kecil mengajaknya bertemu. Sula datang lebih dulu. Sembari menunggu, ia pandangi dua tiga kapal nelayan melintas di tengah laut yang tengah berombak di bawah sapuan gerimis. Mereka hendak mencari ikan di laut. Akhirnya kawan masa kecilnya datang, Luka. Ia datang tetapi tidak sendirian. Ia datang bersama seorang perempuan, mungkin kekasihnya.

Mereka bersalaman. Maksudnya Sula dan Luka. Luka memperkenalkan kekasihnya.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2