- Memetik 7 Manfaat Jalan Kaki 30 Menit Setiap Hari - 14/02/2026
- 3 Alasan Rasional Mengapa Kita Mencintai Alam - 13/02/2026
- Pemilik 24 Ekor Satwa Liar Dilindungi di ManadoResmi Jadi Tersangka - 13/02/2026
Klikhijau.com – Sebuah video berdurasi singkat di Instagram @kemenhut memperlihatkan seekor Tarsius (Tarsius fuscus) beserta bayinya.
Unggahan video tersebut mendapat ribuan sambutan dari warganet. Hingga tulisan ini dituliskan, unggahannya telah disukai 4.033, direpost sebanyak 8 kali, dibagikan sebanyak 4 kali, dan dikomentari 6 orang.
Tarsius merupakan primata terkecil di dunia yang sebagian besar hanya ditemukan di Indonesia, khususnya tanah Sulawesi.
Jika sahabat hijau ingin melihatnya, bisa mengunjungi Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung di Kabupaten Maros Sulawesi Selatan.
Unggahan video tersebut merupakan rekaman dari kelahiran Tarsius. Itu bisa dibaca dari caption-nya,
“Seekor bayi Tarsius Makassar (Tarsius fuscus) kembali lahir di Kandang Semi-Alami berukuran 24 x 18 x 6 meter di Suaka Tarsius Makassar (Sanctuary Tarsius fuscus), Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung pada Sabtu, 7 Februari 2026.
Ia diberi nama TARO, menandai kelahiran keenam yang berhasil tercatat di kandang. Peristiwa kelahiran di kandang pertama kalinya oleh Balai Penelitian Kehutanan Makassar pada 2012.
Lahir dalam kondisi sehat, berbulu lengkap, bermata terbuka, dan sudah aktif memanjat, TARO menunjukkan karakter khas bayi tarsius yang precocial. Induknya, TARI, tampak sigap merawat dan menyusui dengan perilaku maternal (perilaku keibuan) alami yang penuh perhatian”.
Tarsius merupakan salah satu kekayaan hayati Indonesia. Satwa endemik Sulawesi ini dikenal sebagai primata nokturnal. Mereka sangat mungil, berat badannya hanya 50–100 gram, mata besar tidak proporsional dibandingkan ukuran tubuhnya, serta kemampuan memutar kepala hingga 180 derajat.
Secara biologis dan perilaku, tarsius hidup secara monogami dalam kelompok kecil, biasanya hanya terdiri dari induk jantan dan betina serta anak-anaknya. Habitat alaminya mencakup hutan sekunder, rumpun bambu, hingga kebun di sekitar rumah yang berdekatan dengan hutan.
Menurut pakar Ekologi Satwa Liar IPB University, Dr Abdul Haris Mustari, Indonesia merupakan pusat biodiversitas tarsius dunia. Menurutnya, konservasi habitat alami tarsius menjadi kunci utama menjaga kelestarian spesies langka ini.
“Dari lima belas spesies tarsius di dunia, empat belas berada di Indonesia, dan tiga belas di antaranya ditemukan di Sulawesi. Ini artinya, Sulawesi adalah pusat keanekaragaman hayati tarsius global,” ungkap dosen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata ini.
Hanya saja, saat ini, ancaman populasi tarsius semakin nyata. Deforestasi akibat pertambangan, kebakaran hutan, dan alih fungsi lahan menjadi penyebab utama menurunnya habitat alami spesies ini.
“Deforestasi berarti mengubah hutan menjadi bukan hutan. Ditambah fragmentasi hutan akibat aktivitas manusia membuat habitat tarsius terpecah dan tidak utuh,” jelasnya dikutip dari lama IPB.
Karenanya, kelahiran tarsius yang diberi nama Taro di Suaka Tarsius Makassar TN Bantimurung Bulusaraung patut disambut gembira dan rasa syukur.








