Kekeringan Membuka Gerbang Konflik Antara Manusia dan Satwa Liar Semakin Menganga

oleh -12 kali dilihat
Perihal Orang Pertama Dipenjara 30 Tahun karena Perburuan Satwa Liar
Gajah/foto-DW

Klikhijau.com – Kekeringan hanyalah satu di antara banyak dampak yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Namun, dampak kekeringan bisa “mengeringkan” pula rasa keamanan dan kenyamanan.

Kenapa bisa demikian? Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advance mengungkapkan bahwa karena kekeringan, konflik satwa liar dengan manusia akan semakin intens.

Misalnya yang terjadi di California, menurut analisis terbaru, untuk setiap inci penurunan curah hujan tahunan selama tahun-tahun kekeringan,  laporan konflik dengan karnivora meningkat sekitar dua hingga tiga persen.

Perubahan iklim akan meningkatkan interaksi manusia-satwa liar , dan seiring dengan meningkatnya kekeringan dan kebakaran hutan, kita harus merencanakan cara untuk hidup berdampingan dengan satwa liar,” kata Kendall Calhoun, penulis utama studi yang juga peneliti pascadoktoral dan ahli ekologi konservasi yang berafiliasi dengan UCLA dan UC Davis .

KLIK INI:  Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Kesehatan Anak?

Calhoun juga mengungkapkan, hewan yang masuk ke wilayah manusia umumnya dibingkai sebagai satwa liar yang mencoba mengambil sumber daya dari manusia, tetapi seringkali hal ini terjadi karena kita telah mengambil sumber daya tersebut dari wilayah liar.

Perubahan iklim akan menyebabkan lebih banyak konflik

Dilansir dari Earth,  untuk melacak bagaimana intensitas kekeringan memengaruhi konflik manusia dengan satwa liar. Para peneliti menggali basis data Pelaporan Insiden Satwa Liar California Department of Fish and Wildlife (CDFW).

Peneliti menemukan bahwa kekeringan berefek di berbagai spesies. Bahkan setiap kali hujan tahunan berkurang 1 inci, konflik yang dilaporkan meningkat sekitar 2,1% untuk singa gunung , 2,2% untuk koyote, 2,6% untuk beruang hitam, dan 3% untuk kucing hutan.

KLIK INI:  Tafsir Hujan

Perubahan-perubahan tersebut terjadi selama tahun-tahun kering dan menandakan pergeseran yang lebih luas dalam cara satwa liar bergerak. Ketika makanan dan air alami menipis, hewan-hewan mulai menjelajahi pinggiran kota.

Hewan-hewan itu tertarik pada alat penyiram, sampah, makanan hewan peliharaan, pohon buah-buahan, dan kolam hias yang menyediakan kalori dan kelembapan dengan mudah.

“Itulah pertanyaan besarnya, dan seringkali bergantung pada orang yang melaporkannya. Jika ada burung di area pertanian, mereka bisa saja menyediakan jasa ekosistem seperti memakan serangga berbahaya, atau bisa juga merusak tanaman,” ujar Calhoun.

KLIK INI:  Melihat Lebih Dekat Fungsi dan Tugas serta Susunan Organisasi KLHK

Basis data yang digunakan dalam studi ini tidak mencakup serangan terhadap manusia, yang jarang terjadi dan dilacak secara terpisah. Fokus di sini adalah jenis gesekan yang umum terjadi tetapi merugikan.

Konflik tersebut mencakup kebun buah matang yang diludeskan, kandang ayam yang dibobol, dinding luar yang robek karena cakaran hewan  atau halaman belakang yang berantakan setelah mengacak-acak tempat penyimpanan yang tidak aman di malam hari.

Meski begitu, lebih lanjut Calhoun menjelaskan bahwa tidak jelas apakah jumlah laporan meningkat karena secara subjektif terdapat lebih banyak konflik, atau karena orang-orang memandang satwa liar lebih negatif ketika sumber daya mereka sendiri lebih tertekan.

KLIK INI:  Cahaya Buatan, Dapat Mengacaukan Kehidupan Dunia satwa

“Bagaimanapun, jelas bahwa perubahan iklim akan menyebabkan lebih banyak konflik antara manusia dan hewan jika kita tidak menciptakan lanskap yang lebih tangguh terhadap iklim bagi satwa liar,” katanya.

Studi ini tidak hanya mendiagnosis masalah, tetapi juga menunjukkan solusi praktis. Di musim kemarau, “zona aman” ekologis yang andal menyediakan makanan dan air dapat mencegah satwa liar masuk lebih dalam ke kota.

Yang perlu dilakukan

Hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko konflik antara manusia dan satwa liar adalah restorasi daerah aliran sungai (DAS), penanaman tanaman asli yang tahan kekeringan, sumber air yang ramah satwa liar jauh dari pemukiman penduduk, dan perlindungan koridor hijau yang lebih baik membantu menambatkan hewan di tempat yang kecil kemungkinannya untuk bertabrakan dengan manusia.

“Sekarang setelah kita tahu bagaimana kekeringan memperburuk interaksi dengan satwa liar, mengapa kita tidak bisa memperbaikinya?” kata Calhoun. “Mengurangi jumlah air yang kita ambil dari lanskap alam dapat mengurangi konflik.”

KLIK INI:  Dana Desa Bisa Digunakan untuk Program Penurunan Emisi, Begini Caranya

Di properti pribadi, tindakan yang masuk akal akan membawa perubahan nyata. Mengunci tempat sampah dan mengamankan kandang ayam dapat mengurangi penggerebekan di malam hari.

Menghilangkan atraktan, menambahkan pagar listrik bila diperlukan, dan mengelola fitur air semakin mengurangi kemungkinan satwa liar berkeliaran di dalamnya.

Penelitian Calhoun yang lebih luas berpusat pada kebakaran besar, kekuatan lain yang didorong oleh iklim yang membentuk kembali pergerakan hewan.

“Saya mencari cara untuk meningkatkan interaksi manusia-satwa liar, dan perubahan iklim akan membuat upaya tersebut semakin sulit. Namun,  kalau kita bisa memperburuknya, kita juga bisa memperbaikinya. Masyarakat hanya perlu berinvestasi di lingkungan lokal mereka agar konservasi berhasil,” tutup Calhoun.

KLIK INI:  HKAN 2021, Thomas Nifinluri: Anak Muda harus Mengambil Peran dalam Aksi Konservasi