Klikhijau Bekali Mahasiswa Magang Sosiologi UNM Perihal Perubahan Iklim

oleh -86 kali dilihat
Klikhijau Bekali Mahasiswa Magang Sosiologi UNM Perihal Perubahan Iklim
Nurhaji dari Litbang Klikhijau memantik materi perihal Krisis Iklim - Foto: Ist

Klikhijau.com – Dua Mahasiswa dari Program Studi Sosiologi Universitas Negeri Makassar (UNM) yang sedang mengikuti Program Magang Kampus Merdeka Belajar (MBKM) Mandiri diberi pembekalan perihal pemahaman dasar perubahan iklim dari Klikhijau di Makassar (11/9).

Dua mahasiswa tersebut adalah Maulan Istigfary dan Muh. Noer Faiz. Keduanya memilih Klikhijau sebagai tempat magang karena ingin belajar dan mendapatkan pengalaman lebih dalam perihal sosiologi lingkungan.

Pembekalan ini merupakan bagian awal dari persiapan mengikuti sejumlah rangkaian kegiatan bersama Klikhijau selama empat bulan ke depan. Pemahaman tentang krisis iklim dilakukan agar mahasiswa memiliki pemahaman terkait permasalahan krisis iklim, kaitannya dengan aktivitas manusia. Termasuk memetakan upaya-upaya kolaborasi mendorong aksi pemulihan lingkungan.

Pembekalan materi dipantik oleh Nurhaji Madjid dari Tim Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Klikhijau. Tidak hanya membahas perihal eskalasi perubahan iklim saat ini, Nurhaji juga mengetengahkan bagaimana dampak perubahan iklim terhadap pertanian.

“Rantai masalah ini dimulai dari gangguan produksi. Pola hujan yang tidak menentu, kenaikan suhu, serta merebaknya hama dan penyakit baru secara langsung menekan produktivitas lahan. Akibatnya, risiko gagal panen pun meningkat. Ketika produksi turun, pasokan komoditas pangan nasional berkurang, yang kemudian mengancam stabilitas ketahanan pangan kita,” jelas Nurhaji.

KLIK INI:  Bulukumba Osoji Club, Komunitas Lingkungan yang Lahir di Sebuah Rumah Baca

Nurhaji menegaskan bahwa praktik pertanian yang tidak ramah lingkungan telah berkontribusi terhadap laju perubahan iklim. Ia membahas pentingnya pemanfaatan pengetahuan-pengetahuan mengelola pertanian yang lebih bijaksana, antara lain dengan pengurangan penggunaan pupuk kimia.

“Saat ini bumi sedang mengalami gangguan siklus karbon yang memicu peningkatan emisi CO2e. pada saat yang sama serapan karbon di alam juga menurun. Hal ini memicu krisis iklim dan pemanasan global yang pada ujungnya menggangu pertanian seperti kelangkaan air, hama dan lainnya,” jelasnya.

Ke depan, pemahaman teoritik mengenai karbon dan krisis iklim akan diimplementasikan melalui praktik-praktik pengelolaan bahan organik. Ini adalah solusi sederhana yang bisa dikembangkan untuk mengatasi krisis iklim, terutama yang berkaitan dengan pengelolaan limbah.

“Kita akan membuat pelatihan lapangan membuat kompos secara tepat, asam amino, hingga pembuatan biochar atau arang hayati,” pungkas Nurhaji.

KLIK INI:  Pusat Kajian Rekayasa Sumber Daya Air Unhas Resmi Terbentuk