Kawasan Konservasi Semakin Memikat untuk Dikunjungi

oleh -79 kali dilihat
Menjaga Kawasan Konservasi SM Kateri dengan Konsep 3 Pilar Keseimbangan
Kawasan Konservasi SM Kateri/foto- lensareportase

Klikhijau.com – Theodore Roosevelt adalah orang pertama yang memperkenalkan istilah konservasi. Tepatnya pada tahun 1902 silam.

Dalam perkembangannya, istilah ini mulai menyebar dan melahirkan banyak hal baru. Salah satunya adalah kawasan konservasi.

Kawasan konservasi sendiri menurut buku Pengelolaan Kawasan Konservasi (2020) adalah suatu kawasan atau wilayah yang telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai kawasan yang wajib dilindungi agar kondisi kawasan tersebut tetap lestari.

Saat ini kawasan konservasi telah menjadi daya tarik untuk dikunjungi. Kunjungan wisatawan semakin tahun semakin meningkat.

KLIK INI:  Permandian Bravo 45 Bulukumba dan Lelaki Misterius Bernama Suma'

Pada tahun 2022 lalu, misalnya kunjungan wisata alam ke kawasan konservasi tercatat sebanyak total 5,29 juta orang.

Jumlah tersebut terdiri atas 5,1 juta wisatawan domestik dan 189 ribu wisatawan mancanegara.

“Kondisi ini lebih tinggi atau meningkat hampir 2 kali lipat dibandingkan dengan data pada tahun 2021, dimana kunjungan wisatawan domestik 2,9 juta dan wisatawan mancanegara 12 ribu,” ujar Menteri LHK Siti Nurbaya di Jakarta, Jumat, 13 Januari 2023.

Berdasarkan jumlah kunjungan wisata alam tersebut, telah menghasilkan nilai PNBP dari pungutan masuk obyek wisata alam sebesar Rp. 96,7 miliar pada tahun 2022 dan sebesar Rp. 34,2 miliar pada tahun 2021.

Lebih lanjut, Menteri Siti menyampaikan jumlah kunjungan diprediksi akan terus meningkat dimasa mendatang. Hal ini seiring dengan pengembangan obyek wisata alam, serta penerapan teknologi informasi sebagai media pemasaran/promosi serta kemudahan pelayanan melalui system E-Ticketing.

“Sistem ini juga sebagai upaya untuk penerapan pembatasan pengunjung atau kuota pengunjung, yang ditetapkan berdasarkan hasil analisis daya dukung daya tampung kawasan konservasi untuk menjaga aspek konservasi alam,” katanya.

KLIK INI:  Selamat Menantikan Kota Ramah Lingkungan di Indonesia
Memberikan multiplier effect

Selain memberikan kontribusi berupa PNBP kepada negara, Menteri Siti mengatakan pemanfaatan jasa lingkungan wisata alam juga memberikan multiplier effect kepada masyarakat.

Dari sisi serapan tenaga kerja, kegiatan wisata alam di kawasan konservasi telah memberikan lapangan kerja untuk setidaknya 4.000 orang. Mereka terdaftar sebagai tenaga kerja para pemegang perijinan berusaha di kawasan konservasi.

Disamping itu, kegiatan wisata alam di kawasan konservasi juga telah menyediakan lapangan pekerjaan untuk masyarakat sebagai penyedia jasa makanan dan minuman, pemandu wisata dan penyedia cinderamata. Hingga Desember 2022, masyarakat yang terlibat dalam kegiatan tersebut meningkat lebih dari 100% dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Sebagai contoh, pada kurun waktu 2021 dan 2022 di Taman Nasional Rinjani terdapat peningkatan pelaku wisata alam yaitu tour operator yang melakukan usahanya meningkat dari 70 menjadi 109, guide meningkat dari 794 menjadi 3.907, porter dari 1.841 menjadi 11.577.

KLIK INI:  Begini Cara Capung Menangkap Mangsa di Udara Menurut Peneliti!

Nilai kemanfaatan kegiatan wisata alam di kawasan konservasi turut memberikan dampak ekonomi. Contohnya wisata alam di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).

Berdasarkan hasil survey pada bulan Oktober 2021, pada saat berlangsung PPKM level 4, secara umum nilai kemanfaatan TNGGP di sektor wisata memberikan potensi pendapatan kotor (omset) sekitar 173 ribu/orang/hari, dan pendapatan bersih (laba bersih) sekitar Rp. 134.000/orang/hari. Nilai ini dihitung terhadap semua jenis kegiatan wisata alam.

Contoh lainnya dapat dilihat dari kegiatan wisata alam di Taman Wisata Alam Gunung Tunak. Melalui kegiatan wisata alam di TWA Gunung Tunak. Masyarakat Tunak Besopoq yang terlibat pada kegiatan wisata mendapatkan omset pada Juli 2022 sebesar Rp.471 juta atau 11 kali lebih besar dari PNBP kegiatan wisata alam.

Nilai ini dihitung terhadap jenis kegiatan penyediaan makanan dan minuman, pemandu wisata, dan penyedia cinderamata yang dilakukan oleh masyarakat Tunak Besopoq.

KLIK INI:  NIPAH Park dan MaRI, Tetap Konsisten Kedepankan Kenyamanan dan Kesehatan Pengunjung

Karakteristik kawasan konservasi yang unik dan khas dari sisi lanskap dan ekosistemnya, keanekaragaman hayati, serta kehidupan sosial budaya serta kearifan lokal masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi. Menjadi obyek dan daya tarik bagi masyarakat untuk berkunjung dan melakukan aktivitas wisata alam.

Sebanyak 2.612 Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam berupa lanskap, air terjun, gua, laut/ pantai, danau, gunung, dan lain sebagainya.

Sedangkan aktivitas wisata alam yang bisa dilakukan antara lain berkemah, menyelam, snorkling, panjat tebing, mendaki (hiking), menikmati keindahan alam, mengamati kehidupan liar, selusur gua (caving) dan lain sebagainya. ***

KLIK INI:  Memanen 7 Manfaat Positif dari Aktivitas Ngabuburit