Ekofeminisme, Perjuangan Perempuan untuk Keseimbangan Ekologis

Klikhijau.com - Pada tahun 1974, 74 perempuan yang didominasi para ibu di Kota Reni, bagian utara India, tengah bersiap menghadapi gempuran buldozer dan mesin-mesin pemotong pohon yang sebentar lagi a...

Ekofeminisme, Perjuangan Perempuan untuk Keseimbangan Ekologis
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Pada tahun 1974, 74 perempuan yang didominasi para ibu di Kota Reni, bagian utara India, tengah bersiap menghadapi gempuran buldozer dan mesin-mesin pemotong pohon yang sebentar lagi akan meratakan hutan di tanah mereka.

Tanpa rasa gentar sedikitpun, kaum perempuan ini memilih mengikatkan dirinya di batang pohon, melingkar dan memeluk pohon dengan erat untuk menghalau penebangan hutan. Gerakan ini kemudian disebut chipko yang dalam bahasa India berarti memeluk.

Di tahun yang sama, perjuangan kaum perempuan di Eropa memasuki fase baru setelah gagasan ekofeminisme diperkenalkan Francoise d’eaubonne, seorang feminis dalam karyanya le feminise ou la mort (1974).

Dalam bukunya, Francoise melihat adanya hubungan erat antara penindasan perempuan dengan kerusakan lingkungan sebagai konsekuensi dari budaya patriarki yang berkembang pesat di Barat. Penindasan perempuan tak bisa dipisahkan dari perusakan terhadap lingkungan hidup yang berlangsung selama beberapa abad silam.

Secara sederhana, Ariel Salleh dalam buku Rahmad K. Dwi Susilo (2014) mengartikan ekofeminisme sebagai “pengembangan dalam pemikiran feminisme yang menyatakan bahwa krisis lingkungan global akhir-akhir ini adalah hasil dari kebudayaan patriarkhal”.

Ekofeminisme menentang Androsentrisme

Perempuan dan lingkungan hidup sebagai sebuah kesatuan menjadi objek eksploitasi dalam masyarakat modern yang sistem ekonomi-politiknya dikuasai kaum laki-laki.

Terusirnya perempuan dari aktifitas publik atau disebut domestikasi dianggap sebagai upaya penjinakan patriarki terhadap perempuan untuk memudahkan dominasi, cara pandang ini kemudian disebut androsentrisme.

Kalangan ekofeminis menganggap bahwa androsentrisme atau keterpusatan lelaki selain berhasil mengeksploitasi perempuan juga bertanggungjawab penuh atas kerusakan ekologi. Bagi mereka, sifat patriarki itu identik dengan perilaku merusak, kasar, dan tamak.

Karenanya dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan berkelanjutan, terlebih dahulu masyarakat harus mengesampingkan sifat patriarki ini untuk kemudian melibatkan perempuan dalam pengambilan keputusan, serta mempertimbangkan konsekuensi tindakannya terhadap lingkungan.

Perempuan bagi ekofeminisme memiliki ketergoresan yang erat dengan ekologis. Selain karena kesamaan penindasan, perempuan dan lingkungan hidup secara alamiah memiliki peran yang sama dalam memberi dan merawat kehidupan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2