Di Singapura, Burung Gagak Hidup Merdeka tanpa Mitos

Klikhijau.com - Kami tiba di jalan Tan Queen Lan St, Singapura pukul 18.53 di hari Kamis, 19 Januari 2023. Suasana masih cerah, terasa baru jam 3 sore. Jika di Makassar jelang malam begitu, jalan akan...

Di Singapura, Burung Gagak Hidup Merdeka tanpa Mitos
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com - Kami tiba di jalan Tan Queen Lan St, Singapura pukul 18.53 di hari Kamis, 19 Januari 2023. Suasana masih cerah, terasa baru jam 3 sore. Jika di Makassar jelang malam begitu, jalan akan riuh kendaraan dan suara klakson akan berlomba memekikkan telinga.

Namun, di Singapura, tak ada adegan tersebut di jalan. Padahal di jalan Beach Rd yang berdekatan dengan dengan jalan Tan Queen Lan St adalah jalan raya yang besar. Tapi terkesan lengang saja. Tak banyak kendaraan lalu lalang.

Ketika baru sampai, saya mengira jika di tempat itu, tepat di halaman hotel Marrison, kami hanya beristirahat sejenak sebelum melanjutkan jalan kaki menuju tempat kami akan menginap. Namun rupanya saya keliru, di hotel itulah kami akan menginap selama di Singapura.

Kami termasuk rombongan dalam jumlah besar, 40 orang lebih yang merupakan karyawan dari Mitra Hijau Asia (MHA). MHA ini memang rutin membawa karyawannya melakukan trip keluar negeri untuk mengeratkan silaturahmi.

Sambil istirihat dan menikmati kagum melihat wajah Singapura. Seekor burung gagak bertengger di lampu jalan.

Melihat burung gagak beraksi bebas di tengah kota, membuat saya terkejut. Saya mengeluarkan gawai ingin memotretnya, namun selalu gagal.

Burung dari famili Corvidae itu terkenal sebagai burung "angker dan penuh mitos". Jika berkicau, banyak yang percaya akan ada kabar buruk terdengar.

Burung gagak, juga terkenal burung yang liar, tak ramah dengan keramaian dan tak berkawan baik dengan manusia. Meski belakangan ini, banyak orang yang mulai memeliharanya. Di antara yang banyak itu, dua orang keluarga dekat saya pernah memeliharanya, satu sepupu bernama Ashar dan satunya lagi ponakan bernama Ardi.

Ketika tahu anaknya memelihara gagak, ayah dari Ashar terlihat kurang senang. Baginya, segala jenis burung pemakan bangkai tak layak dipelihara, apalagi burung gagak, burung pembawa celaka.


Di Singapura, burung gagak sepertinya tak dibumbui mitos. Mereka bebas berkicau kapan saja, dan orang-orang yang mendengarkan abai saja, tak memikirkan apa membawa berita buruk atau tidak.

Keberadaan gagak di kota semodern Singapura rasanya aneh. Mereka tak terusik dan tak ada yang mengusiknya. Bebas saja beterbangan ke sana ke mari.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2