Dari ‘Sang Pemimpi’ Kita Tahu, Ujung Pertambangan adalah Sengsara

Klikhijau.com –  Sang Pemimpi, telah menjadi salah satu novel yang menggugah kesadaran kita. Termasuk dalam hal pendidikan dan kesadaran lingkungan. Novel fenomana itu merupakan  novel yang ditulis...

Dari ‘Sang Pemimpi’ Kita Tahu, Ujung Pertambangan adalah Sengsara
Bacakan Artikel

Namun bukan hanya itu, karena timah adalah bahan baku yang tentu akan habis jika terus dikeruk. Maka perusahaan pada akhirnya akan lumpuh. Dan kelumpuhan suatu perusahaan, akan berdampak buruk pula kepada para karyawan dan keluarganya.  Lihatlah kutipan di halaman 245 ini!

“Tapi kesenangan ini pun tak berlangsung lama, sebab sejak tahun 1990-an PN Timah lumpuh. Aku prihatin melihat uang wesel mahasiswa yang berangsur turun tiap bulannya. Anak-anak cerdas itu megap-megap. Beberapa orang di antaranya malah tak lagi datang weselnya,”

Lalu pada halaman 247 Andrea Hirata menuturkan jika “PN Timah kolaps, puluhan ribu orang di PHK.”

Kolapsnya perusahaan digdaya itu membawa dampak besar berupa ribuan orang terancam menganggur karena kena pemutusan hubungan kerja atau PHK. Dan banyak pula anak dari karyawan yang dulunya bekerja di perusahaan tersebut terancam tidak bisa melanjutkan studinya. Bukankah itu suatu bencana?

Hal yang bisa dipelajari dari perusahaan tambang, termasuk timah adalah bahan bakunya yang akan habis. Jika habis tak ada solusi lain selain berhenti beroperasi. Itu berarti ujung dari dunia pertambangan adalah sengsara, baik dari segi kesehatan, beban hidup, dan terlebih kepada kerusakan lingkungan yang telah ditimbulkan

[irp]

Pilih Halaman: