Dari ‘Sang Pemimpi’ Kita Tahu, Ujung Pertambangan adalah Sengsara

Klikhijau.com –  Sang Pemimpi, telah menjadi salah satu novel yang menggugah kesadaran kita. Termasuk dalam hal pendidikan dan kesadaran lingkungan. Novel fenomana itu merupakan  novel yang ditulis...

Dari ‘Sang Pemimpi’ Kita Tahu, Ujung Pertambangan adalah Sengsara
Bacakan Artikel

Penduduk setempat kerap hanya jadi penggembira, menjadi penonton pesta kemewahan para pendatang saja. Belum lagi, kemewahan dan keuntungan dari pertambangan, lebih banyak mengalir ke orang-orang kota yang memiliki modal dan para pejabat.

Kenyataan ini bisa ditemukan pada novel Sang Pemimpi yang terbit pertama kali tahun 2006 lalu. Dan saat ini telah diterjemahkan keberbagai bahasa. Coba tengok halaman  68

“Karena sesungguhnya setiap  butir pasir adalah milik ulayatnya, setiap tongkah kuarsa, topas, galena itu adalah harkat dirinya sebagai orang Melayu asli, tapi semuanya mereka muat sendiri ke  atas tongkang untuk menggendutkan perut ara cukong di Jakarta atau pejabat yang kongkalikong. Menjadi pendulang, nelayan bagan, dan kuli pasir, berarti mengucapkan selamat tinggal pada Tut Wuri Handayani.”

Membaca ini, rasanya memang miris. Sangat banyak kenyataan di dunia nyata kejadian serupa ini.  Orang –orang dari kalangan bawah, yang menjadi buruh dominan sulit memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena pendapatan mereka tak seberapa. Keuntungannya lebih banyak mengalir kepada pemilik modal dan pejabat yang kongkalikong

Lebih mirisnya lagi, banyak yang harus putus sekolah demi menyambung nyawanya dengan cara menjadi kuli pasir atau mendulang timah di pertambangan.

[irp]

Reklamasi hanya janji

Kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh PN Timah dalam novel ini, juga bisa dilihat dengan jelas dalam kutipan ini pada halaman 91 ini.

“Aku membayangkan beliau, yang akan pensiun bulan depan, bersepeda pelan-pelan melalui hamparan perdu apit-apit, kebun-kebun liar, dan jejeran pohon angsana reklamasi bumi belitong yang dihancurleburkan PN Timah. Lalu beliau istrhat di pinggir jalan.”

Reklamasi lingkungan setelah perusahaan tambang menghabiskan isinya, kadang hanya janji manis saja. Karena banyak yang dibiarkan terbengkala—menunggu korban jiwa.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: