Barelle Cippo-Cippo

Hati sepasang suami istri itu selalu saja banjir—tak pernah ingin surut. Meski di permukiman warga, banjir telah lama tiada, telah pergi. Sudah lima tahun lamanya mereka menjadi penghuni baru kampu...

Barelle Cippo-Cippo
Bacakan Artikel

Hati sepasang suami istri itu selalu saja banjir—tak pernah ingin surut. Meski di permukiman warga, banjir telah lama tiada, telah pergi.

Sudah lima tahun lamanya mereka menjadi penghuni baru kampung ini. Membangun rumah kayu yang bisa dikatakan tak terlalu luas untuk ditempati oleh lima orang anggota keluarga.

Hanya terdapat dua ruang, ruang tamu dan ruang dapur yang dipisahkan oleh kain sekat. Mereka tak mempunyai ruang  khusus untuk bersantai, bahkan tak mempunyai kamar.

Satu-satunya tempat tidur mereka adalah ranjang ukuran king. Tempat anak-anak mereka biasa tidur. Ranjang itu dipasangi kelambu. Bukan karena semata menghalau nyamuk, melainkan memang untuk menghalau mata tamu yang kadang berkunjung di malam hari.

[irp]

Sore tadi, istrinya berkunjung ke rumah. Membawa sebaskom barelle cippo-cippo. Aku menyambutnya dengan perasaan gembira. Mereka memang pemurah dan senang memberi.

Apa pun hasil kebunnya jika sudah panen, pasti akan diantarkan ke rumah, barang sebiji dua biji. Begitupun ke tetangga lain sepanjang lorong ini. Semua tak luput dari kedermawanannya.

Oya, mungkin kalian asing dengan nama barelle cippo-cippo. Itu sebutan lain untuk jagung yang bijinya bisa dihitung jari. Cippo-cippo dalam bahasa Bugis berarti ompong. Jagung ompong, jagung yang gagal menuntaskan buahnya secara utuh karena serbuk sarinya tak utuh, entah keburu dibawa air banjir atau hama lain.

Setelah mengucapkan terima kasih, kukembalikan baskom tempat ia menaruh jagung tadi. Ia tersenyum menunjukkan giginya yang tidak terlalu rapi,  namun seakan menambah daya tariknya. Kemudian bergegas pamit seperti kebiasaannya yang sudah-sudah.

[irp]

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: