Kembalinya Ingatan pada Sensasi Tanaman Obat dan Kenangan Kampung

oleh -41 kali dilihat
Kembalinya Ingatan pada Sensasi Tanaman Obat dan Kenangan Kampung
Wahyuddin Junus, yang sedang mengawal dan merawat spirit di Kampoeng Bambu Toddopulia -Foto/Ist
Anis Kurniawan

Klikhijau.com – Di tengah situasi yang sulit karena pandemi Covid-19, semangat untuk “back to nature” juga semakin membuncah. Lihat saja, ada begitu banyak kawan yang akhir-akhir ini semakin akrab dengan tanaman herbal seperti jahe, kunyit, serai, hingga daun sirsak.

Bahkan pada segala hal yang berlabel alami kini jadi idaman. Mulai dari kebiasaan sarapan jagung rebus, pisang rebus hingga sayur daun kelor.

“Ini sisi positif dari pandemi! Semua orang mulai sadar betapa pentingnya makanan sehat dan pola hidup sehat,” kata seorang kawan.

Di sisi lain, semakin banyak orang yang mulai menjauh dari kebiasaan konsumsi makanan instan. Umumnya mereka mulai percaya bahwa makanan instan adalah sumber dari bergelimangannya ragam penyakit mematikan.

Orang-orang mendambakan makanan dan minuman yang serba alami. Kawan saya yang lain juga bercerita bagaimana ia dan keluarganya mulai enggan konsumsi gula pasir, minyak sawit dan mulai berjuang untuk minim konsumsi nasi putih.

KLIK INI:  Fenomena Ular Kobra Juga Gegerkan Warga Gowa

Kenangan pada yang alami

Saya mengecek ke sepuluh orang yang respek pada situasi pandemi, sembilan diantaranya benar-benar ingin konsisten menerapkan gaya hidup sehat. Ketika ditanya alasannya mengapa, beberapa diantaranya berkisah tentang kenangan.

Ini menarik sekali, rupanya sebagian besar diantara kita punya kisah-kisah yang begitu intim dengan rempah, herbal dan tanaman obat. Bagi generasi 80-an dan 90-an yang pernah melewati masa-masa kecil di kampung, ingatan itu amatlah membekas.

Masih ingat dengan terang, bagaimana cocor bebek menemani saat-saat demam tinggi di masa kecil. Tak ada paracetamol atau antibiotik, demam luruh dan tubuh sehat bugar lagi setelah beberapa hari.

Ingatan tentang rebusan pucuk daun papaya juga tentu membekas saat demam tinggi di masa kanak-kanak. Ramuan khas kampung ini rasanya lumayan menyebalkan karena super pahit, tetapi kerapkali ampuh menjadi penawar demam tinggi dan sakit tulang.

Begitu pula dengan daun jambu muda yang langsung dipetik lalu dikunyah dari pohonnya saat perut mules. Atau ramuan daun kumis kucing yang begitu paten mengatasi kencing yang tak lancar.

KLIK INI:  Kisah Ganja, Gagal Jadi Tanaman Obat Kementan dan 7 Negara yang Melegalkannya

Ada banyak lagi dedaun dan model-model pengobatan yang seolah tertanam otomatis dalam kepala dan dilakukan berulang saat ragam penyakit menyerang. Ingatan ini kemudian menjelma jadi pengetahuan berharga.

Dahulu, orang-orang terbiasa sembuh dari ragam penyakitnya tanpa obat kimia bahkan tanpa dokter. Begitulah masa-masa keemasan tanaman obat. Begitulah masa-masa saat segala yang alami menyatu dalam kehidupan.

Masa di mana halaman rumah dihiasi segala rupa tanaman obat dan kita paham luar dalam tentang manfaatnya untuk kesehatan. Ini sudah seperti warisan turun-temurun.

Di masa kecil saya, di tahun 80-an, di kampung bagian Selatan Sulawesi Selatan, kami masih berjumpa dengan orang-orang berusia lanjut. Mereka seolah menjadi pewaris dari tradisi alami. Makanan mereka begitu alami dan apa adanya.

Pengetahuan mereka tentang makanan alami juga luar biasa. Tak jarang, setiap apa yang dimakan dapat mereka ceritakan khasiat di baliknya.

KLIK INI:  Bumi, Manusia, dan Pertobatan Ekologis

Realitas baru

Entah kapan perubahan drastis itu mulai terlihat. Sependek ingatan saya, semua dimulai dari kedatangan ragam obat-obatan kimia dan aneka makanan instan.

Ini seperti tsunamie yang meluluhlantah tradisi dan budaya. Orang-orang yang sakit kepala atau demam mulai bergeser ke cara modern dengan komsumsi obat yang dijual murah di kios tetangga.

Rasa percaya akan obat-obatan ini juga semakin meningkat seiring pesatnya iklan radio dan televisi. Semua berubah perlahan hingga tradisi pengobatan dan pola konsumsi makanan alami itu benar-benar tenggelam.

Pelan tapi pasti, dengan mata kepala, saya menyaksikan betapa banyak tetumbuhan lawas yang lenyap di telang waktu. Buah-buahan ala kampung juga perlahan ditebang dan digantikan dengan tanaman baru khususnya beberapa varian buah manga dan lainnya.

Generasi kelahiran 2000-an dan di atasnya yang meski hidup di kampung, terpaksa kehilangan informasi dan kenangan tentang tanaman obat dan buah klasik ala kampung.

KLIK INI:  Iyakah, Kupu-kupu Asing Bertengger di Gerbang Bantimurung?

Masih beruntung bila mereka mendengarkan cerita dari orang tua atau keluarganya tentang tanaman. Mayoritas di antara anak-anak muda ini benar-benar tak menjumpai kampung sebagaimana kampung yang ada pada dekade-dekade sebelumnya.

Kampung menjelma menjadi kota-kota. Orang-orang di kampung menghabiskan hari-hari bersantainya di kota diantaranya dengan tergiur menghabiskan makanan modern yang tak dijumpai di kampung.

Begitulah realitas berevolusi seiring waktu tanpa disadari. Suatu waktu dalam perenungan saya pulang kampung, saya mengamati betapa sulitnya kita menemukan orang-orang lanjut usia yang masih kuat berjalan.

Bahkan, orang-orang yang sebetulnya usianya belum terbilang tua, mulai tampak lebih tua dari usianya bahkan sebagian diantaranya sudah menghuni penyakit menahun.

Ini sesuatu yang menyedihkan. Kini, di tengah pandemi covid-19 yang seolah meneror jagad raya, ingatan tentang gaya hidup alami yang sebenarnya adalah “tradisi” kita, seolah menjadi kerinduan.

Beruntunglah bagi generasi yang mengalami kisah-kisah pengobatan dengan dedauan yang ditanam di halaman rumah. Beruntunglah pula bagi mereka yang masih konsisten menjalani pola konsumsi yang sehat, dengan memasak sendiri atau memilah makanan alami dan bebas pestisida.

Kini, semua kita merindukan manfaat tanaman dan betapa pentingnya semangat “back to nature”. Kita semua merasa terpanggil untuk kembali ke kebiasaan lama, menanam, memanen sendiri dan memasak apa adanya—soal rasa nomor dua. Salam sehat!

KLIK INI:  Apakah di TPS Anda Ada Tempat Sampah?