Barelle Cippo-Cippo

Hati sepasang suami istri itu selalu saja banjir—tak pernah ingin surut. Meski di permukiman warga, banjir telah lama tiada, telah pergi. Sudah lima tahun lamanya mereka menjadi penghuni baru kampu...

Barelle Cippo-Cippo
Bacakan Artikel

Ia tak banyak bicara, namun di wajahnya selalu bertengger senyum yang begitu bijaksana. Dan aku harus jujur, aku menyukai seyum itu.

Pandangan mataku mengekor langkah kakinya hingga ia menginjakkan tangga teratas rumahnya. Setelah beberapa langkah, kulihat ia terduduk di hadapan karung barelle cippo-cippo, memandanginya dengan perasaan sedih.

Isinya masih setengah penuh, yang kemudian dia hamburkan begitu saja di lantai papan rumahnya. Ia menyuruh anak tertuanya mengambil pisau, sedangkan anak bungsunya mengambil baskom. Kemudian dengan lincah tangannya mulai memisahkan biji jagung dengan tongkolnya.

Lalu bunyi speaker penanda waktu magrib  tiba juga di telinga.

[irp]

-----

Saat aku hendak memutuskan mengambil air wudhu, tanpa sengaja mataku melihat dengan jelas ia sedang menangis.  Tapi jemarinya tetap bekerja. Air matanya bahkan menetes ke pupil jagung di tangannya.

Entah penasaran akan kejadian selanjutnya atau mungkin dorongan rasa kasihan, aku terpaku di tempat. Meneruskan memerhatikannya dari jauh. Perlahan isaknya mulai muncul, hingga nampak jelas bahunya terguncang begitu hebat.

-----

Aku berkali-kali mengecek temperatur suhu di layar hape, sambil sesekali menyeka biji keringat yang membanjir. Kubuka baju, dan kini hanya menyisa celana bola saja.

Sudah lima bulan belakang ini, suhu udara di sini terlalu panas. Apalagi jika jarum jam sudah menunjukkan angka satu atau dua siang.

[irp]

Panasnya terasa memanggang. Kena sinar matahari sedikit saja kepala mendadak pening.

Padahal awal-awal kedatanganku di sini, pada siang hari pun harus mengenakan jaket karena hawa yang begitu dingin.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: