Pohon Seribu Tahun

Aku girang ketika seorang lelaki gondrong mendekatiku. Di tangannya ada palu, paku, dan kertas. Lelaki gondrong itu menatapku. Ada haru dari matanya. Ada kagum bertumbuh dari tatapannya. Dan aku meras...

Pohon Seribu Tahun
Bacakan Artikel

Aku girang ketika seorang lelaki gondrong mendekatiku. Di tangannya ada palu, paku, dan kertas. Lelaki gondrong itu menatapku. Ada haru dari matanya. Ada kagum bertumbuh dari tatapannya. Dan aku merasa bahagia.

Ia meraba tubuhku. Kurasakan semua poriku bergetar. Lalu setelah menimbang berbagai posisi. Dan ditemukan yang paling pas. Lelaki gondrong itu memakuku, ditempelkannya kertas yang dibawanya. Kertas yang berisi puisi Chairil Anwar: AKU.

Sejujurnya aku memang menyukai puisi. Sangat banyak penyair yang kerap membaca puisinya di bawahku.ย  Aku mampu meneduhkan mereka. Di antara banyak puisi itu, yang paling kusukai adalah lirik puisi Chairilโ€”aku mau hidup seribu tahun lagi.

Usiaku saat ini masih jauh dari angka seribu. Baru enam puluh sembilan tahun. Ketika usiaku sembilan tujuh bulan. Seseorang berpakaian baju kemeja biru langit membawaku. Lalu menanamku di halaman sebuah kampus yang baru dibangun.

[irp]

Aku dirawat dengan telaten dan suka cita. Disirami setiap pagi dan senja. Aku diperlakukan istimewa. Sering aku mendapati seseorang membaca puisi Chairil ketika merawatku.

Aku tumbuh dalam dekapan cinta yang tiada batas. Karenanya, saat aku mulai tumbuh besar. Aku mengabdikan diri dengan tak terhingga kepada manusia. Kuserapi semua zat berbahaya yang mungkin mereka hidup.

Aku membersihkan udara yang kotor. Dan menyebar oksigen yang bisa dihirup oleh siapa saja. Aku tumbuh tanpa pilih kasih.

Meski begitu, banyak pula yang tetap menatapku sinis. Pernah suatu hari, seorang mahasiswa melakukan parade baca puisi. Ia memanjatiku, membacakan puisi Chairil Anwar. Ketika sampai pada bait aku mau hidup seribu tahun lagi. Ranting tempatnya bertumpu patah. Ia meluncur bebas lalu ditadah bumi.

Berbagai kecaman mengarah padaku. Tak sedikit yang ingin menghabisiku. Kegamangan dan sedih melanda sedih berhari-hariโ€”bahkan berbulan-bulan.

[irp]

Untungnya, banyak pula yang membelaku. Untuk pertama kalinya aku benci puisi Chairil itu. Tapi, karena telah jatuh cinta sedalam-dalamnya. Rasa benci itu meluntur perlahan. Lalu lenyap begitu saja.

Maafkan

Maafkan. Harusnya kuperkenalkan namaku sejak awal. Namaku beringin. Aku bisa meneduhkan siapa saja. Bisa menadah sinar matahari. Menyimpan air dalam tubuhku.

Aku terkadang dianggap angker. Jujur saja. Aku suka dengan anggapan itu. Itu membuatku selamat dari berbagai ancaman โ€œpembunuhanโ€.

Dianggap angker memberiku napas lebih panjang. Hanya segelintir manusia saja yang mengusikku. Jadi, aku bisa hidup seribu tahun untuk memberi manfaat yang banyak bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: