Pohon Seribu Tahun

Aku girang ketika seorang lelaki gondrong mendekatiku. Di tangannya ada palu, paku, dan kertas. Lelaki gondrong itu menatapku. Ada haru dari matanya. Ada kagum bertumbuh dari tatapannya. Dan aku meras...

Pohon Seribu Tahun
Bacakan Artikel

Iya, tak hanya manusia, aku juga jadi rumah bagi banyak burung, bahkan cacing tanah menyukaiku. Mereka bisa berumah di celah-celah akarku.

Nama ilmiahku Ficus benjamina. Kerenkan?.

[irp]

Kembali ke lelaki gondrong itu. Setelah ia selesai memakuku. Ia menatapnya dengan sangat bangga. Dikeluarkannya gawai dari sakunya. Lalu memotretku.

Aku merasa haru. Semua pori dalam tubuhku menggerimis. Daun dan reranting menari bahagia. Orang-orang yang berlalu lalang mampir membaca pengumuman itu. Minggu depan di malam Minggu. Akan ada perayaan peringatan hari lahir penyair idolaku itu. Chairil Anwar.

Akan banyak puisi Chairil yang dibaca dan aku akan meneduhkan semua orang yang hadir. Bagaimanapun, akhir-akhir ini panas terasa lebih memanggang kota ini.

Air yang kusimpan dalam tubuhku seakan terkuras habis. Pertumbuhan daun dan ranting melambat. Tapi, aku telah bersumpah akan tetap bertahan. Akan tetap bermanfaat.

โ€œAir tak lagi mengalir ke kamar mandi fakultas,โ€ ujar seorang Dosen Muda.

โ€œMungkin air tanah telah habis,โ€ jawab Dosen Senior.

Mereka berbincang sambil mengisap rokok di bawahku. Aku hampir batu-batu oleh asap rokoknya.

โ€œPemanasan global semakin nyata adanya,โ€ timpal Dosen Perempuan yang baru datang. makeupnyaย  telah luntur di hantam panas. Padahal hari masih sangat pagi.

โ€œUntung ada pohon beringin ini, bisa meneduhkan kita,โ€ timpal Dosen Muda itu.

โ€œIni harus dijaga,โ€ kata Dosen Senior

โ€œBagaimana air sudah mengalir,โ€ tanya Dosen Perempuan tersebut.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: