Segelas Kopi Pertemuan

Senja di hari Jumat, Adriana berkunjung ke kos. Itu kunjungan pertamanya dan jadi pertemuan kami yang pertama pula. Kusambut ia dengan segelas kopi. Aku tahu ia penyuka kopi. Itu kulihat dari caranya...

Segelas Kopi Pertemuan
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Senja di hari Jumat, Adriana berkunjung ke kos. Itu kunjungan pertamanya dan jadi pertemuan kami yang pertama pula. Kusambut ia dengan segelas kopi. Aku tahu ia penyuka kopi. Itu kulihat dari caranya menyeruput kopi yang tampak lembut. Penuh perasaan.

Ia pejamkan mata ketika menyeruputnya lalu mendesah lembut nyaris tak terdengar. Suara kopi yang mengalir ke lehernya juga terdengan lembut. Selembut ricik Sungai Je’neberang di belakang kos ketika dikunjungi gerimis.

Adriana berkaca minus, di balik kacamatanya, mata beningnya yang sipit terlihat memukau. Ingin kutatap matanya, tapi ia tertunduk. Tak membiarkanku melakukannya. Hidungnya bangir, namun sensitif. Jangan pernah menyentuh hidungnya, bisa-bisa ia influensa hingga berbulan-bulan.

Suatu ketika pernah ada temannya yang iseng menyentuh hidungnya. Hasilnya hidungnya berdarah seperti mimisan. Tapi itu bukan mimisan. Bukan.

“Nak, kekuatan perempuan ada pada matanya, jika tak ingin jatuh cinta kepadanya jangan pernah menatap matanya!” nasehat Ibu terngiang.

Aku tersenyum. Adriana yang melihatku senyum-senyum sendiri hanya geleng kepala sambil kembali menyeruput kopinya dengan lembut.

Suguhan paling romantis: kopi

Tak ada suguhan romantik kepada tamu selain kopi. Kopi ada pemisah sekat, pemisah keasingan kepada orang lain. Mungkin karenanya tersebar warung kopi, tak ada warung teh atau warung susu. Kopi lebih punya nilai jual rupanya. Lebih puitik.

Menyeruput kopi seperti sedang menikmati getaran cinta pertama. Melihat Adriana menyeruput kopi senja itu, seperti melihat temali cinta pertama melilitku. Lilitan itu kemudian menjalar ke sekujur tubuh. Melumpuhkanku.

Ada dua hal senja itu yang buatku lumpuh di hadapannya, caranya menyeruput kopi dan mata sipitnya yang bening.

Kisah air mata bawakaraeng

“Sejak kapan menyukai kopi?” tanyaku. Ia diam. Mengumpulkan ingatan masa lalunya. Ia tersenyum singkat kepadaku.

“Sejak mengenalmu,” jawabnya dengan tenang. Tak kusangka ia akan menjawab begitu membuatku salah tingkah. Aku tertawa dan melangkah keluar kamar. Mengusir getaran aneh yang indah, yang tetiba bertamu ke hatiku.

“Ke sini sebentar!” panggilku dari luar kamar. Ia melangkah menghampiriku. Aku berdebar ketika ia mendekat dan berdiri di sampingku. Aroma napasnya kurasakan menohok hidungku. Aromanya eksotik. Perpaduan antara aroma kopi dan pasta gigi yang digunakan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2