Sebatang Pohon Mata

oleh -88 kali dilihat
Sebatangf pohon mata
Sebatangf pohon mata-foto/walpaperbetter
Irhyl R Makkatutu

Ada cerita yang terangkai perlahan. Cerita tentang sebatang pohon yang tumbuh di mata seorang lelaki. Berbuah ribuan kunang-kunang dan setumpuk kisah cinta yang memiris. Rumah lelaki itu tepat di ujung lorong. Tak jauh dari pekuburan umum.

Awalnya, matanya gatal lalu ia menguceknya. Semakin ia kucek semakin gatal. Ia kemudian melangkah gontai menuju kamar mandi, mencuci matanya. Matanya tetap bertambah gatal.

Malam sepi mencekam. Pelita yang jadi penerang di rumahnya tak terlihat baik. Ia balik ke kamarnya lalu terbaring. Ia merasa matanya berat. Sakit luar biasa. Ia mengerang. Berteriak seperti kesurupan. Malam tak mempedulikannya. Hingga akhirnya sesuatu keluar dari mata kirinya.

Sebatang pohon sebesar kelingking. Pohon itu mengakar kuat di hatinya. Ia tak bisa mencabutnya. Setelah pohon tumbuh di matanya. Rasa sakitnya hilang. Penglihatannya bening. Bahkan dalam malam tanpa cahaya ia mampu melihat. Ia takjub pada dirinya sendiri. Ia mengagumi matanya. Malam itu ribuan kunang-kunang bergelantung di matanya.

KLIK INI:  Perahu Kertas Lepas

“Ini keajaiban yang maha dahsyat,” gumamnya pada diri sendiri. Ia meraba pohon tersebut, terasa lembut dan lunak. Tak seperti pohon pada umumnya.

Jelang pagi, pohon itu perlahan-lahan hilang di matanya. Hingga pagi menyapa dengan segarnya. Pohon tersebut benar-benar menghilang. Ia bebas beraktivitas tanpa ada orang takut padanya. Ia bersyukur dan berharap pohon itu tak tumbuh lagi di matanya.

“Taha’….kenapa matamu lebih bening?” Tanya Sumarni, perempuan yang telah lama diincarnya ketika mereka bertemu di lorong menuju jalan raya. Ia tak menjawab. Hanya tersenyum sumringah dan merasa melayang,  untuk pertama kalinya Sumarni menyapanya lebih dulu.

*****

Selama ini jika ia menyapa Sumarni, tak dihirau. Ia tak sangka Sumarni memperhatikan matanya. Itu yang buatnya kegirangan sekaligus takut. Bagaimana kalau perempuan yang diincarnya itu tahu kalau semalam di matanya tumbuh sebatang pohon? Ia melangkah menjauh dari perempuan itu dengan cepat. Sumarni kebingungan.

Dengan tergesa, ia membuka pintu rumahnya. Lalu melesat masuk secepat kilat. Menuju cermin. Ia memperhatikan matanya yang tampak berbeda. Lebih bercahaya, garis-garis merah di sana menghilang. Mata hitamnya lebih hitam. Ia meloncat-loncat senang. Tapi hari itu ia tak lagi keluar rumah.

Ia menunggu malam. Ingin disaksikannya apa yang terjadi pada matanya ketika malam. Tak sabar rasanya. Ditunggunya malam dengan gelisah.

Putaran waktu terasa panjang. Bayangan Sumarni merindang. Ketakutan bertawaf di hatinya. Ia takut jika malam nanti sebatang pohon kembali tumbuh di matanya. Bagaimana jika Sumarni tahu? Bagaimana jika ia menikahi Sumarni dan pada malam pertama mereka, pohon itu tumbuh di matanya? Pasti Sumarni akan kaget dan jatuh pingsan atau memohon diceraikan saat itu juga. Itu cukup tragis. Uang pa’nai puluhan juta akan sia-sia. Ia gemetaran memikirkan hal tersebut.

Suara jangkrik mulai bersahutan. Itu tanda malam mulai datang. Matanya mulai perih. Tapi tak seperih malam sebelumnya. Gatalnya juga mulai berkurang. Ia kucek matanya. Dan  merasakan sesuatu mulai muncul.

KLIK INI:  Segelas Kopi Pertemuan
******

Sebatang pohon kembali tumbuh. Jika malam sebelumnya hanya sebesar kelingking, kini  sebesar ibu jarinya. Daunnya rindang. Beranting tiga. Malam sebelumnya belum ada ranting. Akarnya terasa hingga ke seluruh tubuhnnya. Ia ketakutan,  karena pohon itu bertambah besar. Bagaimana kalau nanti besarnya seperti pohon kedondong di samping rumahnya. Pasti berat.

Kerlipan kunang-kunang mulai berpesta di pohon tersebut. Pohon itu menjulang ke atas. Untung saja pohon tersebut tidak menjulur ke depan atau ke bawah dan untungnya hanya sebatang. Bagaimana kalau kedua matanya ditumbuhi pohon? Pasti repot.

Ia terbaring memikirkan banyak hal. Ia ingin kelaur jalan-jalan malam itu. Tapi diurung karena takut warga akan geger jika ada yang melihatnya. Maka ia terbaring saja di kamarnya. Pikirannya melayang jauh pada entah yang rumit. Lalu jatuh pada Sumarni. Cukup lama bayangan Sumarni tak hilang dari pikirannya. Ia tersenyum.

“Jika saja Sumarni tahu telah lama aku menabur benih cinta kepadanya, mungkin ia akan senang atau kian menjauh dariku. Tapi kenapa ia menanyakan mataku?” Ia berbicara sendiri sambil memegang pohon yang tumbuh di matanya.

Pohon itu mulai mengeras, tak selunak malam sebelumnya. Tapi matanya tak sakit. Biasa saja, penglihatannya saja yang berubah lebih terang. Ia bisa melihat benda-benda kecil di sekitarnya meski tersembunyi.

“Ajaib,” bisaknya. Ia bangun lalu mulai berkeliling rumah. Ia kegeringan ketika melihat mainan masa kecilnya yang lama tersembunyi di kolong ranjang. Ia mengambil mainan tersebut.

Kunang-kunang yang hinggap di pohon yang tumbuh di matanya beterbangan. Seisi rumah benderang. Ia merasa seperti berada di negeri dongeng. Sejak lima tahun terakhir ia hanya tinggal sendri di rumahnya. Sejak orang tuanya cerai. Ia memilih tak mengikuti salah satunya. Ia memilih tinggal sendri di rumah yang diwariskan kepadanya.

KLIK INI:  Cerita Warga Berdaya dan Kota yang Anti Ketahanan Lingkungan
*******

Di kamarnya, Sumarni juga gelisah. Seminggu lalu ada juga sebatang pohon tumbuh di mata kanannya. Pohon itu beranting tiga. Ia bisa melihat pula dengan jelas. Sejak itu ia tak pernah keluar kamar jika malam tiba menyapa.

Di rumahnya  ketika malam tak ada lagi yang keluar kamar. Ibu, bapak, dan adiknya hanya berdiam di kamar. Itu membuat Sumarni penasaran. Ia memutuskan malam itu keluar dari kamarnya.

Ia mengintip ke kamar adiknya. Mata adiknya juga ditumbuhi pohon, mata ibu-bapaknya juga demikian. Ia kaget lalu melangkah keluar rumah. Di jalan sepi. Ia melangkah ke arah rumah Taha. Di sepanjang jalan tak ada sesiapa. Mungkin warga telah pulas, tapi malam masih belia. Tak mungkin warga secepat itu tidur.

Sesampai di tangga pertama rumah Taha’, ia saksikan kunang-kunang beterbangan. Ia melihat Taha’ dari cela dinding rumahnya. Di mata Taha juga tumbuh sebatang pohon. Ia urung naik ke tangga. Dan memilih pulang dengan terisak.  Di jalan pulang, tiba-tiba banyak warga. Di mata mereka tumbuh pohon yang tak diketahui berasal dari mana.

                Sumarni berbalik, lalu berlari ke rumah Taha’.

KLIK INI:  Menghidupkan Air