Antara Kagum dan Gemetar: Kisah di Balik Perjumpaan Anoa Jantan

Klikhijau.com - "Layar ponsel saya terhenti pada sebuah unggahan di Instagram. Ada dua foto anoa di sana—satu asli, satunya lagi dipercantik sentuhan AI. Namun, bukan soal teknologi itu yang membuat j...

Antara Kagum dan Gemetar: Kisah di Balik Perjumpaan Anoa Jantan
Bacakan Artikel

Sang pemilik akun kemudian membalas komentar saya dengan mengatakan bahwa ia gemetar saat memotretnya. Karena penasaran saya kembali bertanya: "Gemetar karena baru jumpa atau jangan² dia mau menyeruduk 😂".

Mas Ganjar, begitu saya biasanya menyapanya saat bertemu, kembali membalas komentar saya. Ia mengatakan bahwa ia sedikit mawas diri. "Karena orang sana bilang, anoa demen nyeruduk😂," balasnya pendek.

Saya menangkap bahwa anoa sering menyeruduk saat bertemu di hutan. Hal tersebut berdasarkan informasi yang dihimpun Ganjar di lokasi perjumpaan di Popayato, Gorontalo.

[irp]

Menyeruduk karena merasa terancam. Menyeruduk adalah senjatanya untuk melakukan perlawanan. Sepertinya halnya satwa liar lainnya memiliki insting untuk menyerang saat terancam. Seperti ular akan menggigit saat terancam ataupun banteng akan menyeruduk saat merasa terjepit oleh situasi.

Saya hanya bisa membalas singkat, "Ngerii😂". Menjadi akhir percakapan kami di kolom komentar.

Sementara teman Ganjar lainnya menebak bahwa anoa tersebut adalah jantan. Dan ia pun membenarkan bahwa anoa tersebut adalah jantan. Untuk membedakan antara jantan dan betina pada spesies ini bisa dilihat dari morfologinya.

Menurut Haris Mustari, dosen dan peneliti anoa IPB, bahwa jantan memiliki badan yang cenderung lebih kekar dengan warna bulu lebih gelap. Meski sama-sama memiliki tanduk, namun jantan lebih panjang dan melingkar ketimbang betina yang cenderung lebih lurus dan pendek.

Setakat kini, populasi satwa dilindungi undang-undang ini terus merosot. "Diperkirakan populasinya tersisa kurang dari 5.000 ekor," pungkas Mustari yang dikutip dari website ipb.ac.id.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: