Klikhijau.com – Belakangan ini makin banyak orang melirik urban farming. Karena selain bisa memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, juga bikin lingkungan lebih hijau.
Urban farming atau bertani di perkotaan bukan hanya satu jenis saja, tapi ada berbagai, mulai dari kebun komunitas yang dikelola bersama oleh warga untuk menanam sayuran, buah-buahan, atau tanaman obat, hingga kebun rumah tangga yang memanfaatkan pekarangan rumah.
Selain itu, ada juga pertanian vertikal yang membudidayakan tanaman dalam lapisan bertingkat di dalam ruangan menggunakan teknologi hidroponik atau aeroponik, roof garden yang dibuat di atas atap bangunan, aquaponics yang menggabungkan budidaya ikan dan tanaman dalam satu siklus, serta peternakan urban yang beternak hewan seperti ayam, kelinci, atau lebah di lingkungan perkotaan.
Urban farming memberikan banyak manfaat, termasuk meningkatkan akses terhadap makanan segar dan sehat, menciptakan lapangan kerja lokal, mengurangi jejak karbon, meningkatkan kualitas udara, mempererat hubungan antar warga, dan menjadi sarana edukasi tentang pertanian, nutrisi, dan lingkungan.
Di Sulawesi Selatan, urban farming semakin populer dan didorong oleh pemerintah daerah dan komunitas. Di Makassar, misalnya, ada pemanfaatan lahan kosong di sekitar rumah susun dan pengembangan kebun komunitas di beberapa kelurahan.
Masyarakat sering memilih budidaya sayuran seperti kangkung, bayam, sawi, dan cabai karena mudah ditanam dan bernilai ekonomi tinggi, serta mengembangkan sistem hidroponik atau aquaponics untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
Namun, urban farming juga menghadapi tantangan seperti keterbatasan lahan, kualitas tanah yang buruk, akses air bersih yang terbatas, serangan hama dan penyakit, serta kurangnya dukungan kebijakan dan regulasi.

Sebaiknya mulai dari skala kecil
Untuk memulai urban farming, disarankan untuk memulai dari skala kecil, memilih lokasi yang tepat, menggunakan media tanam yang baik, mempelajari teknik bertanam yang benar, dan bergabung dengan komunitas urban farming. Dengan perencanaan yang matang dan komitmen yang kuat, urban farming dapat menjadi solusi efektif untuk meningkatkan ketahanan pangan, menciptakan lingkungan yang lebih hijau, dan meningkatkan kualitas hidup di perkotaan.
Urban farming bukan hanya sekadar tren sesaat, tetapi sebuah gerakan berkelanjutan yang semakin relevan di tengah tantangan perubahan iklim dan urbanisasi. Lebih dari sekadar menanam sayuran di lahan terbatas, urban farming adalah tentang membangun sistem pangan yang lebih resilien dan berkelanjutan di perkotaan.
Inovasi terus bermunculan dalam bidang ini, seperti penggunaan teknologi Internet of Things (IoT) untuk memantau kondisi tanaman secara real-time dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya. Selain itu, konsep vertikal farming semakin berkembang dengan penggunaan energi terbarukan seperti panel surya untuk mengurangi dampak lingkungan.
Di Sulawesi Selatan, potensi urban farming sangat besar mengingat iklim tropis yang mendukung pertumbuhan berbagai jenis tanaman. Pemerintah daerah dapat berperan lebih aktif dalam memberikan pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat, serta memfasilitasi akses terhadap bibit unggul dan teknologi pertanian modern. Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas sangat penting untuk menciptakan ekosistem urban farming yang kuat dan berkelanjutan.
Urban farming juga dapat menjadi daya tarik wisata baru di perkotaan, dengan mengembangkan kebun-kebun edukatif yang terbuka untuk umum. Dengan demikian, urban farming tidak hanya memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pangan lokal dan gaya hidup berkelanjutan.
Wati, salah satu warga yang mempraktikkan urban farming bercerita, awalnya ia hanya melihat banyak lahan kosong di belakang rumah. Ia tak ingin menyia-nyiakan lahan terbengkalai begitu saja.
“Dari pada kubiarkan begitu saja, mending kubuat kebun kecil,” ujarnya. Ia juga mengatakan harga sayur di pasar yang terus naik juga jadi pemicu.
“Biasa juga kita tidak tahu segar atau tidak itu sayur yang ada di pasar. Jadi, kenapa tidak bikin kebun sendiri saja,” ujarnya. .
Lebih lanjut, Wati menjelaskan, kebun miliknya sudah setahun lebih ia merawat. Ada beberapa jenis tanaman yang ia tanam, di antaranya cabai kecil dan besar, tomat, jagung. Bahkan Wati juga pisang dan pohon durian.
Seiring waktu, jenis tanamannya makin beragam, termasuk ada juga tanaman herbal seperti jahe dan kunyit. Ketika sudah memasuki musim panen biasanya Wati mengonsumsi hasil panennya sendiri atau membagikannya ke keluarganya atau ke tetangga-tetangganya. Selain itu, terkadang ia menjual hasil panennya.
“Semenjak ada kebun, saya jarang mi ke pasar, setiap saya mau beli lombo (cabai) karena adami saya tanam di kebun dan bisa menghemat uang belanja,” jelasnya.
Wati mengaku, ia mengurus kebunnya tidak sendiri. Ada dukungan dari suami dan orang tuanya.
“Semenjak saya memiliki kebun kecil ini, saya bisa lebih hemat lagi dan membuat rumah terasa lebih hidup lagi,” katanya.
“Semoga urban farming ini bisa membawa perubahan. Dari lahan terbengkalai yang awalnya tak berguna, kemudian di sulap menjadi sumber pangan, sumber rezeki, bahkan ruang kebersamaan,” tambahnya.
Menumbuhkan harapan
Urban farming ini bukan hanya soal menanam, tetapi juga tentang menumbuhkan harapan. Dengan punya kebun sendiri, kita bisa memastikan makanan yang dikonsumsi segar dan bebas dari bahan kimia. Dan walaupun kecil, hasil panen bisa mengurangi belanja harian, bahkan jadi tambahan pemasukan kalau dijual, dengan hal ini dapat memberikan harapan bahwa kota bisa ramah lingkungan.
Jadi, urban farming ini bukan sekadar aktivitas fisik menanam saja, tetapi sebuah gerakan kecil yang membawa harapan besar berupa hidup lebih sehat, hemat, mandiri, dan peduli lingkungan.








