- Pemerintah dan CSO Kolaborasi Susun Peta Jalan Solarisasi Masjid, Integrasikan Ekosistem Wakaf dalam Transisi Energi - 16/04/2026
- Innit Lombok Peringati Hari Bumi dengan Komitmen Berkelanjutan di Teluk Ekas - 15/04/2026
- Berkas Lengkap, Tersangka Kasus Perburuan Liar Bersenjata di TN Komodo Segera Disidang - 14/04/2026
Klikhijau.com – Aksi bersih di Pantai Marumasa melibatkan 34 peserta berhasil mengumpulkan 574 kilogram sampah yang didominasi sampah anorganik berupa plastik dan karet.
Kegiatan yang digerakkan tim KKN-PPM UGM 2025 Periode II Kareba Kumba bersama dengan Indo Ocean Project, Kolaborasi Biru, dan Dego-degona Bira berlangsun Sabtu sore, 26 Juli 2025.
Person in charge program kerja Cleaning Up The Environment ini, Najwa, mengatakan urgensi pemilihan lokasi Pantai Marumasa karena kondisi yang sangat memprihatinkan dibandingkan pantai lainnya yang ada di Bira.
Meskipun pantai ini tak aktif lagi sebagai lokasi wisata, tapi menurut warga menjadi salah satu tempat bertelur penyu sehingga menjadi lokasi yang menarik perhatian komunitas lokal.
“Kami ke sini pertama kali itu lihat sampahnya luar biasa banyak, saat aksi bersih ini pun, makin digali makin banyak sampah-sampah yang terkubur,” jelasnya.
Perwakilan Indo Ocean Project, Yuly Vernianty mengatakan, kegiatan ini sebagai bentuk keresahan terhadap kondisi pantai yang tercemar polusi plastik. Meski bukan pemukiman pendudukan tapi kondisi sampah di Marumasa perlu penanganan intens.
Selain sampah anorganik juga limbah kayu yang perlu perhatian karena dapat terbawa arus kembali ke laut dan merusak karang.
“Kolaborasi dengan komunitas lokal untuk aksi bersih di pantai ini sering tapi masalah sampah belum selesai. Kita hanya satu setengah jam saja aksinya, sudah sebanyak ini,” sesalnya.
Aksi bersih yang dilakukan Indo Ocean secara rutin dua kali sebulan berpusat di kawasan wisata Bira untuk mendukung wisata bahari berkelanjutan.
Relawan Kolaborasi Biru, Anjar menambahkan, aksi bersih ini hanya bersifat pemindahan sampah dari pantai ke Tempat Pembungan Akhir (TPA). Sampah yang menumpuk dan berserakan sangat usang bahkan banyak plastik kemasan mulai rapuh sehingga sulit dipilih dan didaur ulang melalui bank sampah.
“Sulit untuk mengurangi volume sampah karena usia sampah. Kami hanya bisa berharap kepada pengunjung untuk tidak meninggalkan sampahnya di pantai,” katanya.
Tantangan aksi bersih yang dihadapi, tidak adanya TPA yang aktif di wilayah Bontobahari. Sampah yang dikumpulkan dikerjasamakan dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Bulukumba untuk pengangkutan ke TPA milik pemerintah.








