Simpan Potensi Gempa hingga Magnitudo 9, Ini Daftar 15 Segmen Megathrust di Indonesia

oleh -177 kali dilihat
Peta sebaran sumber gempa bumi zona megathrust di Indonesia-Foto: Pusgen, 2017.

Klikhijau.com – Gempa megathrust belakangan ini hangat dibincangkan. Apalagi Indonesia termasuk salah satu negara “langganan” gempa bumi. Hal itu disebabkan karena Indonesia terletak di kawasan cincin api Pasifik.

Gempa yang terjadi kerap menimbulkan kerusakan yang tidak sedikit, bahkan menelan korban jiwa.

Salah satu gempa yang ditakutkan akan terjadi adalah gempa megathrust. Namun, meski menjadi ancaman serius, pakar gempa dan dosen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Ir. Gayatri Indah Marliyani mengimbau kepada masyarakat agar tidak panik (Baca INI)

Lalu apa sebenarnya gempa megathrust itu? Dilansir dari fahum.umsu, gempa megathrust adalah jenis gempa kuat yang terjadi di zona megathrust, yaitu zona subduksi aktif di mana lempeng tektonik samudra menekan di bawah lempeng tektonik benua.

KLIK INI:  Kembang Hujan

Zona megathrust ini adalah area di mana dua lempeng bertemu dan menghasilkan medan tegangan di kontak antar lempeng. Jika medan tegangan ini dilepaskan secara mendadak, maka akan terjadi gempa bumi besar.

Istilah “megathrust” berasal dari dua kata, “mega” yang berarti besar, dan “thrust” yang berarti dorongan atau tekanan. Gempa ini dapat mencapai magnitudo hingga 9,9, menjadikannya salah satu gempa paling kuat yang berpotensi menimbulkan tsunami.

Sebagai negara “langganan” gempa, Indonesia berada pada zona waspada. Dilansir dari Antara, Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nuraini Rahma Hanifa membeberkan berbagai potensi maksimal gempa yang bisa terjadi di 15 segmen megathrust yang ada di Indonesia.

KLIK INI:  Polusi Udara Tingkatkan Risiko Dimensia, Begini Penjelasannya!

Rahma mengungkapkan ada 15 segmen megathrust yang membentang dari sepanjang pesisir barat Sumatera Selatan, Jawa, sampai selatan Bali, NTT, NTB, di Utara Sulawesi, dan Utara Papua.

“Memang kalau secara potensinya itu bisa magnitudo-nya sampai 9 ya,” katanya dalam gelar wicara yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin, 1 September 2024.

Rahma memaparkan berbagai potensi tersebut terdapat di segmen Aceh-Andaman dengan potensi 9,2 Magnitudo maksimum (Mmax), Nias-Simeulue 8,9 Mmax, Kepulauan Batu 8,2 Mmax, Mentawai-Siberut 8,7 Mmax, Mentawai-Pagai 8,9 Mmax, Enggano 8,8 Mmax, serta Selat Sunda-Banten 8,8 Mmax. 

Kemudian, Jawa Barat 8,8 Mmax, Jawa Tengah-Timur 8,9 Mmax, Bali 9,0 Mmax, Nusa Tenggara Barat (NTB) 8,9 Mmax, Nusa Tenggara Timur 8,7 Mmax, Sulawesi Utara 8,5 Mmax, Filipina-Maluku 8,2 Mmax, Laut Banda Utara 7,9 Mmax, serta Laut Banda Selatan 7,4 Mmax.

KLIK INI:  Lindungi DAS Balantieng dan Dampingi Petani Gula Aren, DMT Susun Proker Bulan Juni 2024

Menurut Rahma, gempa megathrust memiliki ciri khusus yang siklusnya berulang.

“Dari 15 segmen megathrust ini, kita punya sejarah 20 tahun yang lalu persis tahun 2004, kita mengalami gempa megathrust di Aceh,” ujarnya.

Selain gempa Aceh, kata Rahma, gempa megathrust juga dialami di Pangandaran, Jawa Barat dan Pulau Nias, Sumatera Utara pada 2006 dan Pacitan, Jawa Timur pada 1994 silam.

Megathrust ini gempa yang siklusnya berulang, jadi memang potensi ke depan itu untuk megathrust ya dia akan ada, dan akan berulang. Tapi, mungkin memang periode waktunya cukup panjang ya,” ujarnya.

Adapun terkait risiko terbesar, kata Rahma, tidak hanya dipengaruhi dengan skala magnitudo terbesar, melainkan juga dipengaruhi dengan seberapa banyak penduduk yang terdapat dalam kawasan di segmen-segmen tersebut.

KLIK INI:  Perihal Banjir di Sentani, Begini Temuan KLHK dan Solusi Pemulihannya

“Artinya, kalau kita mempertemukan skala gempa megathrust yang besar dengan penduduk yang paling padat, maka risikonya menjadi lebih tinggi di Pulau Jawa ini,” ujarnya.

Meski demikian, Rahma menegaskan megathrust bukanlah sebuah bencana, melainkan merupakan fenomena alam yang pasti terjadi, karena fluktuasi dan revolusi bumi yang mengakibatkan dinamika alam.

Untuk itu, ia mendorong kepada seluruh masyarakat Indonesia, baik para pemangku kepentingan terkait maupun seluruh warga untuk bersama-sama memperkuat diri untuk bisa beradaptasi dan mengantisipasi fenomena gempa megathrust, sebagai upaya mitigasi diri dari bencana besar, yang dapat menyelamatkan banyak nyawa manusia.

KLIK INI:  Tak Ada Tanda Tangan yang Sempurna