6 Penyair Arab Beserta Puisinya dengan Diksi Alam yang Menyentuh

Klikhijau.com - Setiap negara pasti memiliki penyair yang memotret realitas sosial yang ada. Tak terkecuali negara negara Arab, juga melahirkan penyair yang lebih dikenal dengan nama penyair arab. Pen...

6 Penyair Arab Beserta Puisinya dengan Diksi Alam yang Menyentuh
Bacakan Artikel

Tanah kami yang hijau, palestina kami,
Bunga-bunganya seakan sulaman pada gaun wanita kami,
Bulan maret menghiasi bukit-bukitnya
Dengan bunga narsis dan kembang piun seindah permata

Bulan april mekar di padang-padang terbuka
Dengan kembang dan bunga-bunga bagi pengantin jelita,
Bulan mei ialah nyanyian pedesaan kami
Yang kami nyanyikan selalu

Di tengah hari di bawah bayang-bayang biru
Pohon-pohon zaitun di lembah-lembah kami,
Sementara di ladang-ladang yang bermasakan
Kami menunggu janji bulan juli
Dan tarian riang di tengah panen.

Tanah kami zamrud berkilauan,
Tetapi di gurun-gurun pengasingan
Musim semi demi musim semi,
Hanya debu yang bersiut di wajah kami.
Maka mau apa lagi kami dengan cinta kami
Bila mata dan mulut kami penuh debu dan udara beku begini?

Jabra Ibrahim Jabra lahir pada tahun 1919 di Betlehem, Palestina. Ia belajar di Perguruan Tinggi Arab di Jerusalem dan kemudian di Universitas Cambridge. Kini ia tinggal di Irak dimana ia terkenal sebagi novelis, kritikus dan penyair. Ia telah menerbitkan du kmpulan sajaknya: Tammuz fi al-Madinah (Juli di Kota), al-Madar al-Mughlaq (Lingkungan Tertutup).

[irp]


  • Ahmad Abd Al-Mu'ti Hijazi



Teks Untuk Sebuah Lanskap

Matahari terbenam di kaki langit musim dingin,
Matahari merah.
Awan-awan timah
Ditembus berkas-berkas cahaya,
Dan aku, seorang anak desa,
Disergap malam.
Mobil kami melulur benang aspal,
Mendaki dari desa kami ke kota
Dan ketika itu, ingin aku
Sekiranya dapat, menghebmuskan diri
Ke hijau daunan yang lembab itu!
Ahmad Abd Al-Mu'ti Hijazi lahir di sebuah dusun di Delta Nil tahun 1935, Hijazi belajar di pendidikan Tinggi Guru di Kairo. Ia mengembangkan kecenderungan-kecenderungan seorang sosialis, yang terbayang dalam puisinya. Karya-karyanya meliputi: Madinah bila Qalb (Kota tak Berhati), Lam Yabqa illa al-Iโ€™tiraf (Tiada Yang Tinggal Kecuali Pengakuan), dan Uras (Horace).

[irp]


  • Ali Mahmud Taha



Nyanyian Pedesaan

Ketika air membelai bayang-bayang pohonan,
Dan awan-awan mencumbu cahaya bulan;
Burung-burung mempedengarkan nyanyian mereka
Bergema di antara embun dan bunga;
Dan merpati menyatakan gairah hatinya,
Mendengkur pada kekasihnya dan meratapi nasibnya;
Bibir-bibir angin menyapu permukaan air dan
Mencium setiap layar yang berlintasan;
Dari dalam malam bumi memperlihatkan
Beragam bentuk keindahan;
Di sana dalam gelap berdiri pohon safsafat
Seakan kelam di seputarnya pun tak melihat,
Dan dalam lindap bayang-bayangnya duduk aku
Dengan hati risau dan tatapan sayu.
Ali Mahmud Taha lahir di al-Mansurah, Mesir. Meski ia seorang insinyur, ia dikenal sebagai anggota gurp Apolo dan sebagai penyair romantik terkemuka di antara penyair-penyair Arab kontemporer. Ia banyak melakukan perjalanan ke Eropa dan merekam kesan-kesannya dalam sajak-sajak lirik, yang beberapa di antaranya dijadikan lagu dan menjadi terkenal. Himpunan sajak-sajaknya antara lain: al-Mallah al-Taโ€™ih (Pelat Sesat), Layali al-Malah al-Taโ€™ih (Malam Demi Malam Bagi Pelaut Sesat) dan Zahr wa Khamr (Bunga dan Anggur).

[irp]

Pilih Halaman: