4 Fakta Unik Pohon Raksasa “Kalumpang Lompoa” di Bantaeng

Klikhijau.com - Dalam rute perjalanan pulang dari Sinjai, mampirlah kami di Bantaeng. Kota ini memang terkesan lebih sejuk nan rindang. Tetapi, kami sudah terbiasa dengan suasana kotanya yang bersih....

4 Fakta Unik Pohon Raksasa “Kalumpang Lompoa” di Bantaeng
Bacakan Artikel

“Yah, begitulah bagi sebagian orang,” katanya.

Mungkin itulah sebabnya, pohon ini tumbuh lestari dan terawat hingga sekarang. Mistis dan kepercayaan terhadap pepohonan memang pernah berkembang di banyak tempat di Indonesia.

“Entah kenapa, pohon-pohon berjatuhan dan kehilangan aura mistiknya, atas nama modernisasi,” kata saya berdiskusi dengan kawan-kawan.

Kami berkeliling di sana hingga petang menjemput. Berdiskusi dengan warga sekitar. Berikut 4 fakta unik di balik kelestarian pohon raksasa “kalumpang lompoa” di Bantaeng yang kami temukan.

[irp posts="5164" name="Caleg Boleh Gagal, Tapi Tancapan Paku APK di Pepohonan, Jangan"]



  • Mulai langka di Bantaeng



Warga sekitar menyebutnya “pohon kalumpang”, atau pohon kepuh. Dalam bahasa latin dinamakan sterculia foetida linnini. Pohon kepuh memang satu jenis yang dapat tumbuh tinggi hingga 40 meter. Kepuh dalam bahasa Inggris berarti “wild almond” konon karena bentuk bijinya menyerupai biji almond. Kini, pohon ini termasuk langka seiring perkembangan lahan pertanian dan perkebunan.


  • Sudah berusia 600 tahun



Menurut pengakuan tetua di Passangarrang, pohon raksasa ini sudah berusia sekitar 600 tahun. Konon pohon ini merupakan peninggalan kerajaan Butta Toa yang terus dilestarikan untuk mengenang kejayaan sejarah.


  • Dikeramatkan sebagian warga



Hingga saat ini, masih banyak warga yang berdatangan di “kalumpang lompoa” sembari membawa makanan tertentu. Ritual paling terkenal di sana adalah upacara bakar ayam kampung lalu makan bersama.

Sebenarnya, ritual ini adalah bagian dari rasa syukur kepada yang maha kuasa. Dahulu, lokasi ini menjadi tempat berkumpul dan penyerahan hasil bumi yang dilakukan dengan pesta adat tradisional. Namun, budaya sesajen perlahan berkurang sejak masuknya Islam di Bantaeng.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: