Tahapan Menuju Sempurna bagi Seekor Kupu-Kupu

Klikhijau.com - Pasti sudah pada paham ya? Bahwa seekor kupu-kupu memiliki siklus hidup yang sempurna. Siklus hidup mulai dari telur, ulat, pupa, dan imago. Pemahaman tersebut telah kita dapatkan bers...

Tahapan Menuju Sempurna bagi Seekor Kupu-Kupu
Bacakan Artikel

"Dari bentuk ulatnya yang sudah instar terakhir, lebih cenderung ke kupu-kupu ekor walet ascalaphus, nama Indonesia untuk spesies Papilio ascalaphus," balasan pesan singkat Muslim Aulia Furgan, Sahabat Kupu-kupu Indonesia yang berdomisili di Palu, Sulawesi Tengah.

Wah saya jadi senang mendengarnya. Mengingat selama ini sepengetahuan saya, ascalaphus lebih menyukai jeruk bali sebagai tumbuhan inangnya. Ini juga menjadi tambahan ilmu bagi saya dan ilmu pengetahuan secara umum.

Hal tersebut membuat saya tambah penasaran. Karena itu saya berniat untuk merawatnya. Setidaknya sebuah kepompong. Untuk menguatkan pembuktian bahwa benar, kepompong tersebut adalah bagian tahapan kehidupan kupu-kupu ekor walet ascalaphus.

Incaran predator

Presentase keberhasilan menet as di alam juga cukup menantang bagi kepompong. Beragam predator yang mengincarnya. Satu suntikan predator, cukup untuk membuat kepompong gagal menetas menjadi kupu-kupu yang menawan.

Namun begitulah alam bekerja. Boleh jadi kupu-kupu akan menghasilkan beberapa telur, puluhan atau bahkan ratusan jumlahnya, namun hanya sebagian yang akan menjadi ulat. Begitu pun saat menjadi ulat, ada sejumlah pemangsa mengintainya. Burung, capung, atau bahkan cicak. Padahal terkadang ia telah berkamuflase dengan mengikuti warna sekitarnya. Berwarna hijau seperti daun tempat ia mengunyah lembar demi lembar.

Dari sebagian ulat yang tersisa, jumlahnya akan terus berkurang untuk tahapan menjadi kepompong. Begitu pun saat menjadi kepompong, ada serangga tertentu yang menjadi predatornya. Serangga yang menjadikan kepompong sebagai tempat ia bertelur. Menjadikan kepompong gagal karena terganggu proses pembentukan bagian-bagian tubuh kupu-kupu.

Kepompong layaknya manusia yang sedang berpuasa. Tak makan dan minum, namun terus berbenah diri. Menuju puncak kemenangan. Menjadi kupu-kupu yang lentik dengan sayap berwarna-warni. Saat terbang nampak kemayu. Memikat siapa pun yang melihatnya.

Bagi manusia yang berpuasa, menyiapkan diri menuju puncak. Beramal dan Memperbaiki akhlak menuju kemenangan. Kemenangan menjadi manusia berbudi pekerti baik, berfaedah bagi manusia lain dan alam sekitarnya.

Oh ya setelah menjadi kupu-kupu dewasa, ia juga tak luput dari predator. Burung, soa-soa atau bahkan capung mengincarnya di alam. Namun lebih dahsyat lagi, jika ia tertangkap jaring pemburu. Ia akan tercekik oleh dua jari si predator. Memanennya tanpa belas kasihan. Sungguh ironi. Saya kira manusia termasuk predator puncak bagi kupu-kupu. Bahkan di beberapa wilayah di tanah air, mereka juga mengincar ulat kupu-kupu sebagai sumber makanan.

Saya terus memantau perkembangan tahapan si kupu. Terakhir kemarin, tanggal 20 Maret 2025 saya kembali menyapanya. Kepompongnya masih bertengger anggun di batang jeruk. Ulat entah ke mana bersembunyi. Barangkali juga sudah berubah menjadi kepompong. Mudah-mudahan mereka bisa survive hingga menjadi imago yang menawan.

Pasti penasaran dengan wujud kupu-kupunya ya! Saya pun tak kalah antusiasnya menanti mereka menetas dari kepompong. Mencapai puncak kemenangannya.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2