Suatu Pagi, Bumi Mati di Sebuah Kota

Perempuan itu terlihat kuyu, ia rela berpanasan menjagai dagangannya yang tak seberapa—yang pembelinya bisa ditebak, hanya dari satu jenis kelamin; laki-laki. Ia berjualan di jalan depan kantor bupati...

Suatu Pagi,  Bumi Mati di Sebuah Kota
Bacakan Artikel

Perempuan itu terlihat kuyu, ia rela berpanasan menjagai dagangannya yang tak seberapa—yang pembelinya bisa ditebak, hanya dari satu jenis kelamin; laki-laki. Ia berjualan di jalan depan kantor bupati yang dibuka setiap hari Ahad jam 6-10 pagi.

Perempuan kuyu itu meletakkan jualannya di aspal beralaskan potongan baliho sisa kampanye. Ia menjual obat yang bikin wajah memerah jika lama memilih atau menawar. Pembeli biasanya bertanya sekilas, membeli lalu pergi. Barangkali malu-malu jika ketahuan kenalannya jika membeli obat untuk keperkasaan pria.

Perempuan itu telah lama berjualan dengan tabah. Ahad lalu ada  yang bertanya kasiat Hajar Jahanam Mesir kepadanya. Perempuan itu melotot. Mungkin karena pertanyaan itu serasa menempeleng wajahnya.

“Ini tahan berapa lama?” tanya si pembeli

“Empat jam,”

“Wao, lama ya. Ibu tahan juga,” kata lelaki itu. Wajah si perempuan kuyu itu memerah. Perempuan menjual obat kuat memang harus kuat pula mentalnya. Itu kecelakaan yang retak.

Perempuan itu  tak menawarkan dagangannya, diam saja menunggu pembeli laki-laki yang melirik malu-malu. Di seberang jalan,  di hadapan  penjual obat kuat itu. Sepasang suami istri, yang baru tiga kali hari Ahad datang berjualan—berteriak-teriak menawarkan dagangannya

Serbuk putih yang mereka jual serupa abu gosok, tapi   berbusa. Busanya sangat banyak. Ia lebih tertarik kepada penjual serbuk pencuci pakian itu daripada penjual lain, termasuk penjual obat kuat . Di rumah banyak pakiannya yang kotor,  daki yang menempel di kerah baju, getah buah mangga, bercakan tinta saat pemilu dulu. Dan itu lebih utama. Baju biru andalannya terkena tumpahan tinta saat seorang warga protes karena tak diberi hak suara. Orang tersebut mengambil tinta di depannya lalu menumpahkan ke baju birunya. Baju yang hanya dipakai saat ada hajatan besar.

Baju

Entah bagaimana kamu temukan baju yang pas di tubuhnya? Selama ini jika kamu membelikannya— jika tak kebesaran pasti akan kekecilan, tapi baju yang kamu beli dengan diskon hingga 75 persen itu benar-benar serasi, benar-benar pas.

Baju itu masih terlihat baru. Baru pula empat kali ia pakai. Saat mencobanya pertama kali—ia tak akan lupa peristiwa itu. Tiga hari sebelum lebaran Idul Fitri, saat takbir mulai membela sunyi. Saat air mata ramadan tumpah karena akan meninggalkan bumi, meninggalkan umat Muhammad yang bertakwa. Kamu datang dengan kusut. Ia sedang membaca buku Lelaki Tua dan Laut dari Ernest Hemengway. Kamu tersenyum melihatnya lalu mengeluarkan sesuatu yang dibungkus koran bekas dari tas rajutan andalanmu. Kamu menyodorkannya. Ia membuka koran bekas itu—isi kemeja biru. Ia menerimanya dengan bergetar bahagia.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: