Suatu Pagi, Bumi Mati di Sebuah Kota

Publish by -395 kali dilihat
Irhyl R Makkatutu
Irhyl R Makkatutu

Perempuan itu terlihat kuyu, ia rela berpanasan menjagai dagangannya yang tak seberapa—yang pembelinya bisa ditebak, hanya dari satu jenis kelamin; laki-laki. Ia berjualan di jalan depan kantor bupati yang dibuka setiap hari Ahad jam 6-10 pagi.

Perempuan kuyu itu meletakkan jualannya di aspal beralaskan potongan baliho sisa kampanye. Ia menjual obat yang bikin wajah memerah jika lama memilih atau menawar. Pembeli biasanya bertanya sekilas, membeli lalu pergi. Barangkali malu-malu jika ketahuan kenalannya jika membeli obat untuk keperkasaan pria.

Perempuan itu telah lama berjualan dengan tabah. Ahad lalu ada  yang bertanya kasiat Hajar Jahanam Mesir kepadanya. Perempuan itu melotot. Mungkin karena pertanyaan itu serasa menempeleng wajahnya.

“Ini tahan berapa lama?” tanya si pembeli

“Empat jam,”

“Wao, lama ya. Ibu tahan juga,” kata lelaki itu. Wajah si perempuan kuyu itu memerah. Perempuan menjual obat kuat memang harus kuat pula mentalnya. Itu kecelakaan yang retak.

Perempuan itu  tak menawarkan dagangannya, diam saja menunggu pembeli laki-laki yang melirik malu-malu. Di seberang jalan,  di hadapan  penjual obat kuat itu. Sepasang suami istri, yang baru tiga kali hari Ahad datang berjualan—berteriak-teriak menawarkan dagangannya

Serbuk putih yang mereka jual serupa abu gosok, tapi   berbusa. Busanya sangat banyak. Ia lebih tertarik kepada penjual serbuk pencuci pakian itu daripada penjual lain, termasuk penjual obat kuat . Di rumah banyak pakiannya yang kotor,  daki yang menempel di kerah baju, getah buah mangga, bercakan tinta saat pemilu dulu. Dan itu lebih utama. Baju biru andalannya terkena tumpahan tinta saat seorang warga protes karena tak diberi hak suara. Orang tersebut mengambil tinta di depannya lalu menumpahkan ke baju birunya. Baju yang hanya dipakai saat ada hajatan besar.

Baju

Entah bagaimana kamu temukan baju yang pas di tubuhnya? Selama ini jika kamu membelikannya— jika tak kebesaran pasti akan kekecilan, tapi baju yang kamu beli dengan diskon hingga 75 persen itu benar-benar serasi, benar-benar pas.

Baju itu masih terlihat baru. Baru pula empat kali ia pakai. Saat mencobanya pertama kali—ia tak akan lupa peristiwa itu. Tiga hari sebelum lebaran Idul Fitri, saat takbir mulai membela sunyi. Saat air mata ramadan tumpah karena akan meninggalkan bumi, meninggalkan umat Muhammad yang bertakwa. Kamu datang dengan kusut. Ia sedang membaca buku Lelaki Tua dan Laut dari Ernest Hemengway. Kamu tersenyum melihatnya lalu mengeluarkan sesuatu yang dibungkus koran bekas dari tas rajutan andalanmu. Kamu menyodorkannya. Ia membuka koran bekas itu—isi kemeja biru. Ia menerimanya dengan bergetar bahagia.

Ia mengira, pemberian kemeja itu untuk merayakan pertemuan pertamamu dengannya.  Karena  saat itu, usia pertempuan pertamamu dengannya tepat lima tahun. Seratus lima puluh tujuh hari kemudian ia datang melamarmu.

Pertemuan pertamanya denganmu tak pernah benar-benar ia lupa. Saat itu, malam baru saja tiba. Ia berpapasan denganmu di tangga menuju musolah di lantai dua sebuah warkop. Kamu lebih duluan menunaikan salat Magrib. Sisa air wuduh membeningkan wajahmu. Kamu tersenyum kepadanya dan ia tersenyum pula kepadamu.

Ia mencoba abaikan pertemuan di tangga itu. Setelah salat Magrib ia kembali ke meja. Ia kembali melihatmu.  Kamu di meja 08 dan ia di meja 07. Kamu kembali tersenyum kepadanya saat tatapan bertabrakan. Dan ia membalas senyummu. Nomor meja itu seperti sebuah tali penghubung. Ia menyukai Sheila On 7 dan kamu menyukai sinetron Saras 008. Di depanmu ada tisu sementara tisu di mejanya sudah habis. Ia ingin melap layar laptopnya yang diburamkan debu.

“Boleh minta tisunya,” sapanya. Kamu mendongakkan kepala.

“Boleh,” jawabmu singkat sambil tersenyum. Lesung pipimu terlihat, kamu berlesung pipi ganjil, hanya di sebelah kanan.

“Terima kasih,” katanya dengan getar aneh. Ia tak pernah segugup itu saat berhadapan dengan perempuan.

Ia memerhatikanmu cukup lama, kamu membungkus mukenamu dengan koran bekas lalu masukkan  ke tas rajutan warna hijau bergambar bunga anggrek.  Itu hal yang aneh baginya, kenapa bukan di kantong plastik—yang orang lain banyak digunakan. Pertanyaan itu tumbuh di kepalanya. Lalu setelah menikahimu ia temukan jawabannya, jika sudah lama kamu puasa menggunakan kantong plastik karena sulit terurai dalam tanah. Kantong plastik adalah ancaman serius bagi lingkungan.

Ia tersenyum membayangkan peristiswa pertemuannya denganmu. Lalu semua tabir terbuka. Pertemuan di tangga tersebut membawa jalan ke tangga rumah; rumah tangga. Dan saat baju kemeja biru itu kamu serahkan padanya, pertemuan pertama itu  telah lima  tahun berlalu.

“Apa ini hadiah perayaan pertemuan kita lima tahun lalu?”

Kamu terdiam beberapa jenak

“Anggap saja begitu, lagian mumpung diskon 75 persen,” katamu sambil tersenyum genit.

Genit

Penjual serbuk pembersih itu dikerumuni orang. Lima ember berisi air, potongan kulit nangka, tinta, oli, dan lainnya yang ditakuti pakian. Sabun cuci  yang banyak beredar iklannya di TV  kalah telak. Ia membayangkan kegembiraanmu  jika tinta di kemeja biru yang kamu dibelikan untuknya bisa lannya’ ‘hilang’

Orang-orang hanya berkerumun, sedikit saja yang membeli meski si perempuan yang membantu suaminya berjualan telah bergenit-genit menjelaskan keunggulan jualannya.  Tapi tetap saja kurang yang beli.

“Beli, sayang istri!” Bujuk perempuan itu  diamini suaminya

Bujukannya gagal, orang bubar tanpa membeli.

 Membeli

Ahad keempat sepasang suami istri itu kembali datang. Membawa lima ember berisi air, tapi tak ada lagi kain sebagai alat peraga yang mereka cuci.  Yang mereka bawa adalah otak dan hati manusia. Orang yang melihatnya kaget dan berdesakan ingin menonton. Satuan Polisi Pamong Praja diturunkan berjaga-jaga.

“Silakan merapat, bagi yang ingin cuci otak, bagi yang ingin cuci hati” ujarnya promosi sambil mengeluarkan tiga otak dan dua hati yang telah dipenuhi noda.

“Semua noda bisa hilang,” katanya lagi

Dua orang ibu-ibu berhamburan muntahnya begitu melihat otak tersebut. Orang-orang datang berjubel. Penjual yang tiga kali hari Ahad  diabaikan kini jadi idola. Penjual obat kuat, si ibu kuyu itu pun bergabung meninggalkan jualannya.

Satuan Polisi Pamong Praja segera membuat batas. Juru parkir mendekat, dengan sangat cepat pula, entah bagaimana caranya sehingga karcis antrian tersedia. Semua orang dibagikan karcis, kantong plastic, dan pisau catter.

“Yang sudah dapat karcis antrian silakan keluarkan otak dan hatinya, masukkan ke kantong plastik supaya tidak jatuh,” teriak komandan Satpol

Dua, lima, tujuh, sepuluh, tujuh belas orang secara bersamaan mengeluarkan hati dan otaknya untuk dicuci. Ia berlari pulang ke rumah, ingin meminjam tas rajutan andalanmu yang berwarna hijau bergambar anggrek. Ia ingin memasukkan otak dan hatinya, ia tak ingin mengkhianatimu dengan menggunakan kantong plastik.

Antrian kian memanjang. Orang-orang berdatangan ingin mencuci otak dan hatinya. Darah memenuhi jalan di depan kantor bupati itu. Semua orang mengiris tubuhnya sendiri, mengeluarkan hati dan otaknya untuk dicuci. Bau anyir menyengat memenuhi kota, kantong plastik berisi otak dan hati berhamburan membunuh bumi.

Rumah kekasih, 14 Agustus 2018

————

Tentang Penulis

Irhyl R Makkatutu, Lahir di Desa Kindang Bulukumba, Alumni Bahasa dan Sastra Unismuh Makassar. Pencetus Ikatan Pemerhati Seni dan Sastra (IPASS). Saat ini tinggal di Sungguminasa, Gowa.

KLIK Pilihan!