Suatu Pagi, Bumi Mati di Sebuah Kota

Perempuan itu terlihat kuyu, ia rela berpanasan menjagai dagangannya yang tak seberapa—yang pembelinya bisa ditebak, hanya dari satu jenis kelamin; laki-laki. Ia berjualan di jalan depan kantor bupati...

Suatu Pagi,  Bumi Mati di Sebuah Kota
Bacakan Artikel

Kamu terdiam beberapa jenak

“Anggap saja begitu, lagian mumpung diskon 75 persen,” katamu sambil tersenyum genit.

Genit

Penjual serbuk pembersih itu dikerumuni orang. Lima ember berisi air, potongan kulit nangka, tinta, oli, dan lainnya yang ditakuti pakian. Sabun cuci  yang banyak beredar iklannya di TV  kalah telak. Ia membayangkan kegembiraanmu  jika tinta di kemeja biru yang kamu dibelikan untuknya bisa lannya’ ‘hilang’

Orang-orang hanya berkerumun, sedikit saja yang membeli meski si perempuan yang membantu suaminya berjualan telah bergenit-genit menjelaskan keunggulan jualannya.  Tapi tetap saja kurang yang beli.

“Beli, sayang istri!” Bujuk perempuan itu  diamini suaminya

Bujukannya gagal, orang bubar tanpa membeli.

 Membeli

Ahad keempat sepasang suami istri itu kembali datang. Membawa lima ember berisi air, tapi tak ada lagi kain sebagai alat peraga yang mereka cuci.  Yang mereka bawa adalah otak dan hati manusia. Orang yang melihatnya kaget dan berdesakan ingin menonton. Satuan Polisi Pamong Praja diturunkan berjaga-jaga.

“Silakan merapat, bagi yang ingin cuci otak, bagi yang ingin cuci hati” ujarnya promosi sambil mengeluarkan tiga otak dan dua hati yang telah dipenuhi noda.

“Semua noda bisa hilang,” katanya lagi

Dua orang ibu-ibu berhamburan muntahnya begitu melihat otak tersebut. Orang-orang datang berjubel. Penjual yang tiga kali hari Ahad  diabaikan kini jadi idola. Penjual obat kuat, si ibu kuyu itu pun bergabung meninggalkan jualannya.

Satuan Polisi Pamong Praja segera membuat batas. Juru parkir mendekat, dengan sangat cepat pula, entah bagaimana caranya sehingga karcis antrian tersedia. Semua orang dibagikan karcis, kantong plastic, dan pisau catter.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: