Suatu Pagi, Bumi Mati di Sebuah Kota

Perempuan itu terlihat kuyu, ia rela berpanasan menjagai dagangannya yang tak seberapa—yang pembelinya bisa ditebak, hanya dari satu jenis kelamin; laki-laki. Ia berjualan di jalan depan kantor bupati...

Suatu Pagi,  Bumi Mati di Sebuah Kota
Bacakan Artikel

“Yang sudah dapat karcis antrian silakan keluarkan otak dan hatinya, masukkan ke kantong plastik supaya tidak jatuh,” teriak komandan Satpol

Dua, lima, tujuh, sepuluh, tujuh belas orang secara bersamaan mengeluarkan hati dan otaknya untuk dicuci. Ia berlari pulang ke rumah, ingin meminjam tas rajutan andalanmu yang berwarna hijau bergambar anggrek. Ia ingin memasukkan otak dan hatinya, ia tak ingin mengkhianatimu dengan menggunakan kantong plastik.

Antrian kian memanjang. Orang-orang berdatangan ingin mencuci otak dan hatinya. Darah memenuhi jalan di depan kantor bupati itu. Semua orang mengiris tubuhnya sendiri, mengeluarkan hati dan otaknya untuk dicuci. Bau anyir menyengat memenuhi kota, kantong plastik berisi otak dan hati berhamburan membunuh bumi.

Rumah kekasih, 14 Agustus 2018

------------


Tentang Penulis

Irhyl R Makkatutu, Lahir di Desa Kindang Bulukumba, Alumni Bahasa dan Sastra Unismuh Makassar. Pencetus Ikatan Pemerhati Seni dan Sastra (IPASS). Saat ini tinggal di Sungguminasa, Gowa.

Pilih Halaman: