Rp53 Triliun Ekspor Pertanian Afrika Timur Terancam: Regulasi Semakin Ketat

Klikhijau.com - Pendapatan ekspor Afrika Timur senilai Rp53,4 triliun (€2,75 miliar) terancam seiring pasar global semakin memperketat penegakan aturan ketertelusuran. Para eksportir pertanian kini...

Rp53 Triliun Ekspor Pertanian Afrika Timur Terancam: Regulasi Semakin Ketat
Bacakan Artikel

Tantangan lain muncul dari distribusi biaya kepatuhan yang belum merata di sepanjang rantai pasok. Senior Head of Markets EMEA Koltiva, Fanny Butler, menegaskan bahwa “tidak ada keberlanjutan tanpa ketertelusuran, dan permintaan ke depan akan terus meningkat.” Ia menilai skema pembiayaan bersama antara pembeli, pemasok, dan mitra pembangunan merupakan pendekatan paling realistis untuk mempercepat kepatuhan di wilayah pedesaan yang didominasi petani kecil. Menurutnya, praktik terbaik eksportir terkemuka menunjukkan bahwa pembeli perlu mendukung proses onboarding, pemasok memastikan kualitas data, dan mitra pembangunan berperan dalam menanggung biaya pemetaan.

Dari perspektif pasar global, CEO dan Co-Founder Koltiva, Manfred Borer, menilai Afrika Timur memiliki sumber daya, ekosistem produksi, dan permintaan internasional yang kuat. “Yang dibutuhkan saat ini adalah kesiapan yang bergerak selaras. Ketertelusuran bukan lagi inisiatif bagi sebagian kecil pelaku industri, tetapi tiket untuk memasuki pasar global bernilai tinggi,” ujarnya. Pernyataan ini menggambarkan tren industri yang semakin melihat ketertelusuran sebagai aset strategis, bukan sekadar kewajiban regulasi.

Para ahli sepakat bahwa langkah ke depan membutuhkan tiga pendekatan utama: meningkatkan pemahaman regulasi di seluruh rantai pasok, melakukan asesmen sumber untuk memverifikasi geolokasi dan risiko deforestasi, serta menerapkan teknologi digital yang sesuai dengan kondisi lapangan. Ketiga hal ini bukan lagi pilihan tambahan, melainkan prasyarat dasar untuk mempertahankan akses ke pasar premium.

Afrika Timur diproyeksikan menyumbang 19% pertumbuhan tambahan produksi pertanian global dalam dekade mendatang (OECD–FAO, 2025), menegaskan potensi jangka panjang kawasan ini. Namun, peluang tersebut hanya dapat terwujud jika eksportir, prosesor, koperasi, dan pemerintah bergerak cepat menutup kesenjangan kepatuhan yang masih terjadi. Dengan standar keberlanjutan global yang semakin ketat,

[irp]

Pilih Halaman: