Sorotan Hari HAM, Bisnis Ekstraktif di Sulsel Kian Massif, Ancaman Serius!

Klikhijau.com - Bisnis ekstraktif yang didominasi oleh pertambangan dan perkebunan kelapa sawit, terus menunjukkan gelombang ekspansi yang masif di Sulawesi Selatan. Ekspansi ini bukan sekadar angka p...

Sorotan Hari HAM, Bisnis Ekstraktif di Sulsel Kian Massif, Ancaman Serius!
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Bisnis ekstraktif yang didominasi oleh pertambangan dan perkebunan kelapa sawit, terus menunjukkan gelombang ekspansi yang masif di Sulawesi Selatan. Ekspansi ini bukan sekadar angka pertumbuhan ekonomi, melainkan fakta pahit yang mengubah lanskap sosial dan ekologis secara mendasar.

Menegaskan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional melalui sorotan publik diarahkan pada serangkaian pelanggaran HAM yang tak terhindarkan seiring meluasnya tapak industri ini.

Untuk membedah isu krusial ini, Walhi dan PBHI (Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia) Wilayah Sulawesi Selatan, melangsungkan diskusi publik vital di salah satu cafe di jalan Letjen Hertasning, Kota Makassar, Rabu, 10 Desember 2025 dengan menghadirkan tiga narasumber yang memaparkan data dan analisis mendalam di hadapan para aktivis pergerak lingkungan yang hadir.

Paradoks yang mencuat dari ekspansi bisnis yang melaju tak terkontrol baik di Sulsel adalah adanya jurang kontradiksi yang lebar antara klaim pembangunan dan realitas penderitaan rakyat.

Di satu sisi, industri ekstraktif dipromosikan sebagai lokomotif kemajuan daerah, janji-janji kesejahteraan, dan pembuka lapangan kerja.

[irp]

Namun, di sisi lain, realitas di lapangan menunjukkan bahwa laju ekspansi ini seringkali direngkuh dengan perampasan lahan, kriminalisasi petani dan masyarakat adat yang menolak, hingga kerusakan lingkungan yang merenggut hak mereka atas air bersih dan lingkungan sehat hingga pelanggaran HAM paling mendasar.

Kasus-kasus sengketa lahan yang melibatkan korporasi raksasa melawan masyarakat kecil menjadi pemandangan yang rutin, menciptakan titik didih konflik agraria yang terus membara di berbagai pelosok Sulsel, menempatkan masyarakat sipil dalam posisi pertarungan.

Dampak dari konflik tak berujung ini bersifat sistemik dan jangka panjang. Diskusi yang dihelat oleh Walhi dan PBHI menegaskan bahwa isu HAM dalam bisnis ekstraktif bukan lagi sekadar isu lokal, melainkan permasalahan struktural yang memerlukan intervensi kebijakan segera.

Para Narasumber menunjukkan bagaimana kerugian ekologis kini berevolusi menjadi krisis kemanusiaan. Konflik agraria yang dipicu oleh ekspansi tambang dan sawit menyebabkan dislokasi sosial, hilangnya mata pencaharian tradisional, serta menurunnya kualitas kesehatan masyarakat akibat polusi.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: