Meninjau Ulang Rencana Bupati Bulukumba Datangkan Perusahaan Sawit

oleh -1.318 kali dilihat
Meninjau Ulang Rencana Bupati Bulukumba Datangkan Perusahaan Sawit
Direktur Walhi Sulsel, Muh. Al-Amin - Foto/Ist
Azwar Radhif

Klikhijau.com – Bupati Bulukumba terpilih, Andi Muhtar Ali Yusuf tengah mencoba membuka investasi di sektor kehutanan dan pertanian dengan menghadirkan perusahaan sawit di Bulukumba.

Hal ini dijelaskan dalam rapat bersama para pejabat Pemkab Bulukumba pada 18 Maret lalu. Andi Utta, sapaan akrabnya, tengah berusaha menggaet perusahaan raksasa perkebunan sawit, Salim Group untuk bersedia melakukan investasi di daerahnya.

Menurutnya, kehadiran sawit akan menambah pemasukan daerah sekaligus meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat setempat.

“Ini akan membuka lapangan kerja yang besar dan meningkatkan kesejahteraan, sehingga warga Bulukumba tidak lagi harus merantau ke Malaysia atau Kalimantan,” harap Bupati Bulukumba sebagaimana dikutip dari media Pemkab Bulukumba.

Meski begitu, niat Andi Utta mendapat penolakan tegas dari pemerhati lingkungan.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sulsel dengan tegas tak sejalan dengan ide ini. Walhi menilai kehadiran perusahaan sawit akan memperparah rekam jejak konflik agraria yang telah berlangsung sejak masuknya PT Lonsum di wilayah adat masyarakat Kajang.

KLIK INI:  Mikroplastik Sebagai Petaka yang Mengancam Biota Laut
Pemda mestinya garap pertanian berkelanjutan

Menurut Walhi, pemerintah seharusnya belajar dari kasus perebutan tanah warga adat Kajang oleh perusahaan. Walhi menghawatirkan kejadian seperti itu bakal terulang dengan hadirnya perusahaan raksasa sekelas Salim Group.

Muhammad Al Amin selaku direktur Walhi Sulsel menjelaskan, “Kita khawatir masuknya sawit akan memperparah konflik agraria. Karena ini masih rencana, saya berharap (pemerintah) tidak melupakan konflik dan memprioritaskan penyelesaian konflik yang dialami masyarakat Kajang,” tegas Amin yang dihubungi Klikhijau, Jumat (19/3/2021).

Selain itu, bagi Walhi, perkebunan sawit akan memperparah laju kerusakan ekologis. Sifat tanaman sawit yang monokultura dianggap membahayakan lahan pertanian milik masyarakat yang berada di sekitar perkebunan.

“Sawit banyak memberi dampak negatif bagi kebun masyarakat karena sawit itu tanaman yang punya kekuatan menyerap air yang sangat besar. Sehingga ketika tanaman sawit berada di tengah perkebunan masyarakat dikhawatirkan kebun tak lagi subur,” sambungnya.

Untuk itu, Walhi berpesan agar Pemkab Bulukumba meninjau kembali rencananya untuk mengizinkan masuknya perusahaan sawit ke bumi Butta Panrita Lopi.

Ketimbang itu, Walhi menyarankan agar pemerintah mendorong budaya pertanian organik yang lebih ramah lingkungan dan untuk kehidupan berkelanjutan.

KLIK INI:  Tuntaskan Konflik Agraria, KLHK Targetkan Penetapan 6,35 Hektare Lahan Jadi Hutan Adat