Melacak Kendaraan yang “Tak Berdosa” sebagai Penyebab Polusi Udara

oleh -48 kali dilihat
Melacak Kendaraan yang “Tak Berdosa” sebagai Penyebab Polusi Udara
Becak-foto/google
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com –  Kendaraan bermotor mulai sulit dipisahkan dari rutinitas manusia. Kehadirannya dianggap solusi, terutama sebagai penggerak ekonomi.

Dengan adanya kendaraan bermotor, mobilitas masyarakat semakin lancar dan meluas. Tempat yang jauh menjadi dekat. Pergerakan pun semakin cepat.

Namun, perubahan aktivitas berkendara itu memakan korban pula. Ia menggerus keberadaan kendaraan yang menggunakan tenaga manusia atau hewan.

Masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan bermesin. Pergerakan waktunya lebih cepat. Pun jika ingin mengangkut barang muatnya lebih banyak.

KLIK INI:  Peringatan Hari Pohon Sedunia, Sebuah Upaya Mencintai Kehidupan

Maka secara otomatis kendaraan tanpa “asap” pun tersingkir. Sayangnya meski membawa banyak manfaat. Kendaraan bermotor, baik mobil maupun motor membawa pula petaka yang bernama pencemaran udara atau polusi udara.

Pencemaran udara adalah masuknya atau dimasukkannya zat, energi atau komponen lain ke dalam udara oleh kegiatan manusia. Sehingga melampaui baku mutu udara yang telah ditetapkan.

Setidaknya ada tiga yang menjadi sumber pencemaran udara, yakni sumber alami, sumber pedesaan (pertanian), dan  sumber perkotaan dan industri.

Sumber perkotaan dan industri ini, di dalamnya termasuk kendaraan bermotor. Di kota-kota besar, termasuk di Indonesia polusi udara yang disebabkan kendaraan bermotor sangat tinggi.

Adanya polusi udara memberi dampak buruk bagi kesehatan makhluk hidup, kerusakan lingkungan, ekosistem, dan hujan asam.

Semakin meningkat pertumbuhan suatu kota atau daerah. Maka akan beriringan pula dengan meningkatnya kegiatan manusia. Itu berarti pula  akan semaki bertambah jumlah kendaraan di jalan yang berakibat pada penurunan kualitas udara.

Namun demikian, di Indonesia kita masih bisa menemukan adanya kendaraan yang suci dari penyebab polusi udara, yaitu:

  • Becak

Becak, si roda tiga ini sangat populer sebelum motor dan mobil merasuk ke sendi kehidupan masyarakat.

Saat ini, meski masih bisa ditemukan, namun jumlah becak sudah sangat terbatas. Di Makassar dan sekitarnya banyak becak beralih fungsi. Tidak lagi dijadikan sebagai “kendaraan” angkutan untuk manusia.

Tapi telah disulap jadi pengangkut sampah. Becak dimanfaatkan oleh para pemulung mengangkut  barang-barang yang berhasil mereka dapatkan.

Kehadiran kendaraan bermotor  jadi penyebab utama para Daeng Becak (panggilan para penarik becak di Makassar) kehilangan mata pencaharaiannya. Banyak dari mereka yang “pensiun” menarik becak karena penumpang lebih memilih kendaraan yang bermesin.

Padahal kendaraan yang satu ini sangat ramah lingkungan. Karena tidak menggunakan bahan bakar sebagai penggeraknya. Becak adalah salah satu kendaraan yang tak berdosa sebagai penyebab polusi udara di perkotaan.

KLIK INI:  Polusi dan Perubahan Iklim Semakin Mempengaruhi Kesehatan Anak
  • Sepeda

Kendaraan roda dua ini. Memang kembali fenomena akhir-akhir ini. Namun, tidak lagi dijadikan sebagai kendaraan angkutan. Tapi lebih dijadikan kepada gaya hidup.

Setiap akhir pekan, banyak masyarakat yang melakukan tur menggunakan sepeda. Bahkan komunitas-komunitas sepeda banyak bermunculan.

Kegiatan bersepeda bukan lagi untuk mencari nafkah, tapi untuk mencari kesehatan karena sebagai ajang olahraga.

Meski begitu, semisal di Kota Makassar kita masih bisa menemukan masyarakat yang menggunakan sepeda untuk beraktivitas—khususnya para pedagang sayur dan ikan.

Kendaraan yang satu ini termasuk yang suci. Ia tak menyebabkan pencemaran udara.

  • Delman/bendi

Bendi atau delman tidak menggunakan mesin dan tenaga manusia. Berbeda dengan dua kendaraan di atas (sepeda dan becak). Kendaraan andalan masyarakat tempo dulu ini menggunakan kuda sebagai “mesinnya”

Menoleh ke belakang, sejarah mencatata jika delman atau bendi menjadi kendaraan paling mewah pada zaman kerajaan di nusantara.

Bukti pentingnya kendaraan ini masih bisa dilihat di Museum Balla Lompoa, Gowa. Di sana masih disimpan bodi delman. Ia telah menjadi barang langka sehingga layak dimuseumkan.

Namun, bukan berarti delman telah mati. Di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Kendaraan jenis ini masih diminati. Saya beberapa kali melihat masyarakat yang menggunakan delman ke pasar atau pulang dari pasar. Di Kabupaten Banteang pun kita masih bisa ditemukan kendaraan ini.

Tidak hanya di dua kabupaten tersebut. Jika kita menoleh  ke Kota Pendidikan, Yogyakarta. Delman masih mudah ditemukan. Ia  menjadi salah satu jenis angkutan yang memiliki daya tarik bagi wisatawan yang datang ke kota itu.

Perihal delman, pernah sangat populer di kalangan anak-anak. Bahkan Ibu Sud, yang terkenal sebagai pencipta lagu anak-anak pernah menciptakan lagu dengan judul “Naik Delman”. Berikut liriknya:

Pada hari Minggu ku turut ayah ke kota
Naik delman istimewa ku duduk di muka
Ku duduk samping pak kusir yang sedang bekerja
Mengendarai kuda supaya baik jalannya, hei

Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk
Tuk tik tak tik tuk tik tak suara sepatu kuda
Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk
Tuk tik tak tik tuk tik tak suara sepatu kuda

Tiga jenis kendaraan di atas, bisa dikategorikan sebagai kendaraan yang paling ramah lingkungan—yang tak berdosa sebagai penyumbang polusi udara.

KLIK INI:  Moselo Gelar ‘Backyard Sale 2021’, Apresiasi Kualitas Karya Kreator Lokal