Onde-onde, Kue Ritual Masyarakat Sulsel yang Sarat Nilai Filosofis

oleh -337 kali dilihat
Onde-onde, Kue Ritual Masyarakat Sulsel yang Sarat Nilai Filosofis
Onde-onde, Kue Ritual Masyarakat Sulsel yang Sarat Nilai Filosofis-/foto-Ist

Klikhijau.com – Onde-onde, telah menjadi kue yang menyatu dengan masyarakat Sulawesi Selatan (Sulsel) sejak lama. Ia menjadi penanda resminya sesuatu untuk digunakan atau dimulai.

Di antara banyak kue yang terdapat di Sulsel. Kue inilah yang paling populer sebagai kue ritual. Jika ada teman atau keluarga, misalnya membeli rumah atau kendaraan baru. Akan kurang rasanya tanpa ada onde-onde sebagai bentuk rasa syukur.

Kerap kita mendengar, “kapan onde-ondenya?” arti dari pertanyaan itu merujuk pada, kapan diresmikan atau diadakan syukuran atas keberhasilan memiliki barang baru, baik rumah, kendaraan atau bahkan mendapat pekerjaan.

Onde-onde tidak hanya sebatas itu saja perannya. Pada pesta pernikahan, saat  proses lamaran, onde-onde menjadi kue yang wajib dihidangkan. Pun demikian saat ma’baca-baca (syukuran) kue ini pun harus ada dalam hidangan bersama menu-menu yang lain.

KLIK INI:  Peringati Hari Ketiadaan Tanah, SPTR Suarakan "Sulsel Darurat Agraria", Ini 9 Tuntutannya!

Penyebaran jajajan tradisional ini tidak hanya ada ditemukan di Sulsel saja, tapi juga ditemukan di Jawa, Sumatera bahkan Malaysia. Ia menyandang banyak nama sesuai daerahnya.

Di Bugis kue ini dinamai onde-onde, sedangkan di Makassar bernama umba-umba. Sementara di Jawa bernama klepon.

Kue ini pernah viral ketika akun Twitter @memefess memposting bahwa jajanan tradisional ini  bukanlah jajanan islami.

Cara membuatnya

Bahan dan cara pembuatan kue ini yang tidak ribet. Ia  bisa dibuat oleh siapa saja. Bahannya hanyalah tepung ketan, gula merah, air, dan kelapa. Iya, empat bahan itu saja sudah cukup  untuk membuat jajajan tradisional ini.

Untuk takarannya sendiri, sebenarnya tidak ada. Si pembuatnya lebih banyak melibatkan “perasaan” untuk membuat adonanya. Namun, jika ingin membuatnya dengan takaran bahan. Berikut bahan yang perlu disiapkan.

  1. Siapkan 200 gram tepung ketan
  2. Sediakan 130 ml air
  3. Siapkan kelapa parut
  4. Sediakan  gula merah, potong-potong berbentuk dadu kecil untuk isian onde-onde
  5. Siapkan garam secukup  
  6. Sediakan pewarna makanan rasa pandan untuk mewarnainya.

Khusus poin nomor 5 dan 6, bahan tersebut bisa ada bisa pula tidak. Onde-onde pada umumnya berwarna putih saja. Namun, belakangan telah memiliki warna hijau dengan menggunanan zat pewarna.

Setelah bahannya tersedia. Langkah selanjutnya adalah membuat onde-onde, caranya:

  1. Campurkan tepung beras, pewarna (ini boleh ada boleh pula tidak) dengan garam secukupnya saja. Setelah itu tambahkan air sedikit demi sedikit, lalu aduk hingga merata sampai adonan bisa dibentuk.
  2. Bila adonan sudah terbentuk, ambil adonan secukupnya, lalu pipihkan. Setelah berbentuk pipih masukkanlah gula merah yang telah dipotong-potong kecil. Kemudian bentuk bulatan adonan yang telah diisi gula merah hingga gula merah tersaput adonan.
  3. Setelah itu adonan yang telah terbentuk tinggal dimasak. Cara memasaknya mudah saja, cukup masukkan hasil adonan ke dalam air mendidih. Tunggu hingga terapung, jika telah terapung itu menandakan onde-onde telah masak.
  4. Setelah masak, angkat lalu tiriskan, kemudian gulingkan di atas kelapa parut hingga merata
  5. Terakhir, sajikan kue tersebut untuk santap. Paling pas disantap dengan ditemani kopi pahit.
KLIK INI:  Teh Genmaicha, Produk Anak Negeri yang Dapat Mengatasi Masalah Persendian
Asal dan Filosofi yang di kandungnya

Kue  yang memiliki rasa legit, harum, dan  lembut ini menurut beberapa referensi berasal dari Tiongkok pada masa Dinasti Tang. Namanya Ludeui, merupakan  penganan resmi di daerah Xian. Namun, kini telah menyebar ke nusantara, bahkan menjadi kue yang penting, khususnya bagi masyarakat Bugis-Makassar.

Proses pembuatnya menyiratkan nilai filosofis, salah satunya bahwa dalam kehidupan ini tidak ada yang instan, semua butuh proses.

Di samping itu, untuk mendapatkan rasa manis kehidupan biasanya tidak terdapat diluar, tapi ada di dalam. Dan untuk menemukannya butuh perjuangan. Ini tergambar dalam kue ini—yang menempatkan gula pada bagian dalam.

Kandungan filosofi lainnya adalah balutan tepung ketan, rasa manis gula merah, dan gurihnya kelapa menandakan simfoni hidup yang akan selalu dihadapi.

Filosifi lain yang terkandung dalam jajanan tradisional ini, seperti yang terungkap dalam buku yang ditulis Rachman. DKE yang berjudul Monografi Kebudayaan Makassar di Sulawesi Selatan mengungkapkan jika umba-umba atau onde-onde jika sudah masak akan terapung memiliki makna, agar orang yang memiliki hajatan akan selalu berhasil dalam usahanya.

Demikian…..

KLIK INI:  Daeng Rimang dan Aroma Kue Tradisional di Pasar Pangkal EH Makassar