Pojopojo', Si Penyelamat dalam Dunia Ikat Mengikat

Pojopojo', Si Penyelamat dalam Dunia Ikat Mengikat
Pulutan (Urena lobata), punya banyak sebutan lokal unik. Di Bulukumba, khususnya Desa Kindang, dia dipanggil Pojopojo'. - Foto: Ist
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com - Selama masih ada pojopojo', persoalan ikat mengikat akan beres. Apalagi sekadar mengikat karung yang telah terisi hasil panen, entah kopi, tire atau cengkeh.

Kulit dari batang pojopojo' memang patut diandalkan, kuat dan lentur untuk dijadikan pengikat. 

Kelenturannya bisa didapat saat masih basah. Begitu kering, kulitnya akan kaku. Cengkeraman ikatannya tak sekuat saat basah.

Pojopojo' adalah tumbuhan liar. Nama nasionalnya (Indonesia), pulutan. Nama ilmiahnya Urena lobata.

Pulutan ini memiliki ragam bahasa lokal, tergantung di daerah mana ia tumbuh. Di Bulukumba, khususnya di Desa Kindang, namanya pojopojo'.

Karena masuk kategori gulma, keberadaannya di kebun terkadang langka. Penyebabnya sederhana, petani menumpasnya.

Padahal, keberadaan tanaman ini, menjadi salah satu penyelamat bagi petani, khususnya dalam hal ikat mengikat.

Karena perlahan mulai lumayan sulit ditemukan, saya sengaja tak menumpasnya saat menyemai rumput di bukit tabaya (Tandabaca Sapayya). Saya membiarkannya tumbuh saja.

Saat tumbuh, batang pojopojo' terlihat seperti merambat, akarnya kuat menggenggam tanah. Tak mudah dicabut.

Daunnya unik, dan yang saya suka dari tanaman ini, bukan hanya karena beberapa kali menyelamatkan saya dan ayah dari "kepusingan" mencari pengikat saat di kebun, tetapi juga karena bunganya yang indah.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2