Nasib Sial Kayu Balimassang, dari Asyik ke Asing

Nasib Sial Kayu Balimassang, dari Asyik ke Asing
Ilustrasi pohon-foto/Gemini AI
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com - Kayu balimassang. Namanya terdengar asing, bukan?. Seasing wujudnya yang mulai langka. Meski dulu pernah menanggung harapan yang besar. Khususnya bagi pembuat gula aren (gula merah).

Daun kayu ini digunakan sebagai pembungkus gula merah. Dulu. Daunnya yang lebar dan tebal memang sangat cocok digunakan sebagai pembungkus.

“Tidak perlu diikat,” terang Mase (75 tahun), salah seorang warga Desa Kindang yang cukup banyak bersentuhan dengan balimassang. Dulu, orang tuanya dulu termasuk pembuat gula merah.

Satu lembar daun balimassang sudah cukup membungkus satu biji gula merah. Namun, jika daunnya kurang lebar, maka bisa menggunakan dua lembar, dan tentu tidak perlu mengikatnya.

Dulu menurut Mase hanya ada dua jenis pembungkus gula merah, pertama daun balimassang dan kedua daun atau kulit jagung. Hanya saja jika menggunakan kulit jagung, membutuhkan pengikat. Karenanya, daun balimassang adalah primadona yang diburu.

Namun, perjalanan waktu menggerus banyak hal, termasuk balimassang. Penggunaannya sebagai pembungkus gula merah perlahan tergusur. Terutama ketika tanaman cokelat atau kakao mulai dibudidayakan dan habitat balimassang berganti tanaman lain berupa pohon kakao, cengkeh, dan kopi.

Maka, rasanya sangat wajar pula jika generasi gawai tidak mengenal balimassang. Bahkan namanya nyaris tidak lagi terdengar. Apalagi melihat wujudnya.

Pun banyak pembuat gula merah aren lebih memilih daun kakao yang juga berdaun lebar sehingga dapat digunakan membungkus gula merah. Selain itu, daun kakao lebih mudah didapat. Banyak dibudidayakan di sekitar rumah.

Gula merah kemudian mengalami perkembangan, khususnya dalam hal pembungkus. Saat ini, pohon kakao pun mulai berkurang. Jumlahnya terjun bebas. Jadinya, banyak pembuat gula merah menggunakan daun pisang kering  bahkan kantong plastik sebagai pembungkus.Dan daun balimassang semakin terlupakan.

"Mungkin sekarang sudah tidak ada, dulu banyak di Bate Borong," ungkap Bunga (72 tahun).

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2
Editor

Tim Redaksi

Artikel ini disusun oleh tim redaksi