Nasib Sial Kayu Balimassang, dari Asyik ke Asing

Nasib Sial Kayu Balimassang, dari Asyik ke Asing
Ilustrasi pohon-foto/Gemini AI
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Bate borong adalah nama kampung di Desa Kindang. Dulu kampung tersebut adalah hutan. Karenanya dinamai bate borong yang artinya bekas hutan.

Bunga juga mengungkapkan jika balimassang memiliki kayu yang tidak dapat digunakan untuk bahan pertukangan (bangunan) misalnya untuk papan, tiang, dan balok untuk membangun rumah.

Apa yang diungkapkan Bunga itu dibenarkan oleh Coba’, lelaki sepuh yang pernah menjabat kepala dusun di Mattirodeceng, salah satu dusun di Desa Kindang.

Coba’ membeberkan, kayu balimassa masih dapat ditemui di beberapa tempat di Desa Kindang, hanya mulai langka.

"Tidak ada pohon balimassang yang besar. Daunnya saja yang dimanfaatkan, daunnya menyerupai daun pohon waru, hanya lebih lebar, " terang Coba’.

Perjumpaan dengan balimassang

Seusai salah Asar, Haji Pabo’ (80 tahun) berjalan perlahan keluar masjid. Saya memperlambat langkah. Menunggunya mendekat agar bisa bertanya tentang balimassang kepadanya.

Para tetua kampung umumnya tahu kayu balimassang. Hanya pengetahuan itu tidak mengalir ke generasi sekarang—generasi gawai. 

Data tentang pohon ini juga minim. Untungnya masih banyak tetua kampung yang mengetahuinya. Pencarian saya tentang kayu memakan waktu sekitar seminggu.

Selama seminggu itu, rasa penasaran tentang wujudnya kerap mengusik. Beruntunglah saya bertemu Haji Pabo’ yang di dekat kebunnya banyak tumbuh kayu balimassang.

Awalnya saya mengira balimassang adalah jenis satwa. Namun begitu tahu jika di Desa Kindang ada kayu balimasang. Berhari-hari, rasa penasaran memeras perihal pohon tersebut.

Lalu pada ba’da Asar di hari Senin, 30 Oktober 2023 lalu. Ketika saya bertemu dengan Haji Pabo’. Ia bersedia mengantar saya mencari kayu tersebut.

Katanya, balimassang banyak dekat kebunnya. Pohon itu tumbuh di Ka’bung Lompoa dekat dengan kebun kopinya. Hampir tiap hari ia ada di sana.

“Nia saha bede’ (ada urar piton),” ujar saya dalam bahasa Konjo.

“Tanre (tidak ada)” jawab Haji Pabo dengan tenang.

 Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke tempat kayu balimassang itu berada. Hanya untuk mendekat, medannya lumayan terjal.

“Itu balimassang,” kata Haji Pabo’ sambil menunjuk kayu balimassang. Saya mengikuti arah telunjuknya, hingga pandangan saya menemukan kayu yang berdaun lebar. Tidak besar, hanya sebesar lengan orang dewasa.

“Itu, yang kecil batangnya? Tanya saya

“Iya, itu yang daunnya lebar,” jawabnya.

Haji Pabo menerangkan pula bahwa ada juga balimassang yang batangnya besar, hanya cukup jarang ditemui.

Ia mengaku hanya satu kali menemukan kayu balimassang yang besar. Ditebangnya pohon itu menggunakan gergaji, lalu kayunya ia gunakan sebagai surapping. Surapping adalah kayu yang di potongan kecil. Kadang  digunakan untuk membuat pagar.

“Kayunya lemah, tidak cocok untuk dibuat rumah atau perabot,” terangnya.

Daun berbentuk hati

Balimassang adalah tumbuhan yang berdaun lebar. Daunnya kasar dan tebal. Sementara pohon atau kayunya tidaklah besar.

Hal menarik dari kayu balimassang adalah bentuk daunnya yang berbentuk hati atau love. Warna daunnya berwarna hijau. Daunnya terlihat bergelombang, menyirip dan pada tepinya bergerigi.

Meski daunnya memiliki manfaat  dan bentuknya menarik. Sayangnya, karena kayunya nyaris tidak bisa dimanfaatkan membuat masyarakat tidak ada yang membudidayakannya. Sehingga pohon ini sulit ditemukan di kebun warga—balimassang akan dibabat habis.

Pohon ini hanya tumbuh di tanah yang belum digarap warga, di Ka’bung Lompoa salah satunya. Balimassang  tumbuh di antara rimbunan pohon yang lain, di bawah rumpun bambu, di tebing terjal. Ia tumbuh tanpa mengusik tanaman lain.

Sebagai tanaman yang mulai langka, diperlukan upaya untuk melestarikannya. Balimassang, sangat mungkin memiliki manfaat lain, bukan hanya sebagai pembungkus gula merah, lebih dari itu. Karenanya, perlu ada penelitian mengenai kayu ini untuk menemukan manfaat sosialnya yang lain.

Jika tidak demikian, balimassang memiliki peluang besar untuk punah. Masyarakat, khususnya petani jauh lebih suka menanam kayu yang memiliki manfaat, misalnya kayunya yang dapat dipanen, baik sebagai bahan bangunan dan firnitur atau jenis kayu yang dapat dipanen buahnya.

Sementara balimassang, sejauh ini manfaatnya hanyalah pada daunnya, itu pun hanya sebagai pembungkus gula merah. Sementara inovasi pembuat gula merah semakin berkembang, misalnya mulai menjelma jadi gula sarang semut dan gula merah cair.

Jenis gula ini tidak lagi membutuhkan pembungkus daun balimassang. Pun banyak pembuat gula merah lebih memilih kantong plastik sebagai pembungkusnya—tentu hal itu tidak adil bagi lingkungan. Dan semakin membuat kayu balimassang dari asyik menjadi asing.

 

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2
Editor

Tim Redaksi

Artikel ini disusun oleh tim redaksi