Perempuan Kabut

Pembabat Pohon   Mencari orang paling bodoh di kampung kami bukanlah pekerjaan rumit. Itu sejak Sanamang pulang kampung. Tiga atau empat tahun lalu. Sanamang, begitu saja orang kampung men...

Perempuan Kabut
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Namun, Minggu lalu, eks kebun cengkeh Sanamang kedatangan mahasiswa dari luar negeri. Jumlahnya 21 orang--mereka menginap selama seminggu di eks kebun cengkeh itu. Dan Sanamang panen uang dari kunjungan itu.

Begitu mahasiswa tersebut pulang, sebuah mobil baru terparkir di halaman rumahnya.

Orang-orang mencurigai Sanamang telah menjual kampung kami kepada orang luar negeri.

Mungkin satu-satunya orang yang tak menganggap Sanamang orang bodoh dan stres. Hanyalah aku, Harini.

Aku juga tak curiga ia telah menjual kampung kami. Sanamang hanya memanfaatkan kekayaan alam kampung kami yang tak terlihat selama ini.

Diam-diam aku sering berdoa, semoga berjodoh dengan Sanamang. Tentu itu akan jadi berita menghebohkan di kampung kami.

Orang-orang akan mendapati dua orang bodoh, aku dan Sanamang.

tandabaca, November 2024

Perempuan Kabut


 

Tak ada yang paling dinanti selain kabut. Tak ada. Bahkan ketika suaminya pergi merantau ke Kalimantan. Ia nyaris tak menanti kepulangannya.

"Selagi ada kabut, aku akan baik-baik saja." Jawaban itu selalu berulang setiap ada yang bertanya kabarnya.

Selalu menemukan kata paling mengiris saat berdoa, agar tak pernah ada kemarau di kampungnya. Ia hanya ingin ada musim hujan. Sebab kabut hanya lahir dari hujan. Seperti dirinya.

Ia lahir saat kabut mengepung kampungnya di lereng gunung itu. Gunung yang tak pernah ditinggalkan oleh kabut.

Dua atau tiga jam setelah lahir, kabut membawa ibunya entah ke mana. Tak ada yang menemukannya hingga kini. Diusianya yang telah beranak tiga.

Ketika anak ketiganya lahir, kabut tebal turun. Ia berharap akan menghilang dalam kabut seperti ibunya. Tapi, gagal.

Itu kabut tebal terakhir yang ia ingat. Sebab sejak saat itu, kabut mulai jarang berkunjung. Hujan pun senasib. Kabut di puncak gunung menipis.

Dan ia mulai sering sakit-sakitan.

Keseringan sakit membuat suaminya pulang dari rantau. Namun, karena kabut semakin jarang hadir, sakitnya tak sembuh-sembuh.

Lalu ia mendapat kabar, jika di kota J, setiap hari kabut turun. Sangat tebal. Ia ingin pindah ke kota itu.

"Itu bukan kabut, Ma. Itu polusi udara," jelas suaminya. Penjelasan itu diabai. Ia tetap ingin pindah ke kota J. Ia ingin kembali menikmati kabut dalam wajah yang lain.

tandabaca, November 2024

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2