Polusi Plastik Mengubah Proses Seluruh Sistem Bumi

oleh -59 kali dilihat
Program Bersih Indonesia, Ambisi Menuju Indonesia Nol Sampah Plastik
Ilustrasi sampah plastik - Foto/Pixabay

Klikhijau.com – Polusi plastik masih setia jadi masalah serius bagi planet ini. Masalah yang ditimbulkan pun semakin meluas. Terbaru, sebuah analisis ilmiah mengungkapkan, plastik  mengubah proses seluruh sistem Bumi.

Tidak hanya itu, plastik juga memperburuk perubahan iklim, merampas  keanekaragaman hayati, pengasaman laut, penggunaan air tawar dan daratan.

Plastik telah merasuk ke seluruh dunia. Tidak ada tempat yang selamat. Pada tahun 2022 lalu ditemukan setidaknya 506 juta ton plastik diproduksi di seluruh dunia.

Sayangnya dari sekian banyak itu,  hanya 9% yang didaur ulang secara global. Sisanya dibakar, ditimbun, atau dibuang di tempat yang dapat mencemari lingkungan.

KLIK INI:  Rebung Dapat Mengatasi Masalah Kesehatan Modern dan Krisis Pangan Global?

Karenanya jangan heran jika plastik, khususnya turunannya yakni mikroplastik kini ada di mana-mana, dari puncak Gunung Everest hingga Palung Mariana yang merupakan titik terdalam di bumi.

Bukan hanya itu, mikroplastik bahkan ditemukan telah menghuni organ penting manusia, misalnya otak.

Karena itu, para penulis mengatakan plastik tidak boleh diperlakukan sebagai masalah limbah saja, tetapi sebagai produk yang membahayakan ekosistem dan kesehatan manusia.

Para penulis memberikan peringatan mereka beberapa hari sebelum pembicaraan terakhir dimulai di Korea Selatan untuk menyetujui perjanjian global yang mengikat secara hukum untuk mengurangi polusi plastik.

Perlu diingat bahwa Perjanjian Plastik Global diinisiasi pada tahun 2022. Negosiasi terakhir untuk menyetujui perjanjian ini akan diselenggarakan pada 25 November  hingga 1 Desember 2024 di Busan, Korea Selatan

KLIK INI:  Lebih Dekat dengan 7 Satwa Unik yang Ada dan Pernah Ada di Soppeng

Kemajuan menuju perjanjian tentang polusi plastik telah terhambat oleh pertikaian mengenai perlunya memasukkan pemotongan industri produksi plastik senilai $712 miliar dalam perjanjian tersebut.

Pada pembicaraan terakhir di bulan April, negara-negara maju dituduh tunduk pada tekanan dari pelobi bahan bakar fosil dan industri untuk menghindari pengurangan produksi.

Pertemuan di Korea Selatan, yang dimulai pada tanggal 25 November, menandai kesempatan langka bagi negara-negara untuk mencapai kesepakatan guna mengatasi krisis polusi plastik global.

Studi baru tentang polusi plastik meneliti bukti-bukti yang semakin banyak tentang dampak plastik terhadap lingkungan, kesehatan, dan kesejahteraan manusia.

Para penulis mendesak para delegasi di pembicaraan PBB untuk berhenti memandang polusi plastik hanya sebagai masalah limbah, dan sebagai gantinya menangani aliran material melalui seluruh jalur kehidupan plastik, dari ekstraksi bahan baku, produksi dan penggunaan, hingga pelepasannya ke lingkungan dan nasibnya, serta dampaknya terhadap sistem Bumi.

KLIK INI:  Mengenai Obesitas, Benarkah Fruktosa adalah Pemicunya?

“Penting untuk mempertimbangkan siklus hidup penuh plastik, mulai dari ekstraksi bahan bakar fosil dan produksi polimer plastik primer,” kata penulis utama artikel tersebut, Patricia Villarrubia-Gómez, di Stockholm Resilience Centre.

Polusi plastik ubah proses seluruh sistem Bumi

Tim peneliti menunjukkan bahwa polusi plastik mengubah proses seluruh sistem Bumi, dan memengaruhi semua masalah lingkungan global yang mendesak, termasuk perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, pengasaman laut, dan penggunaan air tawar dan daratan.

“Plastik dianggap sebagai produk inert yang melindungi produk favorit kita, atau yang memudahkan hidup kita dan dapat “dengan mudah dibersihkan” setelah menjadi limbah,” kata Villarrubia-Gómez.

Gomes menambahkan bahwa  hal tersebut jauh dari kenyataan. Plastik terbuat dari gabungan ribuan bahan kimia. Banyak di antaranya, seperti pengganggu endokrin dan bahan kimia yang tidak dapat digunakan lagi, menimbulkan racun dan membahayakan ekosistem serta kesehatan manusia. Kita harus melihat plastik sebagai gabungan bahan kimia yang kita gunakan sehari-hari.”

Sifat inert merupakan sifat tidak bereaksinya sebuah kemasan terhadap produk yang dibungkusnya.

KLIK INI:  Hasil Riset WALHI Sulsel Temukan Perempuan Punya Strategi Bertahan Hidup Hadapi Krisis Iklim

Pembicaraan perjanjian plastik telah menarik banyak pelobi dari industri dan bahan bakar fosil. Pada pembicaraan terakhir di Ottawa, Kanada, 196 pelobi mendaftar , naik dari 143 yang mendaftar pada diskusi sebelumnya di Nairobi.

Sebagian besar plastik sekali pakai (98%) terbuat dari bahan bakar fosil, dan tujuh perusahaan penghasil plastik teratas adalah perusahaan bahan bakar fosil, menurut data tahun 2021 .

Ketua perundingan perjanjian PBB mengatakan bahwa seluruh siklus hidup plastik harus dimasukkan dalam mandat tersebut.

“Yang jelas, kita tidak dapat mengelola jumlah plastik yang kita produksi,” kata Luis Vayas Valdivieso, yang juga merupakan duta besar Ekuador untuk Inggris.

KLIK INI:  Studi: Mengoptimalkan Pendingin Dapat Mengurangi Sampah Makanan dan Emisi GRK

Ia menambahkan bahwa hanya 10% dari plastik tersebut yang didaur ulang, sesuatu perlu dilakukan, dan itulah mengapa negosiasi ini sangat penting. Kita perlu memiliki pendekatan siklus hidup secara menyeluruh.

Prof Bethanie Carney Almroth, dari Universitas Gothenburg, salah satu penulis laporan tersebut, mengatakan bahwa kita sekarang menemukan plastik di wilayah paling terpencil di planet ini dan di tempat yang paling intim, di dalam tubuh manusia. Dan kita tahu bahwa plastik adalah bahan yang kompleks, yang dilepaskan ke lingkungan selama siklus hidup plastik, yang mengakibatkan kerusakan pada banyak sistem.

“Solusi yang ingin kami kembangkan harus mempertimbangkan kompleksitas ini, dengan memperhatikan aspek keselamatan dan keberlanjutan secara menyeluruh untuk melindungi manusia dan planet ini,”tegasnya.

KLIK INI:  Berniat Memelihara Kelinci, Ini 9 Hal Penting yang Perlu Diketahui Tentangnya

Dari The Guardian