Pohon Seribu Tahun

Aku girang ketika seorang lelaki gondrong mendekatiku. Di tangannya ada palu, paku, dan kertas. Lelaki gondrong itu menatapku. Ada haru dari matanya. Ada kagum bertumbuh dari tatapannya. Dan aku meras...

Pohon Seribu Tahun
Bacakan Artikel

โ€œBelum,โ€ jawab Dosen Muda itu.

[irp]

Mereka tak tahu, sejak kemarau. Aku telah berhenti mengalirkan air ke dalam sumur bor mereka. Aku berada pada ranah serba salah. Jika aku alirkan air yang kusimpan melalui akar-akarku. Maka aku sendiri yang akan keropos lalu menemui mautku.

Jika aku mati, manfaatku akan berhenti. Aku tahu, aku bukanlah jenis pohon yang dapat berguna setelah matinya. Aku berbeda dengan pohon lain, yang kayunya bisa digunakan untuk membuat rumah atau kursi.

Karenanya aku ingin hidup seribu tahun lagi untuk memberi manfaat. Tak boleh tidak. Tiada guna hidup tanpa manfaat.

โ€œBarangkali beringin ini menyerap semua air tanah,โ€ ungkap Dosen Senior itu.

โ€œHahaha, ada-ada saja, justru pohon inilah yang menyimpan dan menyuplai air,โ€ jawab Dosen Perempuan itu.

Aku terkejut mendengar dugaan Dosen Senior berbaju putih itu. Aku menggoyangkan badanku, dua atau tiga helai daun jatuh.

โ€œLihat, siapa yang memaku pohon ini?โ€ tanya Dosen Muda.

[irp]

โ€œPasti ulah mahasiswa,โ€ jawab Dosen Senior.

โ€œMereka menyakiti pohon ini,โ€ kata Dosen Perempuan tersebut sambil mencabut pengumuman itu. Aku ingin protes. Ia mencabut puisi kesukaan dari tubuhku.

Yang tercabut hanya papan pengumuman tersebut. Tidak dengan pakunya. Aku juga heran, sebatang paku tak akan menyakitikuโ€”tak akan membunuhku. Aku ingin hidup seribu tahun lagi.

Jelang acara

Tiga hari jelang acara peringatan kelahiran Chairil. Tubuhku menggigil. Sakit pada sekujurnya. Paku yang ditancapkan lelaki gondrong itu telah menyakiti. Melukai dan memotong banyak suratku.

Aku ingat protes Dosen Perempuan itu. Tapi aku terlalu sombong dan merasa tak mungkin satu batang paku dapat membunuhku.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: