Perempuan Beraroma Kopi

Lelaki itu terus saja mengirimi pesan messenger. Pesan yang tak pernah berubah, juga waktunya—jam tujuh pagi lewat delapan belas menit.  Awalnya aku tak percaya  ada lelaki seperti itu. Benar-benar ta...

Perempuan Beraroma Kopi
Bacakan Artikel

“Celana dalam tak bisa,’ kata orang pintar itu

“Kenapa?” tanyanya

“Sebab tak dibawa lahir,” jawab orang pintar itu.

Maka lelaki itu gagal mengirim doa agar perempuannya kembali—calon istrinya.

Aku tertawa sendiri saat membaca chatnya tersebut. Namun, harus kuakui ketika ia mengisahkan kisahnya, pikiranku tertuju pada kisahku sendiri. Kisah yang menolak aku ceritakan. Bagaimana Talia pergi.

Pergi

Aku tak pernah mengungkapkan kisahku secara jujur, bahkan kepada kedua orang tuaku dan juga adik perempuanku yang sering bertanya tentang Talia.

Jujur pada diri sendiri acap lebih sulit dan meyakitkan dan aku menolak menyakiti diri sendiri, maka kisahku dengan Talia yang telah tenggelam selama tiga tahun ini tak pernah kuceritakan.

“Aku akan kirimkan foto perempuan itu,” tulis lelaki itu

“Tak perlu, aku tak bisa membantumu,” balasku

Aku kembali menjelaskan bahwa aku telah kehilangan gairah menulis cerpen. Aku   menyarankan mencari orang lain. Aku menyebut beberapa nama penulis yang bisa membantunya,. Tapi ia tetap menolak. Ia tetap ingin aku yang menuliskan kisahnya. Brengsek betul

Aku sarankan padanya agar tak perlu mengirimkan foto calon istrinya. Aku tak akan iba lalu menuliskannya.  Tapi, ia ngotot akan mengirimnya besok. Aku penasarannya saja.

Besoknya foto itu benar-benar ia kirim, tepat jam tujuh pagi lewat delapan belas menit. Aku tersentak kaget, ternyata itu foto Talia. Kopiku nyaris tumpah. Dan aku mengumpat lelaki itu.

“Bagaimana kamu bisa kenal dengan perempuan ini?” ketikku pada layar handphoneku, tapi pesan itu tak pernah terkirim, tak pernah.

Aku menyeruput kopiku, rasanya terasa sangat pahit, itu buah pertama dari kopi yang aku dan Talia tanam tiga tahun lalu.

Ayah yang duduk di depanku mendongakkan kepala ketika mendengar seseorang menaiki tangga. Ketika orang itu muncul, dari bibirnya yang disumbat rokok tembakau terucap kata: Talia

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: