Perempuan Beraroma Kopi

Lelaki itu terus saja mengirimi pesan messenger. Pesan yang tak pernah berubah, juga waktunya—jam tujuh pagi lewat delapan belas menit.  Awalnya aku tak percaya  ada lelaki seperti itu. Benar-benar ta...

Perempuan Beraroma Kopi
Bacakan Artikel

Aku menyebut namaku selepas ia menyebut namanya. Pertemuan itu menjadi gerbang untuk memasuki gudang cerita dalam hidupku.

[irp posts="2533" name="Pembakar Kisah di Danniari"]

Mereka bermalam dua malam di rumahku karena hujan mengguyur selama dua hari dua malam tanpa jeda. Adikku yang perempuan girang karena punya teman.

Keberadaan Talia di rumah selama dua malam itu membuatnya akrab dengan Ibu. Ia mudah bergaul, membantu ibu di dapur, bahkan tak canggung menyeduhkan kopi untuk Ayah.

Tingkahnya itulah yang menyiksaku, aku jatuh cinta kepadanya. Dan selama dua malam itu, aku menulis cerita tentangnya. Cerita yang membuatnya membalas cintaku. Cinta memang kajili-jili.

Lalu pada sebuah peristiwa yang tak pernah punya alasan. Talia menghilang. Ia lupa berkabar kepadaku, dan aku semakin gila menulis cerita tentangnya—mengirimnya ke banyak media, berharap ia membacanya dan kembali menemukan cara berkabar. Tapi sia-sia. Tiga tahun ini aku memutuskan berhenti menulis.

Namun, aku tak pernah bisa lepas dari bayangannya, dari kenangannya. Jalinan asmara kami selama tiga tahun lima bulan sembilan hari tak mudah lerai dari ingatan.

Selama kami menjalin hubungan, aku mengunjunginya di Makassar sebanyak 37 kali. Dan ia menemuiku di kampung sebanyak 59 kali.

[irp posts="1580" name="Suatu Pagi, Bumi Mati di Sebuah Kota"]

Tak jauh dari Danau Kahayya, tempat pertemuan pertamaku dengannya ada lahan warisan kakek yang menganggur, setiap Talia datang menemuiku, kami menandainya dengan menanam 5 bibit kopi. Angka 5 adalah tanggal pertemuan kami.

Ajaibnya, 295 bibit kopi yang kami tanam bersama tak satu pun yang mati. Kini kebun itu aku sulap menjadi wisata kopi, tempat bagi orang yang ingin mengenang kisah cintanya. Dulu aku sering katakan pada Talia, kebun itu akan menjadi mahar untuknya ketika aku menikahinya.

Namun, janji itu tak pernah tertunai. Talia pergi dengan cara yang tak pernah kutemukan alasannya. Cerita yang kutulis untuknya, selama perginya tiga tahun ini tak pernah bisa menemukannya. Dan aku mulai terbiasa tanpanya hingga suatu hari seseorang mengirimkan pesan, lelaki itu

Lelaki itu

Kemarin itu, setelah kata tolong menambah pesannya. Pagi tadi, ia bercerita perihal kisahnya. Brengsek betul, kenapa baru menceritakannya. Padahal sejak lama ia ingin kisahnya aku tuliskan.

Ia bercerita bahwa pernikahannya batal, sebab perempuan yang akan dinikahinya menghilang. Tak ada tanda apa-apa di rumahnya selain celana dalam berwarna ungu. Pakiannya hanya itu yang tersisa. Ia mencari helai rambut calon istrinya itu, tapi tak ditemukan. Ia percaya bahwa sehelai rambut yang dituangi doa-doa oleh orang pintar bisa mengembalikan perempuannya, tapi tak ada sehelai rambut pun ditemukan. Tak ada.

Katanya ia ditertawakan oleh orang pintar saat membawa celana dalam perempuan itu. Ia memohon  agar menggunakan saja celana dalam itu untuk memanggil kembali calon istrinya.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: