Klikhijau.com – Bumi seperti perempuan, menjadi penjaga kehidupan yang terancam oleh ambisi buta manusia. Di atas tanah yang tandus oleh eksploitasi, perempuan-perempuan aktivis lingkungan berdiri sebagai akar yang mencoba menjaga keberlangsungan, meski angin kekerasan terus mengguncang mereka.
Seperti hutan yang ditebang tanpa ampun, suara mereka kerap dibungkam oleh ancaman dan intimidasi. Aktivis perempuan menjadi sasaran, bukan hanya karena advokasi mereka, tetapi juga karena keberanian mereka mengusik kenyamanan mereka yang berkuasa. Intimidasi berbasis gender, pelecehan verbal, hingga ancaman fisik adalah badai yang menghujani langkah mereka.
Ironisnya, dalam kegelapan ini, respons pemerintah lebih sering menjadi kabut yang membingungkan ketimbang matahari yang menerangi jalan keadilan.
Kebijakan yang diharapkan menjadi tameng bagi perempuan aktivis justru menjadi pedang yang mengiris perjuangan mereka. Kriminalisasi terhadap masyarakat adat dan aktivis lingkungan adalah erosi HAM yang tidak hanya melukai mereka, tetapi juga merusak keseimbangan alam.
Namun, seperti air yang terus mengalir meski terhalang batu, perempuan-perempuan ini tak pernah berhenti melawan.
Mereka adalah sungai yang membawa harapan untuk anak cucu mereka, menolak menyerah meski tekanan kian mendera.
Melalui solidaritas, mereka membangun jaringan yang kuat, mengakar di tanah perjuangan demi memastikan masa depan bumi tetap hijau.
Tetapi sampai kapan mereka harus menjadi perisai terakhir? Ketika akar terus dirusak dan pohon-pohon terakhir mulai tumbang, perjuangan mereka adalah panggilan bagi semua untuk bergerak bersama.
Demi hutan yang tetap berdiri, sungai yang terus mengalir, dan perempuan-perempuan yang bebas dari bayang kekerasan.
Cerita Perempuan Tapak Melawan Kekerasan Lingkungan
Momentum Hari Hak Asasi Manusia (HAM) dan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16HAKTP)

Perempuan telah menjadi garda terdepan dalam melawan kekerasan lingkungan yang tidak hanya merusak alam tetapi juga menghancurkan kehidupan mereka.
Dalam peringatan Hari HAM dan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, kisah-kisah perjuangan perempuan di berbagai daerah menjadi pengingat bahwa dampak dari industri ekstraktif, perampasan lahan, hingga krisis air bersih adalah bentuk nyata pelanggaran hak asasi manusia.
Kisah yang menyeruat di sebuah ruang diskusi yang digelar IWD Sulsel dan Walhi Sulsel, di bilangan kota Makassar Sulawesi Selatan, para permpuan membawa kisah yang terdengar lirih bagi kami yang mendengarkannya namun di sana penuh semangat perjuangan yang menanti keadilan, Senin, 9 Desember 2024
Rifiana: Perempuan Morowali Melawan Perampasan Lahan
Di Morowali, Rifiana berbagi kisah getir tentang perampasan lahan akibat ekspansi industri ekstraktif.
Berjuang memperthankankan ruang hidup yang berdampingan PT IHIP yang merupakan perusahaan Indonesia dengan latar belakang modal Tiongkok China.
Mereka membangun kawasan industri di Kecamatan Bungku Barat, Morowali, Sulawesi Tengah, untuk produksi blok besi nikel dan nikel hidroksida
Momen tak terlupakan bagi warga yang kian terdesak adalah penyorobotan lahan di malam hari.
“Tengah malam di tahun 2022, kami terbangun dan menyaksikan lahan pertanian yang di atasnya tumbuh sumber penghidupan kami rata dengan tanah,” katanya.
Kejadian itu bukan hanya soal kehilangan ruang hidup tetapi juga menjadi simbol kekerasan sistemik yang didukung pemerintah.
Akses jalan tani yang digunakan perusahaan semakin meminggirkan masyarakat lokal. Bersama beberapa Civil Society Organizatoins (CSO) mendampingi Rifiana melalui Forum Ambunu Bersatu, terus memperjuangkan hak mereka, termasuk melalui laporan ke Komnas HAM.
“Kami hanya ingin jalan tani kembali ke fungsinya, dan lahan petani tidak dieksplorasi,” tegasnya.
Bercermin ke IMIP memberikan gambaran bagaimana berbahayanya perusahaan ekstraktif itu. Akses jalan tani digunakan oleh perusahaan, hal ini mendorong kesedaran masyarakat bahwa inilah kenyataan perusahaan tidak memberikan dampak terhadap masyarakat sekitar.
Kita semua telah menyaksikan bagaimana industri ektraktif di berbagai daerah mengorbanka masyarakat sekitarnya.
Harjiah Bertahan di Tengah Ancaman Vale
Di Loeha Raya, Harjiah menghadapi tekanan besar dari keberadaan PT Vale. saya hanya satu dari ribuan yang melawan di wilayah perusahaan besar itu.
Masyarakat di sana sedari dulu membuktikan mampu berahan hidup dari merica mampu memenuhi kebutuhan hidup, dari membangun atau beli rumah, bahkan menyekolahkan anak anaknya. (baca: Loeha Raya)
Itulah yang kemudiam akan dirampas, kami tak jarang didatangi aparat, dan dengan klaim bahwa kami bukan pribumi, dan ini tentu berbanding terbalik dengan amanat jaminan HAM.
“Kami telah memenuhi kebutuhan hidup dari lahan ini. Tapi perusahaan berusaha merampas semuanya,” ujarnya lirih. Ancaman intimidasi, termasuk klaim bahwa masyarakat Loeha bukan penduduk asli, menjadi momok sehari-hari.
Namun, Harjiah tetap teguh. Ia mengingatkan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam melindungi ruang hidup mereka.
“Kami lebih memilih mempertahankan lahan pertanian daripada menerima industri yang justru menghancurkan kehidupan kami,” pungkas Perempuan Pejuang Loeha Raya
Husnaini: Pejuang Air Bersih dari Makassar Utara
Krisis air bersih menjadi tantangan besar bagi Husnaini, ibu rumah tangga dari Tallo, Makassar.
“Selama 20 tahun, kami harus membeli air mengangkutnya gerobak, bahkan hingga tengah malam,” katanya.
Beban ini ditanggung sebagian besar oleh perempuan yang harus bekerja dari pagi hingga malam untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk antre air.
Bahkan kegiatan itu dilakukan hingga pukul jam 12 malam.
Ia mengkritik pemerintah daerah yang selalu menyebut wilayahnya sebagai “zona merah” tanpa solusi konkret.
“Makassar mengklaim sebagai kota bahagia, tapi kami justru hidup dalam krisis,” tambah Perempuan Pejuang Hak Atas Air
Kita mengaku telah maju namun masih berkutat pada persoalan air bersih. Dari gambaran Husnaini kita melihat ada kesenjangan ekonomi dan potensi konflik yang kian mengintai mereka di tengah kota yang katanya kota dunia.
Kini Husnaini menanti janji pihak pemerintah yang katanya akan menghadirkan solusi konkret di Makassar bagian utara itu.
Herlina: Menantang Tambang Pasir Laut di Takalar
Sebagai istri nelayan di Galesong, Takalar, Herlina melihat langsung dampak buruk tambang pasir laut.
“Setiap menatap laut, kami merasa laut marah,” katanya. dari aktivitas tambang, selama tujuh bulan terakhir tidak hanya mengganggu ekosistem laut tetapi juga mempersulit mata pencaharian nelayan.
Herlina bersama masyarakat setempat telah menyuarakan tuntutan untuk menghentikan tambang ini hingga tingkat nasional. Mereka menyerukan pembatalan PP 26/2023 yang melegalkan penambangan pasir laut di Indonesia.
Peran Perempuan dalam Perjuangan Lingkungan
Ifah dari Walhi menyoroti bahwa tutupan hutan Indonesia tinggal 29% mengalami degradasi dan terus terjadi pembukaan lahan.
Ia mengungkapkan diskriminasi yang dialaminya sebagai perempuan muda dalam mendampingi masyarakat.
“Namun, justru perempuan memiliki peran strategis dalam melawan kekerasan lingkungan,” ujarnya.
Hikmah, seorang aktivis perempuan, menambahkan bahwa kehadiran perempuan telah membuktikan bahwa mereka bukanlah “kelas dua” dalam patriarki. “Kami ada di garis depan, melindungi hak-hak dasar dan keberlanjutan hidup,” sambungnya,
Solidaritas untuk Masa Depan yang Adil
Kisah perempuan seperti Rifiana, Harjiah, Husnaini, dan Herlina adalah refleksi dari perjuangan yang lebih luas. Mereka menyerukan solidaritas, khususnya kepada mahasiswa dan generasi muda, untuk beraksi melawan ketidakadilan lingkungan.
Solidaritas adalah kunci, karena apa yang dialami di Loeha Raya, Morowali, dan Galesong hanyalah puncak gunung es dari kekerasan lingkungan yang lebih luas.
Dalam momentum Hari Hak Asasi Manusia dan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan ini, cerita mereka menjadi pengingat bahwa perjuangan lingkungan adalah perjuangan untuk kehidupan.
Perempuan bukan hanya korban, tetapi juga pelopor perubahan menuju dunia yang lebih adil dan berkelanjutan.
Kekerasan terhadap Perempuan Aktivis Lingkungan: Kisah Bumi yang Menangis
Sepanjang 2024, perempuan aktivis lingkungan ibarat akar yang mencoba menahan erosi di tanah yang semakin terkikis.
Namun, mereka juga menghadapi badai yang datang bertubi-tubi. Di setiap sudut perjuangan mereka, ancaman, intimidasi, dan kekerasan sering kali menjadi bayang-bayang yang tidak terelakkan.
Seperti pohon di hutan yang dirambah, para perempuan ini berdiri tegar di tengah eksploitasi tanpa henti. Namun, keberanian mereka melawan ketidakadilan sering kali dibalas dengan ancaman yang merambat ke akar-akar kehidupan mereka.
Di Morowali, misalnya, aktivis perempuan menjadi sasaran kriminalisasi ketika mencoba mempertahankan hak atas tanah dan air.
Di garis pantai Takalar, tambang pasir laut melukai laut dan masyarakatnya. Herlina, seorang nelayan perempuan, menggambarkan bagaimana tambang mengubah laut menjadi ancaman, bukan sumber kehidupan.
Kekerasan yang mereka hadapi tidak hanya fisik tetapi juga emosional, ketika akses mereka terhadap laut dirampas tanpa perlawanan yang berarti dari negara.
Sistem yang Membisu
Perempuan juga menjadi sasaran Strategic Lawsuit Against Public Participation (SLAPP), di mana tuntutan hukum digunakan sebagai senjata untuk membungkam mereka.
SLAPP adalah jaring laba-laba hukum yang menjerat suara-suara kecil tetapi berani, terutama perempuan, yang mencoba menyuarakan isu lingkungan.
Dalam banyak kasus, hukum lebih berpihak pada kekuatan modal daripada perempuan yang mempertahankan harmoni alam.
Pemerintah tidak hanya abai dalam melindungi aktivis tetapi juga, sering kali, menjadi bagian dari masalah dengan mendukung ekspansi industri ekstraktif.
Perempuan yang mencoba menjaga keberlanjutan sumber daya alam tradisional malah diberi label sebagai penghambat pembangunan
Perempuan aktivis lingkungan adalah nyala lilin di malam yang gelap. Di tengah gelombang kekerasan, mereka tetap berdiri sebagai penjaga kehidupan, menuntut agar bumi dan hak asasi mereka dihormati. Semoga kisah mereka menjadi panggilan bagi kita semua untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, sebelum semua yang kita miliki hanya tinggal cerita.








