Para Pembunuh Bumi

Hujan sejak sore masih menyisakan cuaca basah. Apparalang sudah ditutup sejak magrib tadi, tapi lampu pijarnya masih dibiarkan tetap menyala, meremangi meja dan bangku panjang. Angin berembus begitu k...

Para Pembunuh Bumi
Bacakan Artikel

Hujan sejak sore masih menyisakan cuaca basah. Apparalang sudah ditutup sejak magrib tadi, tapi lampu pijarnya masih dibiarkan tetap menyala, meremangi meja dan bangku panjang. Angin berembus begitu kencang di atas ketinggian tebingโ€”mengantar gigil.

"Akhirnya kita bisa ngecamp juga di sini," ucapku mengawali percakapan.

"Hmmm...," balasmu tidak terlalu jelas, terbawa angin yang tak henti berembus. Kau menatap sekelilingmu, lalu berhenti pada mataku.

Kita berbalas tatap. Namun aku kalah, aku melarikan diri dari tatapanmu.

[irp]

"Jadi, kau menulis apa hari ini?" tanyaku. Pertanyaan itu melerai tatapanmu dariku. Aku selamat. Kau alihkan tatapanmu ke ujung sepatumu.

"Belum ada, buntu."

"Bah, bagaimana bisa? Padahal ada berbagai macam peristiwa besar baru saja terjadi, tetapi kau bilang buntu?"serangku.

"Tidakkah cukup video-video pendek, berita, foto-foto pembalak liar hutan, perdagangan ilegal satwa, krisis iklim, bencana, sampah berserakan membangkitkan nuranimu?" lanjutku dengan sedikit gusar. Nada suaraku bergetar.

"Kuperhatikan kau belakangan ini juga jarang menulis, apakah karena kamu juga tidak yakin ide yang kau dapat itu layak buat ditulis?" bantahmu.

"Aku lebih menyukai menampung semua dalam kepalaku saja. Akan lebih baik jika kita tidak menjalani satu profesi yang sama. Kita hanya akan lebih banyak bersaing nantinya," jawabku, sambil menatap kumis tipismu yang disamarkan remang.

"Tetapi, aku sama sekali tidak tertarik menulis isu-isu seperti itu. Bukan karena tidak peduli. Hanya saja bencana atau kejahatan manusia terhadap alam tidak bisa selesai dengan sepenggal cerita pendek, artikel, maupun puisi," suaramu terdengar putus asa. Kau meneguk air dari tumblermuโ€”membasahi kerongkonganmu.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: