Para Pembunuh Bumi

Hujan sejak sore masih menyisakan cuaca basah. Apparalang sudah ditutup sejak magrib tadi, tapi lampu pijarnya masih dibiarkan tetap menyala, meremangi meja dan bangku panjang. Angin berembus begitu k...

Para Pembunuh Bumi
Bacakan Artikel

"Kau bisa membongkar semua bauย  busuk di dalam sana. Kalau kau siap, aku bisa saja memberi data siapa saja oknum yang terlibat," tukasku penuh semangat.

"Tolonglah! Jangan lagi memintaku menulis apa pun tentang itu, tentang lingkungan." Kali ini suaramu benar-benar terdengar memohon. Kau berjalan beberapa langkah menuju tumpukan persiapan camp, lalu mengeluarkan tenda. Berniat mendirikannya. Aku menatap punggungmu.

[irp]

"Dasar pecundang. Itu kenapa aku tidak pernah suka dengan para penulis sepertimu yang seolah-olah peduli dengan lingkungan, tapi kenyataannya hanya mencari cuan." Teriakku, beberapa orang yang berniat camp di Apparalang ini terlihat menoleh ke arahku. Aku abai saja.

"Kamu pikir menulis itu cuma memoles kata-kata atau hanya memangkas rumput, ranting, memunguti dedaunan kering, menanam mangrove, memungut sampah atau hanya bercerita tentang selokan-selokan dengan segala bau tainya, seolahย  bumi akan benar-benar kiamat 20 tahun mendatang!โ€ bentakmu.

Aku mematung mendengar bentakanmu. Deburan ombak Apparalang seolah berhenti di kepalaku. Aku gemetaran. Itu pertama kalinya aku mendengar bentakanmu. Keras sekali benturannya. Roboh aku, tegarku seolah terbang terseret ombak.

"Hahahha, kau memang tak peduli sama sekali, kau pikir bumi baik-baik saja dalam ancaman krisis iklim, perubahan iklim, dan kau pikir hubungan kita akan baik-baik saja bila bumi ini rusak!"

"Hush, lancar kali muncung kau, Non!ย  Kau minum apa tadi sore, kok mabuknya sekarang, hah?โ€ bentakmu lagi.

โ€œMana bisa kau memaksaku menulis yang bukan minatku, kau pikir aku netizen yang maha tahu? Kita di sini untuk ngecamp kan? Bukan saling berdebat!โ€ lanjutmu.

"Halah, bilang saja kau tidak punya nyali. Takut dijerat Undang-undang, takut dikriminalisasi, takut karena kauย  juga turut andil barangkali merusak bumi, mengacaukan lingkungan? Atau memang ilmumu masih cetek,โ€ balasku, rasa takutku perlahan memudar. Ombak keberanian berdebur-debur dalam dadaku.

โ€œIngat, peristiwa-peristiwa seperti ini hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang betul cinta pada keberlangsungan hidup ciptaan Allah. Bukankah Allah menyuruh kita berbuat adil? Kenapa kau tidak mampu berbuat adil dengan menuliskan keadilan itu sendiri? Adillah juga kepada bumi ini!,โ€ tambahku sambil menatap matamu dengan geram. Kali ini kau yang kalah. Kau melarikan diri dari mataku.

[irp]

"Dari dulu kau betul-betul salah menyimpulkan filsafat maupun sastramu itu," keluhmu. Kau melepas jaketmu, barangkali kau gerah dengan perdebatan kita. Darahmu didih. Padahal cuaca Apparalang sehabis hujan, saat malam begini cukup gigil.

"Sastra tidak cuman berurusan dengan keindahan kata, tetapi juga alam, juga bertanggung jawab pada kebodohan, pada ekologi, pada kemanusiaan. Karena kebodohan itu dangkal, sastra bisa nyelam lebih dalam ke alam makna. Kau bisa menulis apa pun yang mampu memengaruhi mereka untuk tidak lagi melakukan perusakan di atas bumi."

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: